24. STRANGER? 🎡

21.8K 762 13
                                        

Jam sudah menunjukkan setengah lima pagi dan Abigail masih setia menjaga tidur Nicholas. Rasa kantuk tidak kunjung menyerangnya. Karena bosan, akhirnya dia memberanikan diri untuk melepaskan pelukan Nicholas dari tubuhnya.

Usaha Abigail berhasil. Dia berhasil keluar dari dalam pelukan Nicholas, dan untungnya lagi Nicholas tidak terbangun.

Dia bergegas menuju kamar mandi. Setelah mandi dia berencana untuk pergi menemui ayahnya diam-diam tanpa sepengetahuan Nicholas. Hari ini dia tidak ingin bertemu dengan Nicholas dulu, dia yakin Nicholas pasti akan meledeknya soal ciuman tadi subuh. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah bisa saja Nicholas membocorkan hal itu kepada orang lain! Bagaimana kalau Barbara tahu? Bagaimana kalau ayah tahu? Tidak, itu tidak bisa terjadi. Dia harus mencari cara untuk membujuk Nicholas agar mau merahasiakan kejadian memalukan itu.

***

Nicholas berusaha mengumpulkan kesadarannya. Matanya masih terasa begitu berat, namun suara bel kamarnya tidak bisa diajak kompromi. "Sialan! Siapa orang bodoh yang berani cari mati sepagi ini?" Umpatnya.

Dia segera berjalan menuju pintu dan tanpa dipersilahkan, sosok pengganggu itu langsung saja masuk ke dalam tanpa memperdulikan tatapan membunuh dari Nicholas.

"Kau mau mati George?!" Ujar Nicholas datar dan dingin sambil menahan geram.

"Tadi aku melihat Abigail buru-buru meninggalkan hotel, seperti dikejar-kejar setan." Ujar George tidak memperdulikan omongan Nicholas.

"Abigail?" Nicholas baru sadar jika dia belum melihat Abigail. "Dimana dia?" Tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.

"Dia sudah pergi." Sahut George singkat.

"Pergi kemana?" Tanya Nicholas setengah panik.

"Ya mana aku tahu." George mengedikkan bahunya. "Lagi pula kau ini aneh, kau bertunangan dengan Barbara tapi malah tidur dengan Abigail. Kau serakah Nick!" Seru George tidak terima.

Nicholas tidak memperdulikan celoteh George, dia mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Abigail. Tapi ponsel gadis itu tidak aktif. "Kemana gadis bodoh itu?" Gumamnya lirih.

"Kupikir Barbara menginap disini,ternyata tidak." George menyapukan pandangannya di seluruh ruangan mencari sosok Barbara.

"Sudah kuduga. Pasti mulut bocormu yang memberitahu Barbara di mana aku menginap." Ujar Nicholas datar.

"Dia terus memaksaku, jadi aku beri tahu saja. Toh tidak ada ruginya buatku." Jawab George santai.
"Tapi seorang Barbara membiarkan kau tidur berdua dengan Abigail di sini? Itu terlihat hampir mustahil Nick." Lanjut George.

"Aku yang memaksa Abigail untuk tidur di sini. Aku mengancam akan membatalkan pertunanganku dengan Barbara kalau Abigail tidak tidur di sini. Dan itu berhasil. Akhirnya Barbara yang minggat." Jelas Nicholas sambil tertawa puas.

"Nick?" George memberikan tatapan serius. "Semalam aku melihat kau dan Abigail meninggalkan hotel. Aku juga melihat mini drama kalian dari awal sampai akhir. Sekarang jawab dengan jujur, ada sesuatu antara kau dan Abigail?" Selidik George.

Nicholas tampak berpikir sejenak. "Ya." Jawab Nicholas mantap. "Kami bahkan sudah berciuman tadi subuh." Lanjut Nicholas santai.

"Kau baru saja membuat Adam bahagia dengan bertunangan sesuai dengan kemauannya.Adam pasti akan sangat kecewa jika mengetahui hal ini." Jelas George.

"Jadi kau harus menutup mulutmu agar Adam tidak kecewa." Sahut Nicholas enteng.

***

"Suster!" Seru Abigail panik melihat seorang perawat berjalan ke arahnya.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya perawat itu sambil tersenyum.

"Pasien di ruangan ini ke mana ya sus? Tadi malam dia masih di sini." Abigail tidak bisa menutupi wajah paniknya.

"Maksudmu Mr. Franklin?" Tanya perawat itu.

Abigail hanya menganggukkan kepalanya.

"Mr. Franklin sudah berangkat ke New York tadi jam 3 subuh. Perawatannya akan dilanjutkan disana dan itu semua atas permintaan Mr. Franklin sendiri." Jelas sang perawat.

***

BRAKK

Tubuh Abigail menabrak tubuh seorang pria paruh baya yang berpakain sangat rapi.

"Maaf aku tidak sengaja tuan." Ujar Abigail sambil membungkukkan badannya.

"Tidak masalah." Sahut pria paruh baya itu dan kembali melanjutkan langkah angkuhnya tanpa memperdulikan Abigail.

Abigail sempat melihat wajah pria paruh baya itu. Tiba-tiba Abigail mengernyitkan dahinya dan tanpa berpikir panjang dia langsung bergegas mengikuti pria paruh baya itu.

"Maaf tuan." Ujar Abigail.

Tidak ada jawaban, pria itu hanya mengernyitkan dahinya bingung melihat gadis di hadapannya.

"Emmm.... Apa kita pernah bertemu sebelumnya tuan?" Tanya Abigail gugup. Dia merasa sangat tidak asing dengan wajah pria di hadapannya. Tapi dia lupa pernah melihatnya di mana.

"Kau sering melihat saya di televisi nona." Sahut pria paruh baya itu sambil tersenyum melihat tingkah gadis itu yang menurutnya konyol.

"Tidak.. tidak.. Maksudku bertemu langsung." Jelas Abigail yang masih penasaran dengan sosok pria dihadapannya. Dia yakin sekali kalau dia pernah bertemu dengan pria itu.

"Aku sedangburu-buru nona manis." Pria itu menghembuskan nafanya pelan. "Nama saya Carlos Armstrong. Kau bisa cari tahu siapa sayadi internet kalau kau begitu penasaran." Ujarnya sambil tersenyum kearah gadis itu. Kemudian tanpa menunggu reaksi dari Aby, pria itu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Abigail yang masih penasaran.

"Carlos Armstrong?? Kenapa namanya terdengar tidak asing?" Gumamnya dalam hati setelah ditinggal sendiri . "Ah entahlah. Mungkin dia benar, bisa saja aku pernah melihatnya di televisi."

tbc...

ABIGAIL (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang