AY. 7

1.4K 97 7
                                        

Athala masuk ke dalam kamarnya setelah memberikan susu Gani pada Agni, dia benar-benar baru sadar penampilannya barusan saat ke minimarket. Gila. Sangat.

Rambut cepol, celana training dan sweater boboiboy bahkan sendal tidur berbulu?

Malu. Athala tidak tahu apa yang akan dipikirkan Vian dengan penampilannya. Athala memang sudah mandi, tapi dia tidak menyangka Vian akan berada di sana tadi, makanya Athala hanya asal memilih baju yang menurutnya nyaman, toh jarak minimarket dekat dengan rumahnya. Tapi kenapa harus ada Vian di sana?

Belum lagi kejadian di kasir tadi membuat Athala tambah malu dan blushing. Mbak-mbak kasir tersebut menyangka bahwa Athala dan Vian adalah pasangan muda yang baru memiliki bayi. Alasannya? Tentu saja karena Athala membeli susu formula dan Vian membeli pampers bayi. Hanya mungkin penampilan Vian lebih terlihat normal tadi, ketimbang dirinya.

"Athala bego," rutuk Athala pada dirinya sendiri. Kini tempat tidurnya sudah seperti kapal pecah karena kaki Athala tidak bisa diam mengacak-acak seprai dan selimut di sana.

Kegaduhan di kamar Athala membuat Agni yang sedang duduk di ruang tengah menghampiri kamar adiknya itu. Memastikan apa yang terjadi di sana. Sejak pulang dari minimarket tadi wajah adiknya itu merah dan langsung masuk ke kamar.

Saat masuk ke kamar Athala, Agni benar-benar dibuat kaget melihat keadaan kamar adiknya itu, padahal sebelumnya masih rapi dan tidak sekacau ini. "Astagfirullah de, kamu ini ngapain sih kaya anak kecil gitu ngacak-ngacak tempat tidur."

Sadar Kakaknya itu masuk ke kamarnya, Athala buru-buru berhenti dan merapikan penampilannya yang mulai kacau. Saat dirasa sudah lebih baik dia berbalik dan memberikan cengiran kuda pada Agni yang menatapnya tajam. "Hehe Kak Agni, kenapa Kak?"

"Kenapa? Itu lihat sekeliling kamu udah kaya kemalingan gitu," Agni kini mengambil tempat duduk di meja belajar Athala dan siap meminta penjelasan adiknya. "Kamu kenapa?"

Athala menggeleng, "Gpp." Tapi Agni tahu adiknya sedang ada apa-apa. Saat pergi tadi Athala biasa-biasa saja, tapi saat kembali? Dan ya Agni juga baru ingat kemarin Athala juga bersikap seperti ini.

"Kakak tanya kamu kenapa?"

"Thala gpp, Kak."

"Athala Kirania, jawab Kakak kamu kenapa? Kakak gak mau ya punya adik gila begini," protes Agni karena Athala bersikukuh tidak mau menjelaskan apa yang terjadi.

Athala mengigit bibir bawahnya, malu dan bingung harus mulai dari mana menceritakannya pada Agni. Sejak awal Athala memang tidak pernah bercerita masalah orang yang disukainya pada Agni dan siapapun, meski beberapa kali Athala kepergok memperhatikan foto Vian di laptopnya. "Ehmm, i-itu tadi,"

"Tadi kenapa?"

"Aduh gimana ya kak, Kak Agni janji ya jangan ketawain Thala?" Athala menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mengalihkan perhatiannya pada jemari kakinya.

Agni menghela napas panjang, menurunkan intonasi suaranya menjadi lebih lembut, "Iya Kakak janji asal kamu cerita semuanya sama Kakak," ucap Agni membuat Athala tersenyum dan merasa nyaman saat Agni melembutkan suaranya. Athala memang butuh seseorang untuk berbagi perasaannya dan Athala rasa Agni orang yang tepat untuk itu.

***

Suasana rumah Nayla masih sangat ramai hingga terdengar ke kamar atas. Kini Vian sedang berada di kamar si kembar, bermain game di ponselnya, menunggu acara tersebut bubar karena Mamanya melarang Vian untuk pulang duluan ke rumah. Rahmi memang menjadi lebih bawel pada Vian sejak Bian menikah. Mungkin karena di rumahnya kini hanya tinggal Vian.

Merasa bosan Vian meletakan ponselnya di meja, merebahkan dirinya di sofa. Saat matanya terpejam, sosok Athala malah melintas di benaknya, terlebih penampilan gadis itu tadi yang menurut Vian unik dan mengemaskan. Lucu saja, jarang sekali Vian melihat perempuan secuek itu dengan penampilannya. Bahkan sepertinya tidak ada make up yang menulas wajahnya.

Adore You [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang