10 - Abang

146 13 0
                                        

AKU TIDAK MENYESAL.

Aku. Tidak. Menyesal.

Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, tapi percuma. Aku tetap menyesal telah menendang diriku keluar dari Ice Cream Corner.

Harusnya Alisa yang pergi, tapi karena kebodohanku, dia justru bebas bersenang-senang sekarang. Sementara aku kehilangan bukan hanya Ice Cream Corner, melainkan juga Arka.

Setiap hari, selalu ada keinginan untuk menyerah dan mendatangi Arka. Tapi, aku telah berikrar tak akan pernah menginjakkan kaki di Ice Cream Corner selama Alisa masih berada di sana. Jika aku menyerah sekarang-menjilat ludahku sendiri-Alisa pasti akan menertawakan dan semakin menganggap remeh diriku.

Tapi, berpisah dengan Arka benar-benar... Ugh! Tak dapat kukatakan betapa menyiksa perpisahan ini bagiku.

Sudah enam belas hari, tujuh belas jam, tiga puluh satu menit aku tak bertemu teman favoritku. Itu rekor waktu terlama yang pernah kulalui tanpa melihat wajah Arka. Tanpa mendengar suaranya. Tanpa apa-apa.

Arka bukan tak pernah berusaha menemuiku. Dia berkali-kali datang ke apartemen, mengirim puluhan pesan, dan meneleponku setiap hari. Akulah yang terlalu marah untuk menurunkan ego dan menerima permintaan maafnya. Aku bahkan mengganti password pintu apartemen agar dia tak dapat menerobos masuk.

Password-nya telah kukembalikan seperti semula sekarang. Aku berharap dapat berlagak jual mahal dengan tidak membukakan pintu saat Arka datang, tapi tetap membiarkannya leluasa masuk sendiri ke apartemen.

Itu rencana cerdas.

Sayangnya, Arka tak pernah datang lagi. Dia juga berhenti menghubungi ponselku.

Saat itu terjadi, baru aku menyesal. Kenapa tak kutelan saja harga-diri-bodohku dan menerima Arka selagi dia masih memintaku menerimanya?

Aku yakin, Arka tak akan berusaha menemuiku lagi. Bukan menyerah-pasti bukan. Arka bisa jadi sangat keras kepala jika dia mau. Dia hanya tak ingin memaksaku menemuinya.

Tapi, Arka akan menunggu. Andai aku memintanya datang sekarang, dia pasti akan langsung datang tanpa perlu kuminta dua kali.

"Kak Bianca!"

Aku tersentak dan mendapati Tiwi menatapku kesal.

"Kenapa?" tanyaku.

"Kakak melamun lagi," keluhnya, "Kakak jadi bantu, nggak, sih? Kalau nggak, aku sama Inda mau minta bantuan Kak Nata saja."

Mataku langsung melirik Nata yang tengah bermain layang-layang bersama anak-anak lelaki Mentari. Aku menghela napas. Aku sendiri yang menawarkan bantuan pada Tiwi dan Inda, jadi aku yang harus bertanggung jawab membantu mereka sampai selesai.

"Maaf, maaf," kataku. Aku menggeser dudukku mendekati Tiwi sambil memandangi kertas-kertas yang berserakan di meja.

Tiwi dan Inda adalah anak tertua di Mentari. Keduanya bersekolah di SMA yang sama. Kelas XI. Sekarang, mereka sedang membuat scrapbook untuk tugas pelajaran Bahasa Indonesia mereka.

"Sudah selesai sampai mana?"

Tiwi menunjukkan padaku scrapbook-nya yang baru setengah jadi. Tema scrapbook Tiwi adalah musik, sementara Inda memilih tema puisi. Karena mereka yang menentukan sendiri tema scrapbook-nya, kurasa tema yang mereka pilih mencerminkan minat masing-masing.

Kuambil selembar kertas berwarna biru cerah dari atas meja. Aku berniat menghias kertas itu, tapi malah tertegun saat membaca puisi berjudul "Kamu" yang tertulis di sana.

ada malaikat berlari mengikuti langkahku
mengikuti sayangku, mengikuti hatiku
sayapnya ringan
meringankan aku,
kamu,
kita
bertemu kamu, menatap, dan terpatri
tidakkah kau bisa merasakan?
hatiku mencarimu
hanya kamu

Menara Awan - COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang