Song : Katakan - Jaz🎶
***
Bukan jarak yang memisahkan kita, tapi ego.
🌈
Sepi. Satu kata yang menggambarkan keadaan Gera saat ini. Cika ikut olimpiade Biologi saat ini. Jadi, Gera terpaksa sendiri tanpa ada yang menemani. Menyesal? Ya, jelas. Ikut olimpiade termasuk dalam tujuannya saat memasuki jenjang pendidikan SMA. Memang ya, penyesalan selalu datang belakangan. Ia benci karena hal itu benar.
Memang, Gera menyukai sepi. Tetapi, jika sering ditemani. Maka akan lupa bagaimana rasanya sepi. Membuat Gera jadi tak nyaman dan merasa canggung. Begitulah yang Gera rasakan sekarang. Terbiasa dengan Cika membuatnya lupa rasanya sepi. Berdua membuatnya takut untuk sendiri. Terdengar lebay memang, tapi begitulah adanya.
Seperti hari-hari sunyi. Gera terduduk di pembatas tembok di rooftop sekolah. Menatap langit yang sangat ia rindukan. Menggores buku dengan tulisan yang terbatin dalam hatinya. Terbayang dibenak, membayangkan, merasakannya.
"Gerati Agustri."
Seseorang memanggil dengan sebutan nama lengkapnya. Heran. Ia berbalik badan, ingin mengetahui siapa. Yang jelas ia tau, itu suara cowok.
Luthfi tersenyum tatkala mata mereka saling tatap. Gera mengernyitkan dahi bingung. "Ngapain lo kesini?"
"Meminta jawaban," jawab Luthfi to the point.
"Lo orang asing dan akan selalu seperti itu," ketus Gera.
Luthfi tersenyum miring. "Untuk saat ini memang, namun tak lama lagi. Gue bakal jadi orang yang berarti dihidup lo."
"Kak Luthfi, lo sendiri kan yang bilang gak akan maksa gue?" ketus nya
"Gue gak akan maksa kalau lo belum jujur."
"Gue udah jujur. Gue nolak lo, okey?
"Eits, kayaknya gue lupa kasih syarat buat lo."
"Maksud lo?"
"Kalau lo nolak gue, lo harus nyatain perasaan lo ke Fito. Yah, kalaupun gak lo nyatain, gue bakal bilang. Jadi, lo serius buat nolak gue?" tanya Luthfi dengan percaya dirinya
"Jangan bikin dia berharap sama gue," ketus Gera sambil menyipitkan matanya
"Kenapa? Lo takut dia tersakiti?" tanya Luthfi tepat sasaran.
"G.. gue..."
"Yah, kalau lo gak mau, dia tersakiti. Mending sama gue aja."
"Udah gue bilang 'kan? Gue gak mau," tukasnya.
"Okey. Gue telfon aja Fito sekarang, lalu bilang, kalau lo mencintai dia."
"Gue cuma mau jaga perasaan nya," tegas Gera.
"Kalau lo cuma mau ngejaga perasaannya? Kenapa lo tolak dia? Apa gak menyakitkan bagi dia?"
Luthfi terus-terusan membuat Gera tersudutkan oleh pertanyaan itu.
Gera hanya bisa terdiam tanpa menjawab. Ia membatin dalam hati. Duh, gimana dong ini. Gue gak mau, tapi kalau di tolak, takut bikin Kak Fito berharap lagi sama gue. Kalau gue terima, gue takut, waktu membuat gue suka sama dia. Pada akhirnya, gue terluka lagi. Ya Tuhan, gue gak bisa milih.
Melihat Gera yang terdiam lama, Luthfi tersenyum. "Gimana? Ya atau enggak?"
Gera mengangguk pasrah. Menurut Gera, itu lah keputusan terbaiknya. Ia tak ingin Fito berharap lagi padanya. Ia biarkan status itu ada, dan sebisa mungkin Gera tak akan jatuh hati pada Luthfi. Pasti. Ia ikutin permainan ini. Ia tahu pasti, Luthfi jelas tak menyukainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Grafi [End]
Novela Juvenil[DILARANG KERAS BAGI YANG MAMPIR CUMA UNTUK COPAS!] Jika para reader yang liat cerita yang copas grafi, langsung lapor ya^^ Jangan lupa follow author ya^^ Rank : #1 Fito 5 Juli 2020 #2 Gera 5 Juli 2020 #4 Brokenhurt 7 Juli 2020 #1 Fito 20 September...
![Grafi [End]](https://img.wattpad.com/cover/186343673-64-k628536.jpg)