AY. 36

530 44 1
                                        

Pancaran air yang ditambah dengan sorat warna-warni lampu membuat air mancur tersebut tampak indah. Alunan music tradisional khas sunda juga ikut mengiringi penampilan air mancur yang sedang mereka saksikan.

Pesona yang begitu luar biasa, Athala bahkan tidak menyangka di kotanya terdapat pertunjukan wisata seperti itu karena memang ini adalah kali pertama Athala menyaksikannya.

Sesekali Vian melirik pada Athala, pandangan Athala tidak teralih sedikit pun pada keindahan yang sedang disaksikannya. Saking antusias dan kagumnya beberapa kali Vian mendengar Athala bergumam tentang betapa bagusnya pertunjukan air mancur tersebut. Namun sayangnya bagi Vian malam itu Athala lebih menarik ketimbang air mancur.

Riuh tepuk tangan langsung terdengar begitu pertunjukan selesai. Semua yang menyaksikan tampak puas dengan pertunjukan tersebut. Beberapa langsung mengobrol dan melihat hasil rekaman video yang mereka abadikan. Begitupun dengan Athala. Tadi dia sempat memerekam juga dengan ponselnya.

"Bagus banget ya Vi," ujar Athala memperlihatkan hasil rekamannya pada Vian yang kebetulan memang berdiri di sampingnya.

"Cantik."

"Air mancurnya emang cantik banget," timpal Athala setuju. Padahal Vian bukan menilai air mancur yang Athala tunjukan.

"Lo yang cantik," ujar Vian pelan tapi masih dapat Athala dengar ditengah keramaian tersebut.

Athala terdiam, mencoba mencerna dan meyakinkan dirinya jika mungkin Athala salah dengar tadi. Dengan ragu dia mendongakkan kepalanya pada Viand an sebuah senyum manis langsung menyambutnya dari wajah yang sangat sering Athala perhatikan diam-diam itu.

Untuk beberapa detik yang terasa lama pandangan mereka bertemu, menghalau semua keramaian yang ada disekitar. Diterangi remang lampu taman sebagai pencahayaan malam. Athala masuk semakin dalam pada pesona Vian dan begitupun sebaliknya. Akhirnya Vian mengerti, detik itu dia tahu jika dirinya telah jatuh pada perempuan di depannya tersebut. Athala Kirania.

"Ekhmm." Entah sudah berapa kali Saka berdehem untuk memberikan kode pada dua orang di depannya itu, tapi nyatanya mereka berdua seakan asyik dengan dunianya sampai tidak mendengar kode yang Saka buat. Saka jadi gemas sendirikan karenanya.

"Ya Allah jauhkan hambamu ini dari kebucinan teman hamba," celetuk Saka akhirnya dengan suara yang sengaja dikeraskan sampai-sampai orang disekitar mereka ikut memperhatikan tingkahnya.

Mendengar itu akhirnya Athala dan Vian tersadar dan buru-buru mengalihkan pandangan mereka kea rah lain. Pipi Athala memanas tapi untung saja cahaya lampu disana tidak cukup untuk menampakan semburat merah tersebut.

Thalita menahan tawanya karena tingkah konyol Saka ditambah Safira yang langsung melayangkan pukulan tepat di perut Saka setelahnya membuat Saka mengaduh kesakitan.

Thalita tidak akan memaksakan perasaannya sejak awal, dia akan membiarkan Vian dengan pilihanya. "Udah-udah, kita cari makan duluan aja gimana?"

"Nah iyah, Thala, Vian kita cari makan duluan, gpp kan?" Dion menambahkan. Dia tau sepertinya Athala dan Vian membutuhkan waktu berdua malam ini.

Baru saja Athala akan menolak, tapi Vian lebih dulu menjawab. "Ok, gue sama Athala nanti nyusul."

Dion mengangguk dan pamit lebih dulu dengan yang lain disaat mata Athala membulat kaget dengan jawaban dan tindakan Vian yang kini meraih dan mengengam tangannya.

Jangan tanyakan detak jantung Athala sekarang, Athala tidak dapat mendeskripsikannya lagi lebih dari lari maraton. Faktanya Athala tidak tahu harus berbuat apa sekarang saat ditinggalkan dengan Vian hanya berdua seperti ini.

Adore You [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang