-05-

5.2K 541 18
                                        

𝙵𝚛𝚒𝚎𝚗𝚍 𝚉𝚘𝚗𝚎

🍁


Aurel telah kembali ke kelas dan langsung menuju kursinya. Menidurkan kepalanya di atas meja dan memejamkan mata sejenak. Ia ingin menenangkan pikirannya sampai bel istirahat selesai berbunyi.

"Aurel!" panggil seseorang dari luar kelas. Aurel kenal suara itu namun, ia berusaha untuk tidak peduli.

Terdengar langkah kaki, mulai mendekati tempat Aurel duduk.

"Lo beneran tidur?" ucap Arsen dengan menyingkirkan rambut Aurel dari wajah gadis itu. "Yaah, padahal gue mau cerita ke lo," lanjut Arsen saat tahu Aurel sedang tidur. Namun kenyataannya, Aurel tidak tidur. Ia tidak ingin bertemu Arsen untuk saat ini.

"Kalau gitu gue cerita aja deh. Nggak di dengar juga nggak apa-apa," gumam Arsen dan mengikuti posisi Aurel.

Menghela napas pelan. "Gue habis menyatakan perasaan pada Sena dan lo harus tahu! Sena terima perasaan gue," gumam Arsen bercerita dengan nada senang.

Aurel yang mendengarkannya hanya bisa merasakan sesak di dada.

"Gue kira nggak akan di terima tetapi, gue salah. Ternyata dia juga suka sama gue," lanjut Arsen.

Arsen mengelus pucuk kepala Aurel dan mencium kening gadis itu. "Tidur nyenyak, bel istirahat bangun. Gue mau balik ke kelas. Nanti gue titip teman kelas untuk bangunin lo," ucapnya dan meninggalkan kelas.

"Woy! Bro, gue titip Aurel. Bel masuk tolong bangunin," Suara Arsen terdengar saat bicara dengan teman kelasnya Aurel.

Sedangkan Aurel masih memejamkan mata dengan kedua tangan terkepal. "Kenapa, lo nggak pernah peka sama perasaan gue. Arsen," ucapnya dalam hati.

🍁

Sekolah sudah pulang dan sekarang Aurel tiba di rumah setelah berusaha menghindar dari Arsen. Untuk saat ini, Aurel tidak ingin bertemu dengan cowok itu. Setiap kali melihat wajah bahagianya Arsen membuat dada Aurel terasa sesak.

"Buat makan malam!" Suara teriakan terdengar saat Aurel baru saja ingin menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya yang berada di lantai dua.

"Bukan tugas saya," jawab Aurel ketus dan kembali naik tangga namun, terdengar ucapan lagi yang membuat Aurel menghentikan langkahnya.

"Gue nggak mau tau! Lo harus buat makan malam. Itu sudah jadi tugas lo bodoh!" ucapnya membentak.

Aurel memejamkan mata sejenak, menahan emosi yang tiba-tiba saja muncul. Menarik napas pelan dan menghembuskan, Aurel berbalik badan dan tersenyum miring.

"Saya bilang nggak—"

Plak!

Satu tamparan mulus mendarat di pipi Aurel. Tubuh Aurel diam dan tidak bergeming. Kesakitan yang selalu Aurel rasakan saat berada di rumah ini. Terkena tamparan kuat  untuk kesekian kalinya membuat Aurel sudah terbiasa setelah ayahnya menikah dengan wanita tua di hadapannya.

"Masak atau gue bakal buat lebih dari ini!" ancamnya dan langsung pergi meninggalkan Aurel yang masih terdiam di anak tangga.

Mengepalkan tangan, Aurel menghela napas panjang. "Lo kuat. Nggak boleh menyerah," gumamnya menyemangati dirinya sendiri dan kembali melanjutkan langkahnya.

Aurel masuk kamarnya, menyimpan tas dan langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan menatap langit-langit kamar. "Aurel kangen bunda," gumamnya lirih.

FRIEND ZONE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang