-32-

4.8K 481 49
                                        

𝙵𝚛𝚒𝚎𝚗𝚍 𝚣𝚘𝚗𝚎

🍁

"Apa yang kamu lakukan Aurel!" bentak Kim saat melihat Aurel berada di atas tubuh Kinara dengan pisau di tangannya.

Aurel tersentak dan menoleh ke sumber suara. Di ambang pintu kamarnya, terlihat sang ayah yang menatapnya dengan tajam.

"Akhhh!" Meringis Aurel saat tubuhnya dihempaskan sang ayah agar menyingkir dari Kinara.

Karena perlakuan Kim, tubuh Aurel terbentur meja belajar dengan kepala bagian belakang mengenai ujung meja yang memiliki sisi yang tajam.

"Sayang...hiks..." Kinara dengan tangisnya. Sudah pasti, ia berakting berlari mendekati Kim dan memeluk pria itu.

Kim membalas pelukan Kinara dan mengelus punggung wanita itu. "Aku...takut. Aurel ingin melukaiku," ucap Kinara lagi dengan suara dibuat serak.

Aurel memejamkan mata saat rasa pusing tiba-tiba menjalar diikuti pandangannya yang berubah putih.

Aurel menggelengkan kepala, berusaha untuk tetap sadar. "Ti-tidak ayah! Dia berbohong," bantahnya dengan tenaga yang tersisa.

Kim melepaskan pelukan Kinara dan berjalan ke Aurel yang masih berada di lantai.

Plak!

Tamparan kembali didapatkan Aurel saat Kim, menampar pipinya bagian kanan. Terasa begitu panas dan sakit. Tenaganya terasa dua kali lipat dari Kinara.

"Cukup Aurel! Cukup kau membunuh istri saya! Jangan lagi kamu membunuh ibu tiri mu!" bentak Kim dengan kedua tangannya yang mengepal dan rahang mengeras. Kim sudah geram dengan sikap dan kelakuan Aurel.

Air mata mengalir di kedua pipi Aurel. Rasa sesak di dadanya kembali di rasakan. "Ayah..." Napas Aurel tercekat karena rasa sesak yang di dadanya mendengar ucapan sang ayah.

Tubuh Aurel terangkat tiba-tiba, saat Kim menarik tangan Aurel dari kamarnya dan di bawa turun ke lantai bawah menuju pintu keluar.

Kinara yang melihat perlakuan Kim pada Aurel, langsung tersenyum senang. Berbeda dengan Aurel yang berusaha menahan sakit di kepala dan punggungnya akibat terbentur meja.

Bruk!

Dihempaskan tubuh Aurel ke tanah sampai gadis itu tersungkur.

Aurel meringis akibat tubuhnya yang terjatuh keras ke tanah. Tubuhnya sudah sangat lemas namun, sekuat tenaga Aurel kuatkan untuk menatap sang ayah. Aurel bisa melihat wajah ayahnya yang memerah dan napas memburu.

"KELUAR DARI SINI! ANAK TIDAK TAU DI UNTUNG. SUDAH DI RAWAT MALAH MELUNJAK!" bentak Kim.

Aurel menggeleng kepala cepat. "Tidak ayah. Jangan usir Aurel. Aurel tidak melakukan kesalahan. Wanita itu yang ingin melukai Aurel," balasnya menjerit dengan tangisnya. Air matanya sudah mengalir deras di kedua pipi Aurel.

Kim masuk rumah kembali, entah apa yang mau dilakukannya. Sedangkan Kinara, tersenyum puas.

"Tidak usah mengotori tangan saya untuk membunuhnya. Toh ayahnya sendiri yang mengusirnya," ucap Kinara dalam hati.

Aurel menunduk dengan tangisnya dan menahan sakit di seluruh tubuhnya. Apa semua ini akan berakhir?

Bruk!

Aurel tersentak saat sebuah tas besar mendarat di dekatnya.

"Jangan pernah datang ke sini lagi. Ingat itu!" seru Kim dengan penekanan.

FRIEND ZONE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang