***
"Kebersamaan dengan keluarga memang kebahagian yang sederhana, namun sulit terjadi."
🌈
Terik mentari mulai hinggap disela-sela jendela kamar Gera. Namun, hal itu tak berpengaruh pada Gera yang terlelap puas di ranjang nya.
Ceklek.
Gio memasuki kamar adiknya. Ia menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat betapa kacaunya keadaan Gera saat tidur. "Ya Allah, Ra. Lo cewek atau cowok sih? Tidur aja gak ada cantik-cantik nya," gumamnya.
Gio berjalan meraih gorden jendela kamar Gera, memberi celah-celah cahaya yang hinggap tadi menjadi bebas memasuki kamar Gera.
Gera menggeliat saat cahaya matahari menerpa wajahnya.
"Woi! Bangun gak lo! Udah jam 9 pagi ini. Astaghfirullah. Mimpi apa gue semalem punya adik cewek satu, tapi tingkah kek cowok gini. Ckckck," omel Gio.
"Berisik banget sih, Bang!" Matanya masih terpejam dan masih berbaring di ranjangnya. Itu membuat Gio semakin gemas.
Gio mendekati Gera, lalu ia duduk ditepi ranjang. "Bangun gak lo?! Gue cubit nih? Sampe mampus?!" ancam Gio.
Belum sempat Gera menjawab, Gio telah mencubit pipi gembul Gera dengan gemas, sehingga gadis itu berteriak-teriak kesakitan.
"ARGHH, SAKIT BANG!" teriaknya.
Gio menghentikan cubitannya. "Kalau lo gak duduk-duduk sampe hitungan ketiga. Gue cubit lagi, nih! Mau?" ancam kakaknya itu yang membuat mata Gera langsung melek.
Gera langsung bangkit dari tidurnya, ia terduduk sambil mengucek-ucek matanya. "Jangan di kucek gitu matanya. Sakit tu mata, lo mau rabun? Gue sih ogah," cetus Gio.
"Ck, sejak kapan lo peduli sama gue?" ketus Gera.
Gio membelalakkan matanya. "Heh, adik gak tau di untung. Cuma gue yang peduli sama lo tau! Sok iye lo, anjir!" gerutu Gio sambil menjitak kepala adiknya itu dengan gemas.
Gera mengusap kepalanya yang kena jitak. "Au ah, Ara ngambek!" seru Gera sambil mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.
Gio terkekeh geli. "Jijik, woi! Udah gede gini kelakuan kayak anak SD. Malu dong sama anak SD yang udah punya pacar," ledek Gio sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Bodo amat!" ketusnya.
"Ya udah, sono mandi!" perintah Gio.
"Mau aja sih, tapi setelah mandi, kita ke McD ya?" pinta Gera dengan mata yang berbinar-binar ingin dituruti.
"Ogah! Perut karet! Lo sekalinya makan banyak bener. Bisa bangkrut lah gue," tolak Gio.
"Please. Ayo lah, Bang! Sekali ini aja. Lagian kan, kita udah jarang banget jalan-jalan keluar."
Gio menggeleng, kekeuh menolak ajakan tersebut.
Gera pun, kekeuh dengan apa yang ia pinta. Gera selalu punya segala cara untuk meluluhkan perasaan kakaknya itu.
"Ayolah, Kak Gio yang gantengnya melebihi Shawn Mendes." Mata Gera yang berbinar seperti anak kucing di mata Gio, membuatnya tak tega untuk menolak ajakan tersebut.
"Ck, iya-iya. Mandi sana, ah! Lo bau!"
"Yey!! Makasih, Abang! Rara sayang, Abang!" Gera tersenyum senang lalu mencubit gemas pipi Gio.
"Yee, pas dibeliin makan langsung disayang. Kampret, lo emang!" ketus Gio sambil mengusap pipinya yang terasa perih. "Tangan lo emang gak pernah bisa dikontrol ya! Cubit aja bisa sesakit ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Grafi [End]
Novela Juvenil[DILARANG KERAS BAGI YANG MAMPIR CUMA UNTUK COPAS!] Jika para reader yang liat cerita yang copas grafi, langsung lapor ya^^ Jangan lupa follow author ya^^ Rank : #1 Fito 5 Juli 2020 #2 Gera 5 Juli 2020 #4 Brokenhurt 7 Juli 2020 #1 Fito 20 September...
![Grafi [End]](https://img.wattpad.com/cover/186343673-64-k628536.jpg)