“ARKA. KAMU BOLEH PANGGIL AKU ‘ARKA’.”
“‘Arka’?”
Lelaki berambut ikal sebahu itu mengangguk, “Iya. Biar kamu nggak perlu lagi panggil aku ‘Om, eh, Kakak’,” dia menirukan caraku memanggilnya sambil tertawa. Tiga garis tawa muncul di kedua ujung matanya, memanjang sampai ke pipi—sekilas tampak seperti kumis kucing.
Aku tersenyum malu. Arka memang terlalu tua untuk kupanggil ‘Kakak’, tapi terlalu muda untuk kupanggil ‘Om’. Karena bingung, akhirnya kusapa dia dengan dua panggilan sekaligus.
“Ini buatku, Ar-Arka?” aku mengangkat gelas plastik berisi es krim di tanganku. Lidahku kaku menyebut namanya. Rasanya aneh memanggil nama orang yang jauh lebih tua dariku tanpa embel-embel apapun.
“Iya, itu hadiah buat kamu. Ini hari pertama Ice Cream Corner itu dibuka,” jawabnya sambil menunjuk toko es krim di seberang jalan, “Kamu pelanggan pertama dan, kamu bilang, sekarang kamu ulang tahun. Jadi, selamat ulang tahun... Itu hadiahnya.”
Tiba-tiba aku teringat percakapan pertama kami begitu kulihat Arka berjalan menghampiriku.
Dia telah menjadi teman favoritku selama tiga belas tahun. Banyak yang berubah dari diriku, tapi Arka yang berdiri di hadapanku saat ini masih tampak sama dengan Arka yang memberiku es krim gratis sebagai hadiah ulang tahunku yang ke sembilan. Hanya saja, rambut ikalnya dipangkas pendek sekarang.
“Duduk sendirian di toko es krim bukan cara terbaik buat merayakan ulang tahun, kan?”
“Lho? Aku, kan, mau menagih es krim jatah ulang tahun!”
Arka tertawa. Begitu ringan, begitu riang. Seolah jawabanku adalah hadiah terbaik untuk tokonya yang tepat berusia tiga belas tahun hari ini.
“Kamu nggak bosan, tiap tahun selalu merayakan ulang tahun di sini sendirian?”
“Kenapa? Kamu takut rugi kalau aku makan es krim gratis? Kan, cuma setahun sekali,” aku pura-pura merajuk.
Tawa Arka kembali terdengar, membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah kami. Dia tahu, aku hanya mengelak dari pertanyaannya. Sejak hari pertama kami bertemu, dia selalu membiarkanku makan es krim di sini tanpa membayar.
“Jadi, Nona Dua-Puluh-Dua-Tahun, silakan pilih. Nona mau hadiah es krim apa tahun ini?” tanyanya sambil menyodorkan buku menu padaku, “Gimana kalau es krim vanila lapis cokelat kacang plus buah stroberi?” tawarnya sebelum aku sempat membuka buku menu.
“Kamu selalu tahu apa yang kumau,” kataku sembari tersenyum lebar.
Tiba-tiba Arka mengatupkan bibirnya rapat-rapat, seolah menahan diri untuk tidak melontarkan kata-kata yang ingin dia ucapkan padaku.
Senyumku lenyap. Apapun yang urung dia katakan pasti bukan sesuatu yang ingin kudengar. Karena, jika sebaliknya, tak ada alasan bagi Arka untuk tidak mengatakannya padaku.
Kami bertatapan dalam diam sampai dia membuang napas keras dan, sambil berlalu dari hadapanku, dia berujar, “Kamu yang nggak pernah berubah, Bi.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Menara Awan - COMPLETED
Roman d'amourKehilangan Ayah dan Ibu membuat Bianca sangat benci ditinggalkan. Satu-satunya cara agar tak ditinggalkan adalah dengan tak pernah membiarkan siapapun berada di dekatnya... ...kecuali Arka, teman favoritnya. Hingga suatu hari, hal yang paling dia ta...
