Vian memarkirkan motornya di salah satu toko kue langganan Mamanya dan Nayla. Tadi Thalita meminta rekomendasi Vian tentang tempat kue yang enak, maka dari itu Vian membawa gadis itu ke tempat ini.
Thalita menyerahkan helm yang tadi digunakannya pada Vian, merapikan rambutnya yang sedikit kusut karena helm tersebut.
"Yuk," ajak Vian setelah dia meletakan helm mereka di motor dan memastikannya aman. Lagipula ada tukang pakir yang akan menjaga helmnya dan Vian sudah mengenal Bapak tersebut.
Begitu masuk ke dalam toko tersebut, aroma butter menguar dari seluruh sudut ruangan. Benar-benar wangi yang mengungah selera. Di etalasenya tampak berbagai jenis keik yang terlihat sangat lezat dengan berbagai hiasan berbeda. Thalita dibuat terpesona untuk pertama kalinya dengan tempat ini.
"Its really amazing, Vi. Wanginya bener-bener bikin gue betah dan pengen nyicip tiap keik di sini," ujar Thalita yang sedang melihat-lihat etalase berisi cheese cake.
Vian hanya tersenyum menanggapinya, tapi selama satu tahun Vian sekelas dan lumayan dekat dengan Thalita, Vian baru kali ini terpesona dengan senyum Thalita. Bahkan tadi saat di kantin Vian rasa senyum gadis itu tak secerah saat ini.
"Vian yang ini gimana bagus gak?" Tanya Thalita tapi tidak ada jawaban dari Vian.
"Vian?" Thalita berbalik dan mendapati Vian sedang melamun di tempatnya. "Lo ngelamunin apa, Vi?"
Sebuah jentikan jari di depannya membuat Vian sedikit terperanjat kaget, tapi buru-buru dia mengendalikan dirinya. "Eh ada apa, Ta?"
Dalam hati Vian berharap semoga Thalita tidak menyadari dirinya melamun.
"Ini gimana menurut lo? Lemon Cheese cake?" Thalita tahu jika Vian tidak ingin dia bertanya tentang hal tadi jadilah Thalita tidak akan membahasnya.
"Enak, kakak ipar gue suka beli itu soalnya," jawab Vian mengingat Nayla yang suka sekali menyuruhnya membeli keik tersebut dan dia akan sangat pelit jika Vian memintanya.
"Ok gue beli ini kayanya," Thalita menunjuk keik tersebut dan pelayan di depannya langsung menyiapkan tempat untuk pesanan Thalita.
Setelahnya Thalita ke kasir untuk membayar kuenya dan Vian memilih untuk menunggu di depan toko karena antrian di kasir tersebut cukup panjang.
Saat Vian baru saja keluar toko tersebut ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk dari Mamanya. Cepat dia mengangkatnya. "Assalamualaikum, iya ada apa, Ma?"
"Waalaikumsalam, kamu masih di mana Vi?" Suara Mamanya terdengar dari seberang sana. Biasanya jika Mamanya menelepon pasti ada sesuatu yang diinginkan Mamanya, apalagi ini menanyakan keberadaan Vian.
"Di toko kue mah, Vian lagi antar teman. Kenapa Ma?"
"Oh dekat berarti, kalo gitu antar Mama ke rumah Kakakmu ya sekarang," pinta Mamanya.
"Sekarang banget, Ma? Vian antarin dulu teman Vian pulang ya Ma,"
"Aduh gimana ya Vi, Mama sama Kak Nay ada acara ini udah ditungguin sama yang lain. Minta temanmu pulang sendiri gimana?"
"Gak enak Ma kalo kaya gitu, masa Vian tinggalin sendiri padahal tadi bareng Vian kesininya."
"Ayo dong Vian, antarin Mama ya, masa kamu tega sih sama Mama Vi," kali ini Mamanya sudah mulai mengeluarkan jurus memohonnya yang membuat Vian hanya dapat menghela napas pasrah. "Nolak permintaan orang tua durhaka lo Vi."
Belum sempat Vian menjawab, kalimat Mama selanjutnya membuat Vian mutlak tidak dapat menolak.
"Iya Ma, Vian ke sana."
"Nah gitu dong sayang, Mama tunggu ya, assalamualaikum." Setelahnya panggilan tersebut terputus.
"Waalaikumsalam."
Vian membuang napas kasar, diintipnya dari balik jendela kaca tersebut Thalita masih mengantri di sana. Vian memang jarang pergi dengan perempuan, tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Thalita pulang sendiri padahal dia tadi sudah setuju menemani Thalita. Tapi Vian juga tidak dapat menolak permintaan Mamanya.
Sebuah ide terlintas dipikirannya, Radin. Ya Vian minta tolong saja pada Radin untuk mengantarkan Thalita pulang. Lagipula rumah Radin berada di dekat daerah itu.
Vian mencari nomor Radin di ponselnya dan tak lama saat panggilannya terhubung Radin langsung menjawab teleponnya.
"Rad, gue minta tolong dong, jemputin Thalita di Cloud Cake, toko kue yang dekat polsek," ucap Vian langsung tanpa basa-basi dan membuat Radin bingung.
"Hah? Jemput Thalita?"
"Iyah lo jemput Thalita, di cloud cake."
"Kok gue?"
"Tolonglah Rad, nyokap gue tiba-tiba telepon minta dianterin ke rumah Kak Nay. Gue gak enak sebenarnya sama Thalita, tapi ya lo tahu kan nyokap gue emang kadang gitu."
Radin yang baru sampai di rumahnya masih tidak mengerti kenapa Vian bisa berada bersama Thalita. "Lo ngapain sama Thalita disana?"
"Lo pikir di toko kue emang ngapain? Beli kue lah dodol."
"Ya gue tahu bambank, maksud gue lo ngapain jalan sama Thalita?"
"Adalah pokoknya, tapi lo bisa jemput dia kan? Nanti gue bilang dia lo jemput."
"Bisa sih, tapi besok traktir gue ya?"
Vian berdecak dan membuang napasnya pasrah, "Iya gue traktir."
"Sip, kalo gitu gue ke sana sekarang."
"Ok, Thanks ya Rad," ucap Vian tulus tapi balasan Radin justru membuatnya ingin menarik kembali ucapan terima kasihnya.
"Iya sayangg, apa sih yang enggak buat kamu."
"Najis anjir, kagak jadi gue traktir!"
"Eh iya-iya, santai dong jangan baperan gitu kali Vi. Udah ah gue ke sana. Bye." Setelahnya Radin memutuskan sambungannya. Dasar Radin jika mendengar traktir saja dia sesemangat itu.
Kembali Vian mengecek ponselnya, kali ini mencari nomor Thalita.
RavianTnwjy
Ta, maaf ya kayanya gue pulang duluan, nyokap gue telepon ada perlu katanya. Gue udah minta Radin buat anterin lo pulang. Nanti dia jemput lo ke sini. Sekali lagi sori ya Ta.
-Adore You-
KAMU SEDANG MEMBACA
Adore You [Completed]
Roman d'amourBagi Athala menyukai seseorang secara diam-diam adalah pilihan terbaik. Bukan karena dia tidak ingin menunjukan atau mengungkap hal tersebut. Melainkan karena Athala tidak berani melakukannya. Tentu Athala terlalu pengecut untuk hal itu, terlebih co...
![Adore You [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/89889247-64-k361110.jpg)