35 - Lingkaran

100 9 2
                                        

"JADI, KAMU BERHASIL PILIH BAJU buat kencan kita tanpa bantuan Alisa?"

Kepalaku seketika menoleh, "Kak Alisa cerita sama kamu?"

"Aku mampir ke rumah Alisa tadi pagi."

"Nggak bisa menyimpan rahasia banget, sih. Nggak bisa tutup mulut, apa?"

Arka tertawa mendengarku menggerutu. Kami berada di Marugame Udon sekarang, menyantap makan malam pertama kami sebagai pasangan kekasih.

Meski disebut kencan, Arka bersikap seperti biasa dia bersikap padaku selama ini. Aku yang mengalami kesulitan beradaptasi dengan status baru hubungan kami. Aku bahkan meminta bantuan Alisa untuk memilih pakaian-kencan-pertama yang tepat untuk malam ini.

"Justru itu yang bikin aku suka sama Alisa," ujar Arka, "Karena dia jujur dan sangat berterus terang."

Aku mendengus sebal, "Bukan 'sangat', tapi 'terlalu' berterus terang."

Aku tak melebih-lebihkan. Faktanya, Alisa memang tipe orang yang sangat berterus terang. Dia tak pernah menahan diri hanya karena takut membuat orang lain tersinggung. Dia bahkan tak pernah menyia-nyiakan waktu untuk mengkhawatirkan reaksi orang lain terhadap ucapan atau tindakannya.

Semua kritik pedas dan sikap sinis yang dia tunjukkan padaku pun ternyata cara Alisa berterus terang mengenai hal-hal yang tidak dia sukai dariku. Meski caranya menyebalkan, aku mengerti sekarang, semua itu bentuk kepedulian Alisa padaku.

"Kamu tahu, nggak, kalau kamu cinta pertama Kak Alisa?"

"Katanya, sih, begitu. Tapi, aku sendiri nggak pernah sadar."

"Kasihan Kak Alisa. Pasti berat banget suka sama orang yang kayak kamu," ejekku. Arka hanya tertawa, "Untung Kak Alisa sudah nikah sekarang. Kalau nggak, dia pasti masih patah hati gara-gara kamu. Eh, tapi, suami Kak Alisa nggak tinggal di sini, ya?"

Tawa Arka mendadak berhenti.

"Soal suami Alisa... Aku nggak berhak ngomong apa-apa soal ini, tapi...kamu harus tahu supaya kamu nggak keceplosan ngomong di depan Alisa," dia berhenti sejenak, "Alisa lagi proses cerai sama suaminya."

"Cerai? Kok, bisa?"

Aku tak dapat membayangkan alasan yang membuat siapapun rela melepas istri secantik, sepandai, dan sesempurna Alisa. Dia memang bukan perempuan berkarakter lembut atau hangat, tapi dia baik. Orang baik tak seharusnya mengalami hal buruk.

"KDRT," jawab Arka, "Kamu masih ingat, waktu kita ketemu di depan kamar hotel Alisa dulu? Aku datang ke sana buat lihat keadaan Alisa. Dia baru datang dari Jakarta. Mukanya lebam, bekas kena pukul suaminya. Makanya, aku melarang kamu masuk waktu itu. Alisa nggak mau ada orang yang lihat lebam di mukanya. Dia nggak suka dikasihani."

Perempuan sekuat Alisa... Dia pasti tak akan suka dikasihani. Aku mengagumi kekuatan yang dia miliki, sama seperti aku mengagumi kekuatan yang dimiliki Inda.

Alisa dan Inda mengingatkanku pada dua versi karakter Putri Salju dalam dua film yang pernah kutonton.

Dalam Snow White and the Huntsman, sang Putri digambarkan sebagai sosok pemimpin dan pejuang yang tangguh, sementara dalam Mirror Mirror, karakter Putri Salju digambarkan sebagai sosok Putri yang manis dan berhati lembut.

Tapi, keduanya sama-sama memiliki kekuatan untuk menghadapi sang Ratu dan mengalahkan ketakutan mereka sendiri. Kekuatan seperti yang terlihat jelas pada raut wajah dan cara bicara Alisa, dan kekuatan yang tersimpan jauh di dalam hati Inda--kekuatan seperti bara yang mampu membakar apapun meski tak mengeluarkan lidah api.

Itulah sebabnya, aku menempel pada Inda dan, sekarang, pada Alisa. Karena aku melihat kekuatan yang sangat kukagumi dalam diri mereka. Kekuatan yang tak kumiliki, tapi selalu bisa kudapatkan dari Arka.

Menara Awan - COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang