Hamil☘️

4K 104 2
                                        


Hari-hari kian berlalu tanpa terasa. Waktu bergerak pelan, tetapi perubahan terjadi begitu nyata baik pada tubuh maupun pada perasaan yang tak terucap.

Di sebuah kamar rawat rumah sakit yang berbau obat dan antiseptik, suara alat medis berdengung pelan. Pangestu Wijaya atau Pak Estu terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya tampak pucat dengan napas yang naik turun tak beraturan. Di sisi ranjang, Anggun duduk setia, sementara Pandu mondar-mandir gelisah di dekat pintu kamar mandi.

Untuk kesekian kalinya, Pandu menunduk di depan wastafel. Rasa mual kembali naik hingga membuat tenggorokannya perih.

"Pandu," panggil Anggun dengan nada khawatir. "Kamu kenapa mual terus, sih?"

Pandu keluar dari kamar mandi sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Gak tahu, Bu," jawabnya lirih. Suaranya terdengar lemah, jauh dari sosok tegas yang biasa mengurusi pabrik-pabrik keluarga.

Anggun mengamati putranya dengan saksama. Sejak beberapa hari terakhir, Pandu memang terlihat berbeda mudah lelah, sering terdiam, dan kini tubuhnya sendiri seolah memberi tanda yang tak bisa diabaikan.

"Kamu kecapekan," ujar Anggun akhirnya. "Pulang saja ke rumah. Biar Ibu yang temani Ayah di sini."

Pandu menggeleng pelan, berusaha menahan pening yang kembali menyerang kepalanya.
"Enggak, Bu," jawabnya sopan, meski suaranya terdengar dipaksakan.

Anggun menghela napas. Ia tahu kerasnya tanggung jawab yang dipikul anak bungsunya itu. Dua cabang pabrik keluarga kini sepenuhnya berada di tangan Pandu. Ayahnya sudah tak lagi kuat, sementara kakak perempuannya memilih fokus pada profesinya sebagai dokter kandungan.

"Kalau begitu, temani Ibu sebentar," kata Anggun sambil berdiri. "Pak Samsul cuti hari ini, gak ada yang nganter Ibu kerja."

"Iya, Bu," jawab Pandu singkat.

Ia melirik ayahnya yang tertidur, lalu menunduk pelan. Ada rasa bersalah yang mengendap di dadanya terhadap ayahnya, ibunya, dan seseorang yang terus hadir dalam pikirannya.

Di sisi lain, suasana restoran tampak ramai. Asap dari dapur mengepul, aroma masakan bercampur dengan suara wajan dan piring yang beradu.

Zena menyeka peluh di pelipisnya untuk kesekian kali. Tubuhnya terasa semakin lemas, kepalanya ringan seperti melayang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

"Zen, kamu istirahat dulu," ujar seorang rekan kerjanya, Ferdi, lelaki berambut kribo yang berdiri di dekatnya. "Gak tega aku lihat kondisi kamu."

Zena tersenyum tipis, berusaha tampak baik-baik saja. "Ah, enggak, Fer. Aku masih kuat."

Ferdi mengernyit. "Wajah kamu pucat. Kesehatan itu mahal, Zen."

Zena terdiam sejenak, lalu mengangguk lemah.
"Ya sudah aku istirahat sebentar."

Ia melangkah menuju dapur, mengambil segelas air mineral. Setelah meneguknya perlahan, Zena menghembuskan napas panjang.

"Hah leganya," gumamnya.

Matanya menyapu dapur yang sibuk. Para koki berlalu-lalang, suara perintah dan tawa kecil terdengar bersahutan. Namun, pandangan Zena terhenti ketika seseorang berdiri di ambang pintu dapur.

"Zena."

Suara itu lirih, tapi cukup membuat jantungnya berdegup kencang.

Para koki pamit satu per satu, meninggalkan Zena berhadapan dengan sosok lelaki berwajah pucat di hadapannya.

"Pandu?" Zena menatapnya terkejut.

Pandu melangkah mendekat, wajahnya tegang. Tangannya gemetar saat mengulurkan ponsel ke arah Zena.

Because Of You (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang