Angel menatap seseorang di hadapannya dengan tatapan bertanya.
"Kiren, kenapa kamu di sini? Bukannya tadi kamu bilang mau pulang cepet, yah?" tanya Angel dengan alis yang terangkat satu.
"Aku ... Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Kiren. Angel hanya mengangguk.
"Ngomong aja." Kiren menggeleng. "Nggak di sini, aku mau ajak kamu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Ikut aja," bujuk Kiren. Angel mengangguk.
"Okey, sekarang?" tanya Angel. Kiren mengangguk. Angel menutup layar laptopnya kemudian beranjak untuk mengikuti Kiren menuju ke suatu tempat.
"Kenapa kita malah ke kafe?" tanya Angel saat mereka telah sampai di kafe yang letaknya agak jauh dari kantor.
"Aku kan udah bilang, aku mau ngomong sesuatu ke kamu," ucap Kiren.
"Okey." Mereka masuk ke dalam sebuah ruang VIP.
Sudah ada makanan dan minuman di meja yang telah tersedia.
"Jadi, kamu mau ngomong tentang apa?" tanya Angel to the point.
"Ini ... Masalah tiga tahun yang lalu," ujar Kiren. Angel hanya mengerutkan kening.
"Iya? Jadi ...." Angel dan Kiren sama-sama terdiam. Angel yang menunggu Kiren bicara dan Kiren yang mencoba mengawali ceritanya.
"Aku ada di samping kamu tiga tahun yang lalu, kamu sahabatku, dan kita selalu bersama. Tiga tahun yang lalu, seseorang bernama Steven, dia ...." Angel mengangkat kedua alisnya, menunggu kelanjutan cerita Kiren tentang masa lalunya.
"Dia kenapa?" Tanya Angel tak sabaran. Angel tau siapa Steven, tapi dia sama sekali tak mengetahui penyebab pasti kematiannya. Dia tidak ingat. Yang dia ingat hanya setelah dia lulus kuliah, dia menjalankan bisnis keluarga Bert kemudian membangun perusahaannya. Selama tiga tahun.
"Aku tahu, kamu pasti mikirnya tiga tahun yang lalu itu kamu bekerja mengurus perusahaan ayah kamu, kan?" Angel mengangguk.
"Iya, bukankah memang seharusnya seperti itu? Jika Steven, bukankah dia hanya masa laluku? Apa hubungannya dengan Steven?" Tanya Angel bertubi. Kiren hanya terdiam, bingung antara harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
"Tapi Angel, kamu tahu peristiwa kematian Steven?" Tanya Kiren. Angel terdiam lalu menggeleng.
"Kau melupakannya, aku tahu itu, kamu pasti lupa, karena kamu terjebak dalam memory yang terhapus. Dan sebaiknya aku tidak menceritakan itu." Kiren sedikit melirihkan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir.
"Terjebak dalam memory? Apa maksudmu?" Tanya Angel menatap Kiren dengan serius.
"Aku ... Em ... Sebaiknya tidak sekarang." Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja Kiren langsung berdiri lalu berjalan keluar ruangan.
"Kiren, tunggu. Apa maksud kamu?!" Angel hanya bisa mengusap wajahnya.
"Aku nggak abis pikir, kenapa mereka selalu berputar-putar dan menyembunyikan kejadian tiga tahun lalu," ucap Angel sambil menggeleng. Dia berdiri hendak berjalan keluar ruangan sebelum seseorang memanggilnya.
"Angel," teriakan seseorang membuat beberapa pengunjung kafe menatapnya.
Angel membalikan badannya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Alex? Ngapain di sini?" Tanya Angel saat Alex sudah ada di hadapannya.
"Em ... Habis ketemu klien." Angel mengangguk. "Kamu sendiri ngapain di sini?"
"Em ... Abis ketemu Kiren," ucap Angel. Alex mengangguk. "Udah makan siang?" Tanya Alex. Angel menggeleng.
"Mau makan bareng? Atau abis ini ada acara?" Angel menggeleng sambil tersenyum.
"Nggak ada kok, abis ini nggak ada acara," kata Angel. "Ya udah, yuk." Alex langsung menggenggam kuat tangan Angel, sementara Angel sedikit terkejut dengan perlakuan Alex. Dia mengajak Angel menuju ke sebuah ruangan, di tengahnya terdapat meja dan kursi khusus untuk dua orang.
Setelah memesan makanan, tak ada percakapan di antara mereka. Dan Angel mengawali percakapan di antara mereka.
"Alex, kau pernah bilang kalau kau belum ... Menikah bukan?" Alex menatap Angel kemudian mengangguk.
"Ya, lalu?" Angel menatap Alex dengan tatapan bertanya.
"Lalu, Al itu siapa?" Tanya Angel menatap serius kepada Alex. Sementara Alex mengalihkan pandangannya.
"Dia ... Dia adalah putraku dan selamanya akan seperti itu. Walaupun Al bukan darah dagingku," ujar Alex.
"Di mana ibu Al?" Tanya Angel lagi. "Bisakah kau tidak menanyakan tentang ini lagi? Aku yakin kamu akan mengerti suatu saat."
Setelah mengatakan itu, Angel memilih untuk diam sampai mereka selesai makan.
"Mau aku anterin ke kantor?" Tawar Alex. Angel menggeleng. "Nggak perlu, aku bawa mobil sendiri," ujar Angel. Tersenyum tipis, sangat tipis, kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Pliss, jangan marah. Aku yakin suatu saat kamu tahu dan kamu akan mengerti," ucap Alex setelah Angel pergi.
Dia berjalan menuju mobilnya lalu melaju untuk kembali ke kantor.
__________________________________________________________________________________________________________________________
Yes, author akhirnya bisa update lagi. Mumpung libur panjang nih😁😁😁
Kalau ceritanya nggak paham di paham pahamin aja yah
Di tungguin yah, selama dua Minggu author bakal sering update nih keknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mother is CEO
Romance𝘼𝙣𝙜𝙚𝙡 𝙇𝙖𝙡𝙞𝙨𝙖 𝘽𝙚𝙧𝙩, wanita karir paling sukses di usia 24 tahun yang lama men-jomblo karena sifatnya yang 'sangat pemilih', namun tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya soal mengelola perusahaan. Pertemuannya dengan seorang anak...
