"Ayo jawab Alex, kamu adalah seorang CEO, apakah kamu akan hanya diam saja dengan keputusan ayahmu?" tanya Angel geram karena lawan bicaranya sedari tadi hanya diam saja.
"Kau sendiri, kenapa kau mau melanjutkan hubungan ini jika kamu tidak mencintaiku? Kau juga seorang CEO, tapi kenapa kamu mau di jodohkan orang tuamu?" tanya Alex dengan wajah datar.
"Sejujurnya aku tak ingin bersama dengan orang yang tak aku cintai, tapi aku terlanjur menyayangi Al. Apakah aku salah telah menyayangi anak itu?" tanya balik Angel. Alex terdiam.
"Kembali ke topik awal. Kau ingin melanjutkan hubungan ini?" tanya Angel.
Alex lagi-lagi terdiam.
"Jika kau tidak mau, tak apa. Aku akan bilang pada dad," ujar Angel. Dia hendak pergi kembali ke ruang orang tuanya, sebelum Alex menghentikannya.
"Tunggu Angel, kita akan tetap melanjutkan hubungan ini," kata Alex dengan tegas.
Angel menatap Alex dengan tatapan tak yakin.
"Kau yakin? Bagaimana dengan kekasihmu?" tanya Angel.
Alex menghela napas dengan berat.
"Sebenarnya aku tak ingin menyakitimu, tapi beri aku waktu selama satu minggu untuk bersamanya sebelum pertunangan kita," ucap Alex.
Angel menatap datar pada Alex.
"Okey, sebelum pertunangan aku memberi mu waktu selama satu minggu, jika kamu masih mencintainya, pergilah dengannya," ucap Angel, setelah itu dia pergi untuk menemui orang tuanya.
Sementara Alex hanya terdiam, dia merasa bersalah pada Angel.
******
Angel berjalan untuk kembali ke tempat orang tuanya berada, tapi dia berhenti saat seseorang memanggilnya.
"Angel?". Angel membalikkan badannya, dia menatap laki-laki yang sudah tak asing lagi baginya.
"Reza?!" ujar Angel tak percaya. Dia langsung berjalan lalu memeluk laki-laki itu.
"Senang bisa bertemu lagi denganmu Angel," ucap Reza balas memeluk Angel.
Mereka berpelukan cukup lama, hingga Angel mengurai pelukannya.
"Kau tak berubah," ujar Angel sambil tersenyum namun dia juga meneteskan air matanya.
"Kau juga, kau masih sama orang yang tertawa saat kau sedang sedih," ujar Reza.
Angel terkekeh. Lalu tiba-tiba suasana menjadi hening. Bahkan entah kenapa sekarang Angel justru terisak.
"Please, jangan di ingat lagi. Aku nggak mau kamu terus-terusan sedih kayak gini." Reza kembali memeluk wanita itu. Laki-laki tampan itu juga merasakan sakitnya hati Angel kehilangan dia.
Saat Angel dan Reza masih dalam berpelukan, seseorang langsung menarik tangan Angel hingga dia menabrak dada bidang orang itu.
"Jangan sentuh calon istriku," ucapnya. Siapa lagi selain Alex Roys Risjad.
Reza menatap bingung ke arah Alex dan Angel.
"Benarkah itu Angel?" tanya Reza. Angel terdiam.
Dia menatap wajah Alex yang terlihat memerah dengan mata tajamnya.
Angel mengangguk.
"Itu bagus, aku ikut senang akan hal itu. Aku bahagia kau tak terpuruk dalam kejadian dua tahun lalu," ujar Reza dengan bahagia meski di dalamnya terselip kekecewaan.
Alex menatap Reza dengan dahi mengerut.
"Ada apa dengan kejadian dua tahun lalu?" tanya Alex.
Reza hanya tersenyum pada Angel lalu dia berbalik arah untuk pergi dari sana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Angel saat Reza sudah benar-benar pergi dari pandangannya.
"Apa yang aku lakukan? Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan dengan laki-laki itu?" tanya Alex dengan nada tegas.
"Aku tak melakukan apapun, dia adalah sahabatku!" ucap Angel dengan penekanan di setiap katanya.
Dia melangkah untuk kembali, namun sebelum itu Angel berbicara tanpa menatap sang lawan bicara.
"Dan dengar Alex, kita belum resmi bertunangan. Bisa saja kau membatalkannya dan pergi dengan kekasihmu," ujar Angel lalu dia berjalan menjauh dari Alex.
Alex menatap bingung pada Angel. Dia gadis yang susah untuk di tebak dan penuh mistery.
******
"Angel, sini duduk sayang." Angel mengangguk, dia duduk di samping momnya.
"Dimana Alex?" tanya tante Fara.
Belum juga Angel menjawab, seseorang yang ditanyakan langsung muncul.
"Alex, sini duduk," ujar Risjad.
"Ekhem, jadi kami telah menentukan tanggal pertunangan kalian," ucap daddy Angel.
Angel mulai serius menatap daddynya.
"Jadi, dua minggu dari sekarang kalian akan bertunangan. Dan satu minggu setelahnya kalian akan menikah," ujar daddy Angel.
Angel menatap tak percaya daddynya itu.
"Dad serius? Secepat itu?" tanya Angel pada daddynya.
Mommy Angel mengangguk.
"Tenanglah Angel, dua minggu bukankah waktu yang cukup untuk kalian berdua saling mengenal?" tanya momny Angel.
Angel menghembuskan napasanya dengan berat.
"Baiklah jika itu mau kalian," ucap Angel dengan pasrah.
"Bagaimana pendapatmu Alex?" tanta daddy Angel. Angel menatap ke arah Alex.
Sebelum menjawa, Alex menatap Angel. Lalu dia mengangguk.
Orang tua Angel dan Alex senang dengan keputusan mereka. Sementara Angel dan Alex hanya diam. Dan Gio menatap sesuatu yang menjadu beban dalam hati Angel. Dia bisa melihatnya dari raut wajah adiknya yang hanya pasrah.
Gio jelas tahu bagaimana sifat adiknya itu, dia tidak akan mengecewakan orang tuanya dan akan menanggung semua bebannya sendiri.
*****
"Kau yakin Angel?" tanya Gio dengan nada lembut.
Angel menatap kakaknya dengan dahi yang berkerut.
"Maksud nya?" tanya Angel tak mengerti.
"Kakak tau kalau kau keberatan dengan perjodohan ini," ucap kak Gio.
Angel menghembuskan napasnya. Dia menatap ke arah taman belakang rumahnya.
Yah, sekarang mereka sedang berada di rumah setelah mengantar orang tua Angel ke bandara.
"Semuanya akan baik-baik saja kak. Semuanya akan baik, termasuk pernikahanmu dengan kak Rere," ucap Angel sambil tersenyum, lalu dia pergi dari sana untuk ke kamarnya dan kemudian beristirahat.
"Semuanya akan baik-baik saja? Semuanya tak akan baik jika kau memendamnya sendiri," ujar Gio, lalu dia berjalan menuju ke kamarnya.
___________________________
Halo guys, author coba up lagi nih. Kasih vote sama koment nya yah.
Author mau tanya,
Gimana pendapat kalian tentang part ini?
Kasih dukungannya yah, biar author bisa cepet update.
See you guys😘😘😘❤
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mother is CEO
Romance𝘼𝙣𝙜𝙚𝙡 𝙇𝙖𝙡𝙞𝙨𝙖 𝘽𝙚𝙧𝙩, wanita karir paling sukses di usia 24 tahun yang lama men-jomblo karena sifatnya yang 'sangat pemilih', namun tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya soal mengelola perusahaan. Pertemuannya dengan seorang anak...
