-25-

5.7K 509 28
                                        

𝙵𝚛𝚒𝚎𝚗𝚍 𝚣𝚘𝚗𝚎

🍁

Bunda mau tanya perasaan kamu sama Aurel gimana?" tanya Yora, menatap sang putra dengan lekat.

Arsen langsung terdiam. Ia masih bingung dengan perasaannya saat ini. Sebenarnya selama Arsen berpacaran dengan Senata, Arsen merasa aneh. Entah kenapa ia merasa ada sosok yang hilang di hidupnya. Arsen juga ada rasa kesal saat Aurel sedang bersama dengan cowok lain. Apa lagi saat ia tahu ada cowok yang mengantar Aurel pulang waktu itu. Entah kenapa bawaannya kesal dan marah. Arsen juga tidak ingin Aurel menjauh darinya walaupun ia sudah mempunyai Senata. Selama beberapa hari yang lalu ia bertengkar dengan Aurel, Arsen merasa kehilangan gadis itu.

"Nggak tahu, bun. Arsen bingung," jawabnya membuat Yora menghela napas panjang.

Yora mencengkram kedua bahu Arsen kemudian, menatapnya dengan serius. "Bunda mohon sama kamu. Kalau kamu tidak mencintai Aurel, jangan buat dia terbawa perasaan dan jangan buat dia berharap sama kamu," nasehatnya. "Asal kamu tahu, Arsen— Aurel sudah mencintai kamu selama 10 tahun."

Ucapan Yora langsung membuat Hyunjin mematung tidak percaya.

"Bu-bunda tahu dari mana?" tanya Arsen tidak percaya. Ia kira perasaan Aurel baru muncul setelah ia berpacaran dengan Senata.

Yora tersenyum tipis. "Bunda sudah sangat mengenal Aurel. Bunda selalu memperhatikan gadis itu. Bagaimana dia bicara, bersikap dan menatap kamu, Arsen, " jawabnya. "Bayangkan saja, Aurel menyembunyikan perasaannya dari kamu sangat lama. Aurel pasti sangat sakit hati saat melihat kamu bersama perempuan lain. Apa lagi saat kamu berpacaran dengan Sena. Bunda nggak tahu apa yang terjadi sama Aurel saat mendengar kamu pacaran," lanjutnya panjang.

Arsen hanya terdiam mendengar penjelasan panjang dari Yora. Arsen bingung, merasa bersalah dan tak percaya. Ia tidak menyangka dengan Aurel yang telah menyimpan perasaan itu dari lama. Padahal selama Arsen bersahabat, gadis itu tidak memperlihatkan rasa sukanya.

"Bunda nggak bohong kan?" tanya Arsen lagi.

"Bunda nggak bohong, Arsen," jawab Yora tegas. "Aurel itu sering cerita tentang kamu ke bunda. Bahkan setiap hari kalau Aurel main ke rumah, ia tidak pernah lepas bercerita atau bertanya tentang kamu."

"Setiap kali kamu nggak ada di rumah pasti di tanya ke bunda. Arsen pergi kemana? Sama siapa? Naik apa?" lanjutnya menirukan pertanyaan Aurel setiap kali Arsen tidak ada di rumah.

"Aurel juga sering cerita kalau kamu selalu masuk ke kamarnya lewat pintu balkon," ucap Yora dengan memicingkan mata.

Arsen yang mendengar ucapan Yora yang satu ini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Untung Aurel orangnya terima aja. Kalau orang lain mungkin kamu bisa di pukul," lanjut Yora membuat Arsen memasang cengirannya.

"Kalau kamu serius sama Aurel. Bunda akan setuju sekali. Tapi bunda nggak bisa paksa kalau kamu tidak menyukai Aurel. Mungkin nanti bunda akan kenalkan Aurel pada Felico. Felico anak baik, dia bi—"

"Nggak boleh!" selak Arsen spontan.

Yora tersenyum jahil. "Nggak boleh, nih?"

"Bunda!" seru Arsen kesal.

Yora tertawa. "Okee, nggak akan bunda kenalkan Aurel pada Felico tapi, syaratnya satu. Tolong cintai Aurel, sayangi dia dan lindungi dia seperti kamu dulu pada Senata," balasnya serius.

FRIEND ZONE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang