𝙵𝚛𝚒𝚎𝚗𝚍 𝚣𝚘𝚗𝚎
🍁
Bibi menghampiri Aurel yang terjatuh ke lantai. Ia memandang iba Aurel, sudut bibir gadis itu terluka akibat tamparan keras dari Kim.
"Non, ayo kita ke kamar," ajak bi Sumi yang melihat suasana rumah terasa panas. Ia tidak tahan jika melihat Aurel di tampar kembali oleh ayahnya sendiri.
Aurel menggeleng, ia kembali menatap Kim dan berusaha menghampiri Kim dengan menyeret kakinya akibat terkilir. Ia bersusah payah untuk menggapai kakinya dan memeluknya namun, Kim memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ayah, mohon percaya sama Aurel. Jika Aurel ada salah, Aurel minta maaf tapi apa salahku sampai ayah tidak percaya. Aurel lelah, ayah," lirih Aurel dengan isakan namun, Kim mengabaikannya. Bahkan menatap saja tidak mau.
Bagian pinggang Aurel kembali nyeri, ia menundukkan kepalanya dan meremas pakaiannya, menahan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Melihat tidak ada respon dari tuannya, bi Sumi begitu sedih. Hatinya terenyuh melihat Aurel yang tidak dipedulikan. Padahal keadaan Aurel sedang terluka sangat parah.
Kim menghela napas kasar. Entah kenapa ia masih belum bisa memaafkan Aurel atas meninggalnya, istri pertamanya. Jika saja hari itu Aurel tidak mengajaknya pergi ke puncak mungkin istri pertamanya masih hidup sekarang.
"Sudah saya katakan kepadamu, saya belum bisa memaafkan mu karena istriku meninggal dunia. Kalau saja kamu tidak mengajaknya ke puncak, pasti dia masih bersama saya," seru Kim datar.
Air mata Aurel mengalir. Dadanya terasa sesak, sang ayah selalu saja menyalahkan dirinya atas kepergian bunda. Padahal ia tidak melakukan apapun, semua itu hanya kecelakaan.
"Kamu ingin saya memaafkan mu?" ucap Kim tiba-tiba.
Mata Aurel mengerjap dan mengangguk cepat dengan mata berbinar.
"Pergi dari hadapan saya," lanjut Kim dingin.
Aurel yang mendengar jawaban ayahnya membuat senyumnya seketika luntur dan tubuhnya melemas. Rasa sakit di hatinya kembali di rasakan. Tetapi, kali ini seperti di tusuk oleh ribuan pisau.
Kinara yang mendengar ucapan Kim, tersenyum bahagia. Sepertinya keinginan untuk menyingkirkan gadis itu akan segera tercapai.
Kim melepaskan tangan Aurel dengan kasar dari kakinya dan meninggalkan Aurel diikuti Kinara di belakangnya.
Aurel semakin terisak dan memukul dadanya agar rasa sakitnya hilang.
"Nona Aurel kita ke rumah sakit, ya. Luka non parah, bibi tidak mau nona sakit kembali," ajak bibi tidak tega namun, Aurel menolaknya.
"Aurel mau ke kamar aja, bi," jawabnya dengan suara lemah.
Bibi menghela napas dan terpaksa membawa Aurel ke kamarnya dengan hati-hati. Setelah tiba di kamar, ia membaringkan tubuh Aurel di kasur dengan perlahan.
"Bi, tolong ambilkan obat Aurel di laci," pintanya yang langsung di ambilkan oleh bi Sumi.
Aurel meminum obat dari resep dokter.
Bi Sumi masih berada di kamar. Ia bisa melihat wajah Aurel yang terlihat sangat pucat, darah di keningnya sudah sedikit mengering namun lukanya masih terlihat jelas, sudut bibirnya dan pipinya juga terlihat sedikit membengkak.
"Non, bibi obati luka nona Aurel, ya," izin Bi Sumi.
Aurel mengangguk saja.
Bi Sumi mulai mengobati luka Aurel. Aurel yang di obati memejamkan mata menahan rasa sakit, sesekali juga terdengar ringisan dari Aurel.
KAMU SEDANG MEMBACA
FRIEND ZONE [END]
FanfictionSahabatan bertiga? Semuanya jadi asik, seru Tapi.... Pasti salah satu dari mereka harus ada yang mengorbankan perasaannya, siapakah dia? # 3 Hwanghyunjin DitaSr, 2019
![FRIEND ZONE [END]](https://img.wattpad.com/cover/193247761-64-k880945.jpg)