TujuhBelas

212 47 4
                                        

Yeeeee I'm Come Back  sama CB ini readers....
Janga lupa selalu kasih vote biar aku semangat yaaa

Happy Reading♡

₩₩₩

"Gak..!! Itu gak akan terjadi..!" Pekik pemuda yang baru terjaga dari tidurnya.

Dia menghela nafas kasar dan mencengkram rambutnya sendiri. Mencoba mengusir kegusaran yang tiba2 datang diwaktu tidur sorenya.

Nia yang mendengar suara Dimas dari kamar segera datang.

"Sayang.. kamu kenapa.? Koq teriak2..? Kamu mimpi buruk ya.? Hmm.." Nia mengusap lembut keringat dingin yang bercucuran dikening kekasihnya.

"Iya.. barusan aku bermimpi kalau kejahatanku selama ini terbongkar, dan polisi menangkapku." Jelas Dimas dengan nafas yang masih menderu.

Ya, adegan dimana Zoya menemui Dimas dan ditangkap oleh polisi hanya mimpi. Dan sekarang ini masih hari yang sama dengan saat dirinya yang akan ditembak oleh Vino.

¤¤¤

"Sekarang jelasin, apa yang mau loe jelasin kegue." Ujar gadis itu dingin pada pemuda yang duduk dihadapannya.

"Ini bukti, kalo gue bukan pelaku pelenyapan bokap loe. Loe bisa liat sendiri. Dan gue juga mau loe baca berkas ini." Jelas pemuda itu tak kalah dingin.

Ya, berkat bantuan dari sahabatnya-Farhan dan Restu-, akhirnya Vino mampu membuktikan kesalah fahaman yang terjadi antara dirinya dan Zoya. Semua buktu itu menunjukkan bukan Vino pelakunya. Entah bagaimana cara Farhan dan Restu, yang jelas semua terungkap sudah. Karena 'Sehebat2nya kejahatan pasti akan hancur juga (kalah)'.

Setelah melihat semuanya, kini saatnya Zoya membaca berkas yang dimaksud oleh Vino.

Disana tertulis surat tertulis yang dibuat langsung oleh sang Papa almarhum. Yang mana Mario menerangkan bahwa Vino adalah orang yang ia amanatkan melanjutkan tugas dari ayahnya yang sudah tiada. Mario menjelaskan pula bahwa selama bahaya masih terus mengancam putrinya, Vino selalu mempunyai kewajiban untuk menjaganya. Bahkan sampai dirinya tiadapun, tugas Vino masih tetap sama.

Zoya tercengang setelah membaca pesan dari almarhum sang Papa. Ia tak bisa memungkiri keaslian surat itu. Karena itu memang tulisan Papanya. Zoya sangat hafal dengan tulisan sang Papa termasuk tandatangan dibawah sana.

Berkas selanjutnya, berisikan kesepakatan Mario akan membantu pengobatan Ibu Vino sebagai tanggung jawab karena kematian Almarhum Ayah Vino.

"Masih belum puas..??" Dingin Vino.

Ini bukanlah Vino yang Zoya kenal dulu. Vino yang selalu mengganggunya dan membuatnya kesal ataupun marah. Sekarang, justru Vinolah yang terlihat kesal karena ketidak percayaan Zoya padanya. Zoya menatap Vino dengan tatapan menyesal(mungkin).

"Kalo masih belum, biar gue jelasin." Ujar Vino lagi.

"Gue, punya hutang budi yang teramat besar dengan Pak Mario. Adanya gue selalu ngikutin loe dan tau kemanapun loe pergi itu juga permintaan beliau. Sikap gue yang selalu loe anggep so' ngatur itu juga merupakan tugas dari beliau. Ibu gue sembuh juga karena beliau. Semua karena Pak Mario. Jadi apa pantes, gue yang cuma seorang pesuruh berani lakuin kejahatan terhadap orang yang udah bantu gue.?? Orang yang udah bikin orang tua gue satu2nya bertahan sampe sekarang. Apakah menurut loe itu hal yang etis, seandainya gue nglenyapin beliau dan ngrebut hartanya..??" Terang Vino panjang kali lebar yang membuat Zoya bungkam.

That Is NOT LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang