TANGANKU GEMETAR memegangi ponsel di telingaku. Sejak kecelakaan yang membuat tulang selangkaku retak, aku tak pernah lagi berusaha menghubungi Arka. Meneleponnya sekarang benar-benar membuatku tegang.
Nada sambung pertama terdengar, nada sambung kedua, ketiga, dan terus berlanjut. Aku mulai kecewa. Tapi, saat aku bersiap menekan tombol ‘cancel’, suara Arka tiba-tiba menyapaku.
“Halo?” katanya.
Aku tak segera menjawab karena jantungku berjumpalitan begitu suara Arka terdengar. Aneh sekali bagaimana menyadari rasa cintaku dapat memengaruhi cara tubuhku bereaksi terhadap teman favoritku itu.
“Mm, Arka?”
“Ya?”
“Kamu sibuk, nggak, hari ini? Ada yang mau kubicarakan sama kamu.”
Hening sejenak.
“Aku ada di Ice Cream Corner,” ujarnya kemudian. Suaranya terdengar sangat berhati-hati, “Kalau mau, kamu bisa datang ke sini.”
“Oh. Iya. Mm... Kalau begitu, nanti sore aku ke sana.”
Tapi, aku tak datang ke sana pada waktu yang kujanjikan. Aku sengaja datang saat hari telah gelap, setelah Ice Cream Corner tutup. Aku berharap dapat menemui Arka saat dia sendiri, tapi harapanku pecah begitu kulihat Alisa masih duduk bersamanya di meja kasir.
Alisa berhenti bicara saat aku membuka pintu toko. Kedua tangannya yang semula bergerak-gerak di depan wajahnya langsung dia turunkan. Dahinya berkerut. Dia tampak sangat kesal.
Begitu juga Arka. Dia mendengarkan Alisa dengan satu tangan terkepal kaku di atas meja, sementara satu lagi memegangi kening.
Arka menegakkan duduknya begitu melihatku datang. Aku langsung menghampirinya tanpa memedulikan Alisa yang sibuk mendelik padaku sambil melipat kedua lengannya dan menghembuskan napas keras.
Arka menatapku dan, setelah kami berhadapan satu sama lain, baru kusadari betapa berantakan dirinya.
Arka bukan hanya terlihat kesal, tapi juga lelah. Bagian bawah matanya menghitam seperti orang yang kurang tidur selama berhari-hari. Atau, jangan-jangan dia sakit?
Aku mulai merasa khawatir. Tapi, belum sempat aku berkata apapun, wajah Arka tiba-tiba berkerut sedih. Lebih dari sedih, matanya bahkan tampak menderita.
Refleks tanganku terangkat, tapi urung mengusap kerutan di wajahnya. Aku tak berani menyentuh Arka. Takut dia akan menolak atau menepis tanganku.
Kedua tanganku hanya bergerak-gerak tak berdaya di samping tubuhku, meski sorot mata Arka seolah berteriak meminta pertolongan.
“Kamu kenapa?” aku tak dapat menahan diri untuk tidak menyuarakan kekhawatiranku.
Arka tak menjawab. Dia hanya mengalihkan pandangannya sekilas, lalu kembali menatapku. Wajahnya mulus sekarang. Tak ada lagi garis sedih, hanya lelah.
Aku menghela napas, “Maaf, aku terlambat. Aku nggak ganggu, kan? Kalau kamu lagi sibuk sekarang, aku bisa datang lagi besok.”
“Kamu di sini saja. Saya mau pulang, kok,” Alisa yang menjawab.
Dia berdiri, lalu pergi meninggalkan kami. Aku tak menoleh untuk melihat ke mana Alisa pergi. Mataku terperangkap di mata Arka yang juga terpaku padaku. Tapi, tak lama, aku mendengar suara pintu toilet yang dibuka, lalu ditutup kembali dari belakang toko.
“Duduk,” ujar Arka.
Aku pun duduk di kursi yang tadi diduduki Alisa. Arka terus menatapku, menungguku bicara. Tapi, aku tak tahu harus memulai dari mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menara Awan - COMPLETED
RomansaKehilangan Ayah dan Ibu membuat Bianca sangat benci ditinggalkan. Satu-satunya cara agar tak ditinggalkan adalah dengan tak pernah membiarkan siapapun berada di dekatnya... ...kecuali Arka, teman favoritnya. Hingga suatu hari, hal yang paling dia ta...
