Terlihat dua anak kecil berusia 4 tahunan sedang duduk di kursi teras rumah keluarga Hwang.
"Nono, Njin kenapa ya?" Hyunjin kecil bertanya pada sahabatnya Jeno yang sudah bersamanya sejak sangat kecil.
"Ya mana Nono tau Njin. Njin sakit?" Tangan mungil Jeno menangkup pipi Hyunjin.
"Njin ngga tau No, tapi Njin sakitnya kalau ketemu Jeje aja."
"Jeje nakal sama Njin? Nanti Nono marahin deh Jejenya biar Njin ngga sakit." Dengan semangat Jeno berkata kepada Hyunjin agar sahabatnya itu tidak sakit lagi.
"Jangan ish Nono, nanti Njin tambah sakit kalau lihat Jeje sakit." Dengan sedikit kesal, Hyunjin melepaskan tangan Jeno yang masih setia menangkup pipinya.
"Njin maunya gimana sih? Nono kan jadi bingung."
"Sini deh Njin ceritain sakitnya gimana."
"Ehh, nanti dulu ceritanya Njin. Nono punya coklat nih, Njin makan ya."
"Waah makasih Nono hihihi."
"Iya sama-sama Njin. Ayo cepet katanya mau cerita."
"Njin ngga tau kenapa, kalau Njin ketemu Jeje, dada Njin kenceng banget tau No. Jedug-jedug gitu, kan sakit. Tapi Njin seneng banget rasanya kalau ketemu Jeje. Apalagi kalau Jeje senyum. Itu kenapa ya No?"
"Emm, bentar Nono pikir dulu ya Njin." Ucap Jeno dengan kedua jari telunjuknya ia letakkan di pelipisnya. Keningnya berkerut seperti sedang berpikir dengan keras.
"Njin bantu ya No." Hyunjin ikut membantu Jeno berpikir. Berbeda dengan Jeno, Hyunjin meletakkan jempolnya dimulut, tentu dengan tangan yang belepotan sehabis memakan coklat yang tadi Jeno berikan kepadanya.
"Nono!" Kegiatan Jeno dan Hyunjin terpaksa berhenti karena panggilan dari seseorang.
Jeno melepaskan tangannya dari pelipis lalu tersenyum dengan eye smile miliknya. "Nana!" Balas Jeno ketika melihat orang yang tadi memanggilnya.
Hyunjin masih tidak bergerak, tetapi matanya tidak lepas dari dua orang yang tengah berjalan menuju rumahnya.
"Nana sama Jeje kesini cuma berdua?" Tanya Jeno kepada Jaemin dan Jeongin.
"Iya, Nana kan sudah berani sendirian. Ayo Jeje, jalannya lebih cepat." Tangan Jaemin yang sedari tadi menggenggam tangan Jeongin pun sedikit menariknya agar berjalan lebih cepat.
"Sebentar Nana, Jeje malu." Cicit Jeongin diakhir katanya.
"Tak apa Je, kan ada Nana."
Jaemin dan Jeongin sudah sampai dihadapan Jeno dan Hyunjin. Jeno asik berbicara dengan Jaemin sedari tadi. Walaupun asik berbicara dengan Jeno, tapi tangan Jaemin terus menggenggam tangan Jeongin. Sedangkan Jeongin, matanya sedari tadi tertuju pada tangan Hyunjin yang belepotan karena coklat. Jeongin terlihat sangat menginginkan coklatnya.
Berbicara tentang Hyunjin, anak itu terus memperhatikan tangan Jeongin dan Jaemin yang saling menggenggam. Hyunjin merasa tidak suka melihatnya. Cemburu mungkin? Tapi, mereka masih sangat kecil. Tidak paham apa itu cemburu.
Karena tidak suka melihat Jaemin dan Jeongin, dengan kesal Hyunjin menjilati tangannya yang terkena coklat.
Jeongin tiba-tiba melepaskan genggaman tangan Jaemin lalu mendekat ke arah Hyunjin.
"Jeje mau kema-" ucapan Jaemin terputus.
"Njin yung, Jeje mau." Setelah berkata seperti itu, Jeongin ikut menjilat sisa-sisa coklat ditangan Hyunjin yang masih setia diemut sang pemilik tangan.
Jeno dan Jaemin hanya bisa mengedipkan kedua matanya melihat apa yang Jeongin lakukan.
"Enak hihihi." Ucap Jeongin dengan senyuman khasnya.
Makasih udah vomen~
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjeong ~ oneshoot
Randomjust a little happiness of hyunjeong~ Beberapa rated M Kritik saran? Komen Sorry for typo
