Dua minggu telah berlalu, selama itu, Tiana rajin mengunjungi rumah sakit, menanyai kabar Albert, meskipun kehadirannya tak pernah berujung baik, Albert bahkan tak pernah sekalipun menjawab panggilan nya. Angel akui keberaniannya sungguh sangat besar. Selain Albert, Alex tak banyak bicara, hanya sesekali, basa-basi memulai percakapan. Mungkin saja dia memang tipikal pria yang sedikit bicara.
"Mama, kapan Al bisa pulang? Di sini sangat membosankan."
Pertanyaan yang sangat Angel hindari itu akhirnya terucap, Dokter belum bisa benar-benar memastikan sebelum Albert mendapatkan kembali ingatannya.
"Al bisa pulang besok."
Bukan Angel yang bicara, melainkan Alex, pria itu baru saja kembali-menghadiri rapat penting-masih dengan setelan formal yang terlihat rapi. Ia berjalan dengan langkah yang tenang dengan menenteng sebuah paper bag berwarna hitam, meletakkannya di atas meja.
"Apakah semuanya baik, boy?"
"Semuanya baik, Dad. Tapi Al ingin cepat pulang, tidak mau lagi dirawat Dokter," keluh Albert sambil menunjukkan selang infus yang telah menemaninya selama dua minggu. Albert benar-benar merasa terganggu karenanya.
"Tentu saja, Al besok bisa pulang dan bermain seperti biasanya."
Albert berseru senang, ia mencium pipi Alex dan Angel bergantian, membuat suasana di ruangan itu menjadi hangat. Tiba-tiba ponsel Angel berdering, nama Erika tertulis jelas di layar ponsel, "Aku angkat telpon sebentar," ucap Angel sambil melangkah pergi
meninggalkan ruangan.
"Halo, kenapa Er?"
"Ada Tuan Lion Sanubara. Apakah aku terima atau menyuruhnya untuk membatalkan jadwal wawancara?"
"Atur saja jadwalnya, Er. Aku akan bersiap setelah ini."
"Eh, kemana?"
"Ke spanyol, beberapa hari lagi konferensi keluarga kerajaan diselenggarakan."
"Baiklah, akan aku atur."
Angel mematikan sambungan telepon, ia merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya. Ia menatap ke sekitar, pandangannya berhenti di satu titik. Wanita dengan rambut panjang berwarna pirang, seorang aktris yang sudah lama tak tersorot, Clara Cleopard. Angel mengenalnya, pernah sekali mereka bertemu di acara internasional.
"Halo, Nona Angel," sapa Clara setelah lama hanya diam dan memperhatikan. Angel tersenyum, sangat tipis, hampir tak terlihat.
"Halo."
Wanita itu kembali menatap Angel dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Jika tidak ada urusan, aku akan pergi, selamat tinggal."
Clara diam, menatap kepergian Angel hingga wanita itu hilang di ujung jalan. Memori otaknya memutar kembali sosok wanita cantik itu, yang seakan tidak ada bedanya hingga hari ini. Membuatnya begitu muak melihatnya.
Angel mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah kemacetan di sepanjang jalan. Pertemuannya dengan Clara adalah untuk yang kedua kalinya, Kiren pernah mengenalkan wanita cantik itu pada Angel dalam sebuah acara, senyum yang sama, tatapan yang sama, dan cara bicara yang sama. Entah kenapa Clara bertingkah seakan pernah mengenalnya.
Lima puluh meter dari lampu lalu lintas, pandangan Angel tertuju pada papan billboard dengan tinggi empat belas kaki dan lebar empat puluh delapan kaki, LED screen seluas 125.000 kaki persegi. Di layar dengan pencahayaan tinggi, wajah cantik dan senyum tipis yang membuat foto itu terlihat elegan, dengan tulisan besar bertuliskan namanya, Angel Lalisa Bert, CEO perusahaan raksasa terbesar di dunia dengan puluhan ribu anak perusahaan, mendominasi 40 persen pasar di dunia. Sangat berlebihan. Ekonomi di dunia hanya sepersepuluh dari yang ia miliki sekarang, modal penanaman saham terus berjalan, berlanjut di semua bidang ekonomi, terus berjalan dan tak dapat dihentikan, kecuali tiba-tiba ada agresi militer yang mengakibatkan perang dunia keempat yang membuat Amerika mengalami krisis ekonomi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mother is CEO
Romance𝘼𝙣𝙜𝙚𝙡 𝙇𝙖𝙡𝙞𝙨𝙖 𝘽𝙚𝙧𝙩, wanita karir paling sukses di usia 24 tahun yang lama men-jomblo karena sifatnya yang 'sangat pemilih', namun tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya soal mengelola perusahaan. Pertemuannya dengan seorang anak...
