"Jeongin, ayo cepat naik. Dibawah ada buaya."
Saat ini Hyunjin dan Jeongin kecil tengah bermain di rumah pohon di kediaman milik Hyunjin.
"Ish Hyunjin hyung! Jeongin kan masih kecil. Jadi naiknya lambat. Jeonginnya jangan ditakut-takutin dong."
"Jeongin cepat. Ayo Hyunjin hyung bantu."
"Jeongin tidak mau. Jeongin kan sudah besar. Jeongin bisa sendiri."
"Baiklah. Tapi ku mohon cepat lah buayanya datang. Banyak sekali! Awass! Nanti kau dimakan"
Bruk
Karena panik, Jeongin kecil terjatuh saat menaiki tangga untuk ke rumah pohon Hyunjin.
"Jeongin!"
Bruk
Hyunjin ikut terjatuh saat terburu-buru menuruni rumah pohon untuk membantu Jeongin.
"Jeongin. Kau baik-baik saja?" Tanpa mempedulikan lututnya yang berdarah, Hyunjin menghampiri Jeongin yang tidak jauh dari tempatnya jatuh.
"D-darah hiks."
"Mana yang sakit. Katakan pada Hyunjin hyung."
Jeongin hanya menggeleng tetapi tetap menangis.
Karena tidak menjawab jawaban, Hyunjin mulai memeriksa tubuh Jeongin khawatir jika ada yang terluka.
"D-darah. Jeongin takut hiks darah."
Hyunjin tahu jika Jeongin takut darah. Tapi dimana darahnya? Dia tidak melihat ada darah sedikitpun di tubuh Jeongin.
"Jangan takut. Hyunjin hyung disini. Katakan dimana darahnya. Biar hyung bersihkan."
Jeongin dengan menutup mata menunjuk lutut Hyunjin. Melirik bagian yang ditunjuk Jeongin, Hyunjin baru sadar jika lututnya sakit dan berdarah.
Hyunjin kecil membuka baju yang dia pakai lalu digunakan untuk menutupi darah yang ada di lututnya.
Cup Cup
Diciumnya mata Jeongin yang sedari tadi masih terpejam. "Buka mata Jeongin. Jangan takut. Darahnya sudah hilang."
Jeongin mulai membuka matanya. Dilihatnya Hyinjin yang sedang tersenyum kepadanya lalu mengalihkan pandangannya ke lutut Hyunjin yang ternyata sudah ditutup dengan baju.
Dengan cepat Jeongin memeluk Hyunjin lalu menangis kembali.
"Hiks! Hyunjin hyung nakutin Jeongin. Tidak ada buaya hiks."
"Jeongin jangan menangis. Jika Jeongin sudah besar berarti Jeongin tidak boleh menangis. Maafkan Hyunjin hyung. Jeongin ada yang sakit?"
Jeongin hanya menggeleng lalu tersenyum dan menarik Hyunjin untuk berdiri.
"Pelan-pelan Jeongin. Nanti darahnya terlihat."
"Tidak apa-apa. Jeongin sudah besar. Tidak takut darah."
"Jeongin yakin?"
"Tentu! Ayo Jeongin obati lutut Hyunjin hyung."
"Baiklah. Terima kasih Jeongin."
Makasih udah vomen~
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjeong ~ oneshoot
De Todojust a little happiness of hyunjeong~ Beberapa rated M Kritik saran? Komen Sorry for typo
