Setelah sarapan dan mandi, Abigail kini sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton TV. Berhubung karena channel favoritnya tidak tersedia, akhirnya Abigail hanya menonton siaran yang ada. Sebenarnya dia sangat malas mendengar berita-berita yang menurutnya tidak penting itu, tapi daripada dia harus bercengkrama dengan George, akhirnya dia lebih memilih pura-pura tertarik dengan berita-berita itu.
Tapi beberapa menit kemudian, Abigail terpaksa harus tertarik dengan isi berita yang sedang diperbincangkan saat itu.
"Gosip mengenai Nicholas Franklin yang akan menikahi adik angkatnya, ternyata bukan hanya sekedar gosip belaka. Hal itu terbukti dari penyataan Jhon yang merupakan asisten pribadi Nicholas Franklin. Dalam konferensi pers yang diadakan tadi malam di salah satu gedung milik keluarga Franklin, Jhon mengumumkan bahwa 3 hari lagi pernikahan Nicholas dan Abigail akan dilaksanakan. Berikut cuplikannya."
Wajah wanita pembaca berita itu berganti dengan wajah Jhon yang sedang duduk di sebuah meja besar dengan ratusan microphone di hadapannya dan kilat kamera yang menyambar sana-sini, serta ratusan awak media yang dengan seksama menyimak penuturan Jhon.
"Laki-laki itu benar-benar sinting!" Teriak Abigail sambil melemparkan remote di tangannya ke layar TV milik George. Remote hancur, layar TV pecah.
George yang sudah berada di tempat itu dan juga ikut melihat berita itu, hanya tersenyum sinis melihat reaksi Abigail.
"Itu TV limited edition. Tapi kau tidak perlu menggantinya. Kau cukup menjadi pacarku emmm atau mungkin menjadi istriku. Aku akan mengumumkan kepada media, seperti yang dilakukan Nicholas." Ujar George santai sambil berjalan mendekati Abigail yang masih berapi-api.
"Kau sama sintingnya dengan Nicholas!" Seru Abigail semakin geram dan memutar badannya menghadap George.
George malah tertawa lebar. "Penyakit Nicholas memang menular."
"Aku mau kembali ke New York sekarang! Nicholas gila itu harus dihentikan!" Seru Abigail masih dengan mata berapi-api dan tatapan benci.
"Bagaimana kau menghentikannya hah?" Tanya George dengan nada menggoda sambil tersenyum senang ke arah Abigail.
"Aku akan mengancamnya." Sahut Abigail lirih dan terlihat ragu.
George semakin tertawa mengakak. "Kau yakin mau mengancamnya? Kau lupa kalau Nicholas itu rajanya mengancam? Aku saranin jangan, tidak ada gunanya. Lebih baikkau di sini saja bersamaku. Sampai hari pernikahan kalian kau tidak muncul juga, otomatis pernikahan itu batal, tanpa repot-repot mengancam Nicholas agar dia membatalkan rencananya. Kau tau kan Nicholas itu bagaimana?" George semakin mendekat kearah Abigail dan membisikkan sesuatu ditelinga Abigail. "Unstopable person." George kembali menjauhkan wajahnya."Dia saja tidak takut pada orangtuanya."
"Setidaknya aku harus mencobanya." Jawab Abigail yakin dan tidak terusik dengan saran George padanya.
"Aku penasaran dengan ancamanmu." Tanya George santai.
Abigail tampak berpikir. Dia ragu akan memberitahu George atau tidak. Sebenarnya dia sangat tidak ingin memberitahu George, tapi dia juga berharap dengan memberitahu George maka George akan mengijinkannya kembali ke New York.
Abigail menarik nafas panjang dan membuangnya. Persis seperti seseorang yang akan menghadapi sidang sengketa.
"Kam-"
"Bagaimana kalau kita bicara sambil duduk." George memotong pembicaraan Abigail yang berniat cerita sambil berdiri.
Abigail menurut. Dia duduk di sofa tempat dia duduk sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABIGAIL (TAMAT)
RomanceOPEN PO!! Nicholas Franklin. Pria berwajah tampan pewaris tunggal perusahaan raksasa asal Amerika Serikat. Hidupnya terlihat sempurna, bahkan sangat sempurna dimata orang - orang yang hanya mengetahuinya sebagai pewaris tunggal. Berbanding terbal...
