***
Terkadang, kita perlu jatuh berkali-kali agar bisa berjalan dengan baik. Jadi, jika kamu jatuh. Kamu boleh menangis, namun, cepatlah bangkit. Masih banyak kesempatan lain yang menunggumu.
🌈
Setelah bersiteru dengan dirinya sendiri, Gera memutuskan untuk mengikuti keinginan Luthfi.
Cika memperhatikan gerak-gerik Gera. "Ciee, yang mau pulang bareng Kak Luthfi," godanya sambil menyenggol lengan Gera.
Gera menatap Cika dengan datar. "Daripada ngatain gue, mending lo pulang sana!" seru Gera yang mulai kesal. "Radit mana? Tumben gak nungguin lo?" tanyanya setelah memperhatikan kelasnya yang sepi.
Gera berdiri, beranjak dari bangkunya, lalu menyamai langkah kakinya dengan Cika.
"Gak tahu dan gak mau tahu!" seru Cika sambil berjalan berdampingan dengan Gera. "Lagian, males aku tu, sama dia mulu," lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Makanya nyatain perasaan lo ke Kak Draka sana! Cinta dalam diam. Ntar, kelamaan jadi basi," cibir Gera.
"Aish. Iri ae lo!" seru Cika sebal.
"Gak iri, Cik. Cuma mau ngingetin. Soalnya, gue udah pernah kayak gitu. Belajar dari pengalaman. Eaa," ucap Gera bangga.
Mereka berdua sampai di depan pintu kelas, namun pembicaraan ini membuat mereka enggan pergi.
"Cih, gak ngaca. Lo aja malah ngindar dari para cowok. Itu yang namanya belajar dari pengalaman?" seru Cika kesal.
Jlebb
"Move on dong zheyeng. Jangan jadikan masa lalu menghambat datangnya masa depan lo. Hati lo berhak dapat yang baru. Lagian, masa lalu lo udah bahagia sama yang lain. I'm right?" lanjut Cika memojokkan Gera.
Jlebb
"Iya, iya. Dasar bucin." Gera rolling eyes, lalu berbalik badan pergi menemui Luthfi.
Cika menatap punggung Gera sambil membatin.
Raa.., Ra. Sampe kapan lo mau ngindar? Padahal ada dua cogan yang mau sama lo. Lo tuh polos apa bego sih?
🌈
Langkah kaki Gera terdengar di koridor sekolahnya yang mulai sepi. Sebagian orang, sedang melakukan aktivitas ekskul di kelasnya masing-masing.
Mata Gera menelaah setiap kelas atau tempat yang ia pijaki sekarang.
"Ge!" panggil seseorang kepada Gera, hanya satu orang yang sering memanggilnya demikian. Relyan. Tak salah lagi, karena Gera bisa melihat Relyan yang tengah berjalan bersama Arya. Relyan menghampiri Gera yang menatapnya penuh tanya.
"Apaan?" tanya Gera heran.
"Enggak ekskul voli lo? Udah gue bilangin loh di kantin tadi. Masa lo lupa?" tanya Relyan bertubi-tubi.
"Hah? Oh iya, lupa gue." Gera menepuk dahinya.
"Ya udah, bareng gue aja, kebetulan gue belum tukar baju." Relyan menangkap tangan Gera dan menariknya. Arya meninggalkan Relyan dengan Gera.
Lagian, Arya juga termasuk anggota ekskul voli. Ia pun, belum memakai seragam voli, jadi ia berjalan ke arah lokernya mengambil seragam itu. Bukan cuma Arya, tetapi juga dengan sahabatnya yang lain.
"Eh, tapi-" Gera menahan tarikan tangan Relyan.
Dengan cepat Relyan memotong ucapan Gera. "Gak ada tapi-tapi-an. Ntar telat loh. Lo mau dihukum Pak Erya? Gue sih, ogah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Grafi [End]
Novela Juvenil[DILARANG KERAS BAGI YANG MAMPIR CUMA UNTUK COPAS!] Jika para reader yang liat cerita yang copas grafi, langsung lapor ya^^ Jangan lupa follow author ya^^ Rank : #1 Fito 5 Juli 2020 #2 Gera 5 Juli 2020 #4 Brokenhurt 7 Juli 2020 #1 Fito 20 September...
![Grafi [End]](https://img.wattpad.com/cover/186343673-64-k628536.jpg)