Sebelum Vian dan Shasa mendekat ke arah mereka, Radin menarik lengan Athala untuk menjauh dan kembali dengan yang lain di halaman belakang. Dan Athala tidak menolak, lagi pula Athala tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat Shasa melewatinya nanti.
Di sisi lain Vian menangkap senyum Thalita yang menyambutnya saat mereka masuk tadi. Thalita mencoba terlihat biasa saja, meski dalam dirinya ada perasaan tak suka yang bergemuruh rendah. Thalita tahu jika Vian memang hanya menganggapnya teman tanpa perlu Thalita mendeklarasikan perasaannya lebih dulu.
"Welcome Vi, makasih ya udah datang, langsung gabung aja ya," sapa Thalita pada Vian. "Makasih juga ya Sha udah datang," lanjut Thalita mengalihkan pandangannya pada Shasa yang berdiri di samping Vian.
"Happy birthday Ta," Vian memberikan kado yang dibawanya pada Thalita pun dengan Shasa.
"Selamat ulang tahun Ta, i hope all the best for you," ucap Shasa yang kini memberikan sebuah pelukannya pada Thalita.
"Aamiin, Makasih, Sha," balas Thalita. "Yuk gabung sama yang lain, bentar lagi kita mulai acaranya."
Thalita menarik tangan Shasa bersamanya untuk bergabung dengan yang lain. Di halaman belakang rumahnya kini sudah ramai. Seorang pembawa acara yang adalah sepupu Thalita pun sudah siap dengan sebuah mikropon di tangannya dan sebuah kertas di tangan lainnya.
Beberapa kali terdengar suara berat dari speaker di dekat panggung saat lelaki tersebut menepuk kepala mikropon tersebut dengan tangannya Seakan meminta perhatian tamu disekitarnya.
"Okkk, selamat malam semuanyaaa," ucap lelaki itu dengan suara khasnya yang penuh semangat. Dia kini menampilkan senyumnya yang membuat beberapa perempuan di sana melengkingkan suaranya setelah menjawab sapaan lelaki itu.
Dia mulai menyampaikan tujuannya berbicara di depan sana dan maksud acara yang diadakan malam ini dengan begitu antusias, tapi entah kenapa Vian malah tidak fokus. Pandangannya malah menyelusuri sekitar mencari seseorang diantara kerumunan orang di sana.
Dia mencari Radin, lebih tepatnya seseorang yang pergi dengan Radin ke tempat ini. Athala. Dan di meja dekat prasmanan Vian menemukan keberadaannya.
Athala dengan gaun berwarna peach yang dikenakannya. Gadis itu sedang tersenyum merespons goyonan yang dilakukan pembawa acara tadi. Senyum manis yang membuat Vian selalu merasa seperti ada kupu-kupu mengelitik perutnya saat melihat itu. Seperti magnet yang mampu menarik lengkung pada sudut bibirnya.
Dan Shasa memperhatikan ekspresi Vian sejak tadi di sampingnya. Shasa tahu alasan senyum itu adalah Athala.
***
Tepuk tangan memenuhi tempat tersebut begitu Thalita berhasil memadamkan api pada lilin di depannya.
"Woww tiupan yang luar biasa dari seorang Thalita," ucap si pembawa acara tersebut dengan nada kocak menirukan reporter sepak bola yang sontak saja mengundang gelak tawa orang-orang disekitarnya.
"Ok selanjutnya potong kue," ucapnya dia kini mengambil sebuah pisau plastik di atas piring kecil samping kue ulang tahun. "Potongnya pelan-pelan ya mbaknya, biar mulus dan sempurnaa," lanjutnya jenaka dan mendayu sambil memberikan pisau itu pada Thalita.
Jika tidak ingat ini ulang tahunnya Thalita mungkin sudah menjitak sepupunya itu. Perlahan permukaan gerigi pisau tadi menyentuh whippedcream putih kue di depannya hingga mencapai alas kue tersebut dan kemudian Thalita memindahkannya pada piring kecil yang sudah disediakan di dekatnya.
"Suapan pertama kuenya mau dikasih kesiapa nihhh," ucap sepupunya itu.
Di tempatnya Athala sejak tadi memperhatikan prosesi tiup lilin hingga potong kue terebut. Meski sesekali pandangannya teralih pada sosok Vian di dekat Shasa dan pada Satrio yang kini berdiri di dekat Thalita bersama orang tuanya.
Dan suapan pertama Thalita berikan pada orang tuanya. "Selanjutnya siapa lagi nihhh, orang yang paling spesial doang ya pastinya," goda sepupunya itu pada Thalita.
"Cowok paling spesial," ucap Thalita ikut melanjutkan. "Dia itu laki-laki paling spesial di hidup gue setelah Ayah," lanjut Thalita.
Dan pikiran bodoh Athala saat itu malah mengarah pada Vian. Athala sebodoh itu tentu saja.
"Kak Satrio," Thalita melirik pada Satrio yang berdiri di samping kanannya. Dia berjalan mendekat pada kakaknya itu. Dan sebuah suapan kue mendarat dimulut Satrio. Pelukan hangat langsung diberikan Satrio pada Thalita. Adik perempuannya yang luar biasa dia sayangi.
***
Athala sedang menikmati hidangan yang tadi dia ambil setelah inti acaranya selesai beberapa saat yang lalu. Sekarang mereka sedang menikmati hiburan yang berikan oleh beberapa teman Thalita yang sedang tampil di panggung.
Pikiran Athala masih sedikit kacau sebenarnya, tapi dia coba untuk tidak peduli dengan masalahnya. Toh hanya hal sepele seperti itu kenapa Athala harus pikirkan berlebihan.
"Mau gue ambilin lagi gak Thal? Sekalian nih?" tawar Radin. Sudah yang keberapa kali Radin menambah makanannya membuat Athala geleng-geleng kepala.
"Lo aja deh, gue kenyang Rad."
"Yakin?"
"Serius kenyang."
"Gak nyesel?"
"Gak."
"Ok gue ngambil makanannya lagi kalo gitu," ucap Radin dan berlalu menuju meja prasmanan sedangkan Athala sibuk dengan ponselnya. Dia mencoba mengirimkan pesan pada Shasa. Memberitahukan bahwa dirinya berada dua meja dari tempat Shasa, tapi tidak ada jawaban apapun dari Shasa padahal Athala sempat melihat Shasa sedang memainkan ponselnya.
***
"Sekarang kita dapat penampilan spesial nih guys dari Kak Satrio, katanya dia mau bawain lagu buat seseorang, hmm keren banget gak sih," ucap Sepupu Thalita membuat semua yang ada di sana langsung heboh kembali.
Athala yang tadi mendengar nama lelaki tersebut langsung menoleh ke sumber suara. Satrio kini sudah ada di atas panggung kecil tersebut, siap dengan gitar dipangkuannya.
Sejak datang tadi Athala belum mengobrol langsung dengan Satrio, dia hanya melihat Satrio saat Thalita bersama keluarganya di acara tiup lilin dan potong kue tadi.
"Selamat malam," ucap Satrio menunjukan senyum hangatnya.
"Malam," balasan serempak mereka yang kini tak lepas memandang ke arah Satrio. Termasuk Athala.
Satrio terlihat tampan dengan setelan jasnya itu karena beberapa perempuan di sana kini mulai berbisik membicarakannya.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih buat semuanya yang sudah hadir di acara ulang tahun adik saya," ucap Satrio melirik pada Thalita dengan tatapan yang seakan mengatakan bahwa dia meminjam acara adiknya itu sebentar yang diangguki oleh Thalita karena dia mengerti maksud tatapan kakaknya itu.
"Dan lagu yang akan saya bawakan ini untuk seseorang yang special, dia gadis yang baik, pintar dan... saya suka senyumnya," lanjut Satrio, tatapan matanya kini mengarah pada seorang perempuan yang sedang duduk di salah satu meja bundar di depannya.
"This song for you, Athala Kirania."
Deg...
Jantung Athala rasanya berhenti untuk sesaat begitu Satrio menyebutkan namanya. Ditambah sorakan heboh dan tatapan mata yang kini tertuju padanya membuat Athala seakan menjadi pusat perhatian ditempat itu.
Athala tidak tahu harus berbuat apa sekarang dan diantara semua tatapan itu Vian juga salah satunya yang menatap ke arah Athala dengan sorot penuh tanya.
-Adore You-
KAMU SEDANG MEMBACA
Adore You [Completed]
Lãng mạnBagi Athala menyukai seseorang secara diam-diam adalah pilihan terbaik. Bukan karena dia tidak ingin menunjukan atau mengungkap hal tersebut. Melainkan karena Athala tidak berani melakukannya. Tentu Athala terlalu pengecut untuk hal itu, terlebih co...
![Adore You [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/89889247-64-k361110.jpg)