Kemarin Nayla meminta Vian untuk ke rumah dan menemaninya karena Bian sedang keluar kota untuk mengurus pekerjaannya.
Vian sih dengan senang hati menerima permintaan tersebut ditambah dia juga kangen dengan si kembar Nathan dan Nayra. Sudah hampir seminggu dia tidak bertemu dua bayi mengemaskan itu.
"Kalian kangen sama om ganteng gak?" Gumam Vian dengan nada yang dibuat seperti anak kecil sambil menjembeli pipi Nathan dan Nayra yang sedang tertidur di ranjang tidurnya. Sedangkan Kakak iparnya itu sedang sibuk mengurusi pekerjaan rumah yang lain.
"Viann, bantuin Kak Nay benar dong" Panggil Nayla dari lantai bawah. Lebih tepatnya dari halaman belakang karena Vian tidak melihat Nayla di ruang tengah.
"Iya kak?"
Benar saja Nayla sedang menjemur di belakang rumah. "Vi bantuin bikin jemuran tambahan ya? Sedikit aja sih, tinggal ngikat tambang dari sini ke sana," ucap Nayla begitu Vian menghampirinya. Dia menunjukkan salah satu sisi temboknya dan sebuah tiang lampu disisi lainnya.
Jemurannya kali ini terlalu banyak karena beberapa hari kemarin Nayla terlalu sibuk dengan pekerjaan dan si kembar dan baru sempat mengurusi pekerjaan rumah hari ini berhubung libur. Nayla memang tidak memiliki asisten rumah tangga di rumah. Semuanya Nayla lakukan sendiri dan kadang juga di bantu oleh Bian.
"Tambangnya di mana kak?"
"Di rak sepatu dekat mesin cuci, Vi. Cari aja, kalo gak salah warna ijo tambangnya."
Seperti yang dikatakan Nayla, Vian langsung mencari benda hijau itu di sana dan kembali setelah menemukannya. "Pasang dari sini ke lampu itu Kak?"
"Iya, Vi. Tolong ya," ucap Nayla dia masih sibuk menjemur pakaiannya.
Vian mengikatkan ujung tambang hijau itu pada sebuah paku yang menancap di sisi tembok dan mengatur ikatannya agar tidak mudah terlepas.
"Acara makan malam kemarin gimana Vi? Kamu suka sama perempuan yang Mama kenalin?" Tanya Nayla di tengah kegiatan mereka.
"Gak gimana-gimana sih Kak, ya gitu aja. Dia temennya Vian di sekolah."
"Oh ya? Trus gimana menurut kamu? Kamu suka?"
Vian menggeleng, "Vian udah anggap dia teman Kak. Gak lebih," jawab Vian.
"Trus soal jodoh-jodohannya kamu setuju?" Nayla kembali bertanya. Waktu itu memang Nayla tidak jadi ikut karena kurang enak badan dan Bian juga sedang sibuk.
"Vian gak tau, Kak Nay waktu itu sama Bang Bian gimana?"
"Hmmm, gimana ya. Waktu itu Kak Nay sih emang gak bisa nolak karena Kak Nay bahkan gak dikasih tahu apapun dulu dan baru di jelasin saat hari H-nya. Ya mau gimana lagi gak mungkin Kak Nay ngerusak semuanya yang udah disiapin dan jadi anak durhaka. Dan pas tahu itu abangmu ya Kak Nay kaget banget dong tapi mau gimana lagi pas itu udah terlanjut sah dan ya udah semuanya berjalan gitu aja sih," Nayla jadi teringat lagi pada hari itu yang benar-benar membuatnya kaget bukan main.
"Kalo kamu emang gak mau, bilang aja sama Mama Rahmi pasti Mamamu ngerti kok Vi. Seenggaknya kamu gak tiba-tiba langsung dinikahin kaya Kak Nay dan Bang Bian," lanjut Nayla dia melihat Vian yang sedang mengikat tali tersebut pada tiang lampu.
"Sesuatu yang dipaksakan itu kadang gak baik." Nayla mendengar helaan napas berat Vian. Entah kenapa Nayla sendiri tidak setuju dengan masalah jodoh-jodohan seperti itu. Cukup Nayla saja yang menjadi korbannya meski Nayla pun bersyukur pernikahannya dapat berjalan dengan baik meski berawal dari perjodohan. Tapi tidak semua perjodohan menjamin pernikahan berjalan baik. Apapun itu semuanya perlu persiapan.
"Oh iya gimana kabar Athala? Katanya kamu mau ajak dia kesini Vi," Nayla mengalihkan pembicaraan karena dirasa pembahasan yang tadi sudah cukup untuk diutarakan.
Vian baru saja selesai mengikat tali tersebut menjadi jemuran tambahan saat Nayla menanyakan perihal Athala padanya.
Vian memang pernah beberapa kali menceritakan tentang Athala pada Nayla dan berniat mengajak Athala untuk bertemu Nayla. Tapi hingga saat ini Vian masih belum sempat melakukannya. "Dia lagi sibuk Kak."
Mengingat Athala membuat Vian jadi teringat tentang diskusi mereka saat itu. Vian hampir tertangkap basah memperhatikan Nayla yang sedang menjelaskan soal dan jujur itu membuat Vian malu.
"Padahal Kak Nay nungguin lho, pengen tahu gitu yang mana Athala itu, kok bisa bikin kamu senyum-senyum gitu," kekeh Nayla mendapati Vian mengulum senyumnya.
Vian protes tak terima, "Apaan sih Kak!"
"Senyum-senyum gitu apaan lagi emang kalo bukan lagi jatuh cinta?" Tanya Nayla dengan nada mengoda dan membuat semburat merah muncul tanpa Vian sadari di pipinya yang terasa memanas.
"Pipimu kaya cewek ya Vi kalo malu gitu, jadi pink." Nayla tidak tahan untuk melepas tawanya melihat perubahan Vian saat membahas tentang Athala. Adik iparnya itu menyukai Athala, Nayla tahu itu.
Tingtongg....
Baru saja Vian akan mengelak bunyi bel rumah menghentikannya dan Nayla memberi kode agar Vian membukakan pintu lebih dulu.
"Maaf Vi bukain dulu ya, ini Kak Nay tanggung dikit lagi yang di ember ini."
Dan kemudian Vian berlalu untuk membukakan pintu depan. Suara ketukan beberapa kali terdengar diikuti ucapan salam dari orang dibalik pintu tersebut.
Klek...
Pintu itu terbuka dan menampilkan seorang perempuan tengah berdiri di sana dengan membawa sebuah kotak ukuran sedang ditangannya.
Dia sebelumnya menunduk sampai suara Vian mengintrupsinya. "Waalaikumsalam, ada perlu apa ya?" Tanya Vian dia masih belum menyadari jika perempuan di depannya itu adalah perempuan yang tadi menjadi obrolannya dengan Nayla.
Tubuh Athala seketika menengang. Dia kenal betul suara itu dan dengan memberanikan diri dia mengangkat kepalanya dan mendapatkan Vian kini berdiri di depannya dengan wajah terkejut.
"Athala?"
"Vi-vian ehm i-ini gue bawa pesanannya Kak Nayla," jawab Athala tergagap. Dia sebenarnya bingung kenapa Vian bisa berada di rumah Nayla. Begitupun dengan Vian dia tidak tahu jika ternyata Athala ternyata mengenal Kakak Iparnya.
"Oh iya bentar ya gue panggil dulu Kak Nay."
Baru saja Vian akan kembali ke belakang Nayla sudah lebih dulu datang. "Siapa Vi?" Tanyanya menghampiri Vian dan Athala.
Melihat Athala disana Nayla langsung berseru, "Oh Kiran, antarin pesanan kue kan?" Nayla tampak tidak terkejut sama sekali dan membuat Vian bingung.
"Masuk dulu yuk, Kak Nay ambil dulu uangnya," ucap Nayla dia mempersilakan Athala masuk setelah menerima kotak persegi yang tadi dibawa Athala.
"Kiran tunggu di luar aja Kak," jawab Athala tapi Nayla memaksa hingga Athala tidak dapat menolaknya.
"Kiran kenalin ini adik ipar Kak Nay, namanya Vian," ucap Nayla setelah mempersilakan Athala duduk.
Nayla menyimpan kue tadi di ke dalam kulkas sebelum berlalu ke kamarnya untuk mengambil uang. "Kalian ngobrol aja dulu ya."
Dan Nayla pun berlalu menuju kamarnya menyisakan tanya dalam keheningan yang tercipta antara Vian dan Athala.
Kenapa Nayla memanggil Athala dengan Kiran? Itu salah satu pertanyaan yang muncul di benak Vian.
Vian adik dari Kak Nay? Batin Athala disaat bersamaan.
-Adore You-
KAMU SEDANG MEMBACA
Adore You [Completed]
Roman d'amourBagi Athala menyukai seseorang secara diam-diam adalah pilihan terbaik. Bukan karena dia tidak ingin menunjukan atau mengungkap hal tersebut. Melainkan karena Athala tidak berani melakukannya. Tentu Athala terlalu pengecut untuk hal itu, terlebih co...
![Adore You [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/89889247-64-k361110.jpg)