"Zena?" Suara itu memanggil namanya, lembut namun cukup lantang untuk memecah keramaian di sekitarnya. Zena yang sedang berjalan perlahan sejenak menoleh ke arah asal suara itu.
"Mahe, Sherly?" Matanya membulat, tak percaya. Di hadapannya, dua sejoli itu tengah bergandengan mesra, senyum merekah di wajah mereka. Namun, sorot mata Sherly segera berubah ketika matanya jatuh pada perut Zena yang tampak membesar. Ada kilatan haru, mata Sherly sedikit berkaca-kaca, seolah tak menyangka bisa bertemu Zena dalam kondisi ini.
Sherly melangkah cepat, hampir berlari, dan memeluk Zena dengan erat. Aroma parfum khas Sherly memenuhi udara di sekitar mereka. "Zen lo di mana aja sih? Gue khawatir sama lo," suara Sherly bergetar, ada nada cemas bercampur hangat.
Tubuh Zena menegang seketika. Ia terdiam, tak tahu harus membalas pelukan itu atau bagaimana mengekspresikan perasaannya. Detak jantungnya berpacu, campuran antara kaget, haru, dan sedikit canggung karena kejadian ini datang begitu tiba-tiba. Wajahnya memerah samar, tangan yang semula menggenggam jaket kini menggenggam pelan lengan Sherly, tanpa tahu harus berbuat apa.
"Zen," lirih Sherly, menahan genggaman tangan Zena dengan lembut, menatap matanya. Ada rintihan haru terselip di nada suaranya, seolah ingin menembus dinding hati Zena yang mulai menutup.
Zena hanya bisa diam, membisu. Kata-kata seolah tersedak di tenggorokannya. Ia ingin menjelaskan semuanya, ingin berkata bahwa ia telah berubah, bahwa hidupnya kini tak lagi sama, namun mulutnya tetap terkunci rapat. Hanya pandang matanya yang berusaha berbicara, menatap kedua sahabatnya dengan campuran rasa rindu dan kesedihan.
"Lo marah sama kita, Zen?" suara Mahe terdengar, sedikit ragu namun lembut. Pandangan Mahe menyapu wajah Zena, menunggu tanda sekecil apa pun bahwa Zena baik-baik saja.
Zena menelan ludah, menundukkan kepala sesaat sebelum akhirnya menatap ke arah keduanya. "Lebih baik kita bicarakan di café sana aja," jawabnya pelan, suaranya masih terdengar getir namun berusaha terdengar tenang. Ia menunjuk ke arah kafe yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, berharap dapat sedikit privasi.
Sherly mengangguk, menarik napas panjang. Mahe pun melepaskan genggaman tangan Zena dan membiarkan mereka berjalan perlahan ke kafe. Di sepanjang jalan, ketiganya berjalan berdampingan meski sedikit canggung, namun ada rasa lega karena akhirnya bisa bertemu kembali.
Hati Zena berdebar, perasaan campur aduk memenuhi dadanya. Ada rindu yang lama terpendam, cemas, sekaligus rasa bersalah yang ia coba sembunyikan. Ia sadar, meski kini ia hamil besar, hidupnya tetap bergerak maju, dan pertemuan ini adalah pengingat bahwa dunia luar di luar masalahnya dengan Pandu masih ada teman-teman yang peduli padanya.
---
Kini mereka bertiga duduk di sebuah kafe kecil yang hangat, tak jauh dari tempat Zena pertama kali bertemu Sherly dan Mahe. Aroma kopi dan roti bakar mengisi udara, namun bagi Zena, itu tak lebih kuat dari ketegangan yang membayang di sekelilingnya.
"Lo menikah, nggak kabarin ke kita, dan nomor ponsel lo juga susah dihubungi. Kenapa?" suara Sherly terdengar tegas, mata cokelatnya menatap lurus ke wajah Zena, penuh rasa penasaran dan sedikit curiga. Ia menyadari ada sesuatu yang disembunyikan temannya itu.
Zena menelan ludah, bibirnya sedikit bergetar. "Aku ehmm." Ia mulai, namun kata-kata itu seakan tersedak di tenggorokannya.
"Bicaralah yang jujur, Zen!" Sherly menambahkan, nada suaranya memohon sekaligus menekan. Matanya yang berbinar memperlihatkan kekhawatiran yang dalam.
Zena menundukkan kepala, jari-jarinya meremas pegangan tas di pangkuannya. Ia merasa seolah diinterogasi. "Aku-aku nggak bisa." Suaranya pelan, hampir tersedak. Ia ingat janjinya pada Pandu tidak membongkar pernikahan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because Of You (Tamat)
Literatura FemininaDimulai: 23 Mei 2020 Tamat: 19 Juli 2020 ••• ─── ✦ ─── ••• Zena Namira Arnalda, wanita yang baru akan menginjak usia 20 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan: hamil di usia muda di tengah perjuangannya menata hidup sepeninggal kedua orang tuanya...
