***
Pada kenyataannya, melepaskanmu bukanlah kuasa ku.
🌈
Malam minggu yang tenang, keluar sendirian, menikmati dingin dan indahnya bintang. Hanya Gera yang begitu, disaat teman-temannya pergi bersama gandengannya. Ia memilih untuk pergi sendiri dengan berjalan kaki, sambil sesekali mendongak ke atas. Aneh memang, namun ia tak peduli. Terserah apa dikata orang, ia hanya ingin melakukan apa yang ia inginkan.
Terhenti sejenak, ia meyakinkan kalau yang ia lihat sekarang adalah salah. Namun, kenyataan yang ia lihat memang benar. Fito dengan bersama cewek di sebuah taman. Mereka saling bercanda satu sama lain.
Tangan Gera mengepal. Ia berusaha untuk pergi, namun kakinya tak bisa diajak kompromi. Entah apa maksudnya, ayolah, Gera hanya ingin tak terluka lagi. Tapi, kenapa yang ia lakukan ini hanya membuat luka di hatinya makin menganga?
Gera menahan napas. Ia mencoba untuk tegar. Ia mengigit bibir bawahnya, menahan tangisannya.
Fito meliriknya, sontak ia langsung kabur, lari sekencang mungkin. Ya, ia sekarang sama saja lari dari kenyataan. Pada akhirnya, yang lama terulang. Hatinya yang rapuh, kian rapuh.
Ditempatnya, Fito mencoba untuk tak mengejar. Menahan kakinya yang gatal ingin berlari menghampiri Gera. Ayolah, dia ingin move on, kenapa kakinya malah susah diajak kompromi?
Darya yang melihat keanehan dari Fito pun, berkata, "Lo kenapa, To?"
"Gak, cuma... Mau ke toilet bentar." Fito berdiri dari duduknya. Kemudian berlari mengejar Gera yang hatinya entah untuk siapa. Ada kehampaan yang meradang didalam hatinya sejak tanpa adanya Gera. Di paksa jadi asing oleh orang yang disayang sangatlah menyakitkan. Berusaha untuk tegar, meski didalam hati telah ada luka yang mengaga lebar. Sakit namun tak berdarah.
Gera terhenti sambil memegangi kedua lututnya. Ia mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Ia menoleh kebelakang, namun tak ada seorang pun yang mengejar. Mengapa ia bodoh sekali? Sudah jelas, Fito sudah bersama yang lain, lalu ia berharap Fito mengejarnya? Egois sekali. Ia sudah melukai hati pemuda itu. Sudah pasti, Fito membenci Gera. Pasti.
"Ra!" Teriakan itu seketika membuat Gera menegang sejenak. Mengapa?
"Gue tau, gue bego. Berharap sama seseorang yang udah jelas hatinya buat siapa. Tapi, gue gak bisa bohong. Gue muak harus berpura-pura." Fito mengeluarkan semua yang ia pendam. Tak peduli penolakan untuk kedua kalinya. Terserah apa yang terjadi, setidaknya dirinya telah berjuang.
Gera membeku ditempat, bibirnya tertutup rapat. Namun, matanya terasa perih, begitupula dadanya yang kian naik turun.
Setelah itu...
"Ra!"
Suara itu menyadarkan Gera pada khayalannya. Ia menampar pipinya, membiarkan ia sadar sepenuhnya. Sialan! Kenapa bisa gue ngayal ngibul kaya begini?
Ternyata, yang ia lihat itu bukan Fito. Namun, pasangan lain yang sedang kasmaran.
Setelah sadarnya datang sepenuhnya, ia menatap orang yang memanggilnya itu. Ia mengernyitkan dahi sambil berdecak pelan.
"Apa?" ucap Gera dengan datar.
"Bego." Luthfi mengatakannya dengan santai, seolah-olah ucapannya itu tak ada masalah sama sekali.
Gera melototkan matanya. "Maksud lo?!" ucap Gera tak terima.
"Ngehalunya di kurangin ya, dek! Mimpi mulu, bangun cepet! Ini bukan sinetron." Sindiran halus itu sangat menyakitkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Grafi [End]
Jugendliteratur[DILARANG KERAS BAGI YANG MAMPIR CUMA UNTUK COPAS!] Jika para reader yang liat cerita yang copas grafi, langsung lapor ya^^ Jangan lupa follow author ya^^ Rank : #1 Fito 5 Juli 2020 #2 Gera 5 Juli 2020 #4 Brokenhurt 7 Juli 2020 #1 Fito 20 September...
![Grafi [End]](https://img.wattpad.com/cover/186343673-64-k628536.jpg)