34 - Waktu yang Tepat

90 9 0
                                        

"SEJAK BERTEKAD MENJAUHI KAMU, aku merasa kehilangan, tapi nggak benar-benar kehilangan," lanjut Arka, "Karena, walaupun aku menjauh, kamu nggak pernah meninggalkanku. Kamu tetap datang ke Ice Cream Corner kayak biasa."

"Tapi, waktu lihat kamu menyerah, bukan lega karena tujuanku tercapai, aku justru malah takut bakal benar-benar kehilangan kamu. Membayangkan harus hidup tanpa kamu..." Arka bergidik, "...aku nggak sanggup. Tekadku runtuh. Aku nggak bisa membiarkan kamu pergi," dia berhenti sejenak, "Penjelasanku bikin kamu bingung, ya?"

Aku menggeleng. "Lebih baik bingung daripada nggak dapat penjelasan sama sekali," ujarku sambil menempelkan dagu ke lutut, "Tapi, aku mengerti perasaan kamu."

Kulihat Arka mengangkat kedua alisnya.

"Kamu ingat, nggak, waktu aku marah sama kamu dulu? Waktu itu, kamu juga tetap datang ke sini walaupun aku terus menghindari kamu. Kamu tetap peduli sama aku dan, selama kamu masih peduli, aku yakin bakal bisa kembali ke samping kamu kapanpun aku mau."

"Tapi, waktu kamu bilang, kamu ingin menjalani hidup tanpaku, aku merasa nggak berdaya," tenggorokanku tercekat begitu aku teringat keputusasaan yang menyelimutiku kemarin malam. Suaraku berubah serak.

"Aku merasa dibuang dan nggak bisa melakukan apapun...nggak bisa mencegah kamu pergi...nggak punya harapan bakal bisa balik lagi ke samping kamu. Aku...takut."

Arka menarikku ke pelukannya. Meski aku duduk di atas sofa dan dia berdiri dengan lututnya, kepalanya tetap lebih tinggi dariku, membuat kepalaku bersandar tepat di dadanya.

"Maaf. Aku minta maaf, Bi," bisiknya di telingaku, "Aku bikin kamu merasa nggak diinginkan. Tapi, kamu harus tahu, aku nggak pernah berhenti peduli sama kamu. Satu-satunya alasanku menjauhi kamu karena aku pikir, kamu bakal lebih baik tanpaku. Aku mau kamu bahagia, tapi aku malah menyakiti kamu. Maaf..."

Suara Arka terdengar begitu sedih sampai aku merasa, bukan aku yang memerlukan penghiburan, melainkan dirinya. Aku pun melepaskan diri dari pelukannya dan balik memeluk Arka. Kepalanya bersandar di bahuku. Aku mengelus rambut dan punggungnya, sementara dia melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.

"Kamu benar-benar melakukan semua ini demi kebaikanku, ya?" tanyaku takjub, "Bukan demi perempuan yang mau kamu lamar itu?"

Mendengar pertanyaanku, tiba-tiba Arka menegakkan kepala dan menatapku heran.

"Kamu masih belum mengerti?" tanyanya, "Nggak pernah ada perempuan lain, Bi. Perempuan yang mau kulamar itu...kamu."

Tanganku membeku di punggungnya. Mataku tak berkedip menatap Arka.
Arka menggeleng tak percaya melihat reaksiku.

"Aku kira, kamu sudah mengerti dari tadi," dia tertawa pelan--terdengar gugup sekaligus geli, "Memang tadi, kamu nggak dengar waktu kubilang kalau kamu itu orang yang kusayangi?"

"Kamu sayang...aku?"

"Sangat sayang."

Aku menutup wajahku dengan dua tangan. Aku tak percaya semua ini benar-benar terjadi. Arka bukan hanya menginginkanku berada di sampingnya, tapi juga menyayangiku seperti aku menyayanginya.

Tak pernah ada perempuan lain dalam hidup Arka, karena perempuan yang ingin dilamarnya adalah aku--aku!

"Kamu menangis, Bi?"

Arka terkejut mendengarku terisak. Dia berpindah duduk ke atas sofa. Tangannya mengelus punggung tanganku, berusaha membujukku agar mau menunjukkan wajahku padanya.

"Kenapa kamu menangis? Aku salah lagi, ya? Aku bikin kamu sedih?"

Panik terdengar dalam setiap kata yang dia ucapkan. Tak ingin membuatnya khawatir dan merasa bersalah, aku pun menurunkan kedua tanganku.

Menara Awan - COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang