-04-

5.3K 588 42
                                        

𝙵𝚛𝚒𝚎𝚗𝚍 𝚉𝚘𝚗𝚎

🍁

Bel istirahat berbunyi dan Aurel keluar kelas. Dirinya sudah kembali ke kelas setelah merasa baikan di jam pelajaran pertama selesai.

"Lo makan bareng gue. Nggak ada penolakan," ucap Arsen dengan menarik tangan Aurel agar mengikutinya.

Aurel menurut saja, kalau Arsen sudah dengan kalimat tanpa penolakan. Aurel harus menurut kalau tidak bisa menjadi masalah yang panjang.

Aurel dan Arsen tiba di kantin sekolah. Arsen langsung menarik lengan Aurel agar segera duduk di kursi kantin.

"Mau makan apa? Gue yang pesan makanannya," tanya Arsen.

"Apa aja. Gue lagi malas makan," jawab Aurel datar.

Arsen menghela napas dan berjalan menuju penjual makanan. Lima menit berlalu, Arsen telah kembali dengan dua nampan di tangannya.

"Di makan. Awas aja nggak di makan. Gue bakal marah," ancam Arsen.

Aurel terpaksa menurut, daripada nanti jadi bahan perhatian. Aurel sangat benci perhatian.

Satu sendok nasi masuk ke mulut Aurel, membuat Arsen yang sedang menatap gadis itu tersenyum.

"Arsen!" panggil seseorang membuat pemilik nama dan Aurel menoleh.

"Hai, Aurel!" sapa Senata saat melihat keberadaan gadis itu di sebelah Arsen.

"Hmm," balas Aurel singkat.

Senata cemberut. "Kok kalian nggak tunggu aku sih?" tanyanya sendu.

Arsen tersenyum gemas. "Maaf, tadi Aurel pingsan. Jadi aku mau bawa dia ke kantin supaya cepat makan," jawabnya jujur.

"Kok bisa pingsan sih, rel? Perasaan kamu itu kuat deh. Main basket berjam-jam aja masih bisa?" tanya Senata heran.

"Gu—"

"Habis di hukum lari lapangan gara-gara telat," selak Arsen.

"Kok telat? Kalau gitu tadi pagi kita berangkat bareng aja," ucap Senata merasa bersalah.

Aurel menghela napas. "Gue nggak apa-apa," balasnya.

"Harusnya kamu tadi bawa mobil, Arsen. Kasihan Aurel sampai di hukum gara-gara telat," seru Senata.

Arsen mengusak surai hitam Senata. "Kamu kan mau naik motor. Aku nggak tega kalau harus buat kamu sedih karena nggak jadi," ucapnya membuat kening Aurel mengkerut.

Senata mengerjap. "Tapi kalau Aurel ikut nggak apa-apa, kok," balasnya melirik Aurel.

"Kamu lebih penting. Aku udah janji bakal berangkat sama kamu naik motor," ucap Arsen membuat kedua tangan Aurel mengepal.

"Tapi—"

Prang!

Aurel yang kesal membanting sendok di tangannya dan bergegas bangun dari duduknya dan meninggalkan Arsen dan Senata yang heran.

"Aurel mau kemana?!" teriak Senata namun, Aurel tidak men jawabnya.

"Ish!" pukul Senata pada lengan Arsen. "Kamu sih! Aurel jadi pergi," lanjutnya.

Arsen tertawa kecil dan mengacak surai hitam Senata pelan. Dirinya gemas dengan cewek itu yang terlihat menggemaskan.


🍁

Aurel tiba di area rooftop sekolah. Ia menghela napas dan duduk di sofa yang terlihat sudah usang namun, masih bisa digunakan untuk duduk.

Aurel menutupi kedua matanya dengan lengan dan tiduran di sofa itu, ia diam dengan menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.

"Gue kira nggak ada orang," ucap seseorang.

Aurel membuka mata dan menatap sosok laki-laki yang sedang duduk di dinding menghadap ke langit dengan kaki yang bergelantung.

"Gue, Aksa. Kelas sebelas IPA dua," ucapnya tanpa menatap Aurel.

"Nggak tanya," balas Aurel dingin dengan mata yang masih terpejam.

Aksa tersenyum tipis. "Hanya ingin memperkenalkan diri" ucapnya. "Lo, Aurellia Gabrielle bukan?" lanjut tanyanya memastikan.

Aurel diam. "Kalau nggak ada jawaban berarti benar," lanjut Aksa dengan senyuman tipis.

"Pergi. Jangan ganggu gue," usir Aurel agak ketus.

Lagi-lagi Aksa tersenyum. "Gue mau temani lo. Takut-takut lo lompat karena patah hati," ucapnya membuat Aurel membuka mata.

"Maksud lo?" tanya Aurel bingung.

"Lo mau tahu? Sahabat lo, Arsen sedang menyatakan perasaannya pada Senata di tengah lapangan."

Deg!

Detak jantung Aurel berdetak kencang. Dadanya serasa begitu sesak saat mendengar ucapan cowok itu.

"Lo-lo bohong?" tanya Aurel yang masih tidak percaya.

Aksa mengangkat kedua bahunya. "Lihat tuh! Acaranya sedang berlangsung," jawabnya masih dengan tatapannya yang tertuju pada lapangan.

Segera Aurel bangun dan mendekati Aksa. Melihat ke arah pandang cowok itu dan benar saja, seorang Arsen sedang berlutut di depan Senata dengan bunga di tangannya.

Aurel terdiam beberapa detik dengan kedua mata berkaca-kaca. "Lo jahat, Sen," ucapnya dalam hati.

Aurel memundurkan langka. Ia tidak ingin melihat kedua sahabatnya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi sepasang kekasih.

Aksa yang melihat reaksi Aurel, merasa iba. Cewek di depannya pasti menyukai seorang Arsen itu.

"Lo nggak apa-apa?" tanya Aksa ragu, dirinya hanya ingin memastikan kalau cewek itu baik-baik saja.

Aurel menggeleng pelan. "Nggak, gue sedang tidak baik," jawabnya lirih dan kembali duduk di sofa dengan menunduk menatap sepatunya dan sedetik kemudian, air mata jatuh dari sudut matanya.

Aurel menahan isakan agar tidak keluar karena Aurel adalah tipe perempuan yang tidak mau orang lain tau masalahnya. Ia akan menyimpan semua masalahnya dengan rapat-rapat. Bahkan seorang Arsen pun tidak mengetahui masalah keluarganya.

Aksa menatap Aurel yang menunduk, dirinya tahu kalau gadis itu menangis dalam diam. Terdengar suara isakan yang tertahan darinya.

"Kalau lo butuh sandaran gue siap jadi tempat curhat lo," ucap Aksa, dirinya sangat tidak menyukai jika ada seorang perempuan menangis di depannya.

Aurel tidak merespon. Gadis itu langsung pergi begitu saja dari area rooftop.

Menghela napas, Aksa menatap punggung Aurel yang bergetar itu. "Ternyata lo pembohong yang handal," gumamnya.

🍁

Vote, share and comments
Thanks

FRIEND ZONE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang