BAB 20

55.6K 2.9K 50
                                        

"Kamu kan ...




























"Kamu ... Reza!" pekik Angel seraya membekap mulutnya sendiri.

"Aku seneng banget bisa ketemu lagi sama kamu," ujar Reza.

Angel menggeleng, lalu memeluk laki-laki itu. "Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Angel sambil melepas pelukannya.

"Kamu itu gimana sih, kamu lupa kalau aku pemilik perusahaan Eyhan company?" tanya Reza. Angel mengerutkan keningnya.

"Benarkah?" tanya Angel. Reza menggeleng, dia heran dengan sahabatnya ini, mengapa dia menjadi pelupa?

"Mommy, apakah mommy kenal uncle itu?" tanya Al. Angel tersenyum seraya mengangguk.

"Bagaimana Al bisa dengan kamu?" tanya Angel pada Reza.

"Tadi aku menemukan mereka duduk berdua, aku pikir mereka kehilangan orang tuanya. Jadi, aku ajak mereka ke sini," ujar Reza.

"Mommy, uncle itu siapa?" tanya Is seraya menunjuk Reza.

"Dia adalah Uncle Reza, dia sahabat Mommy," ujar Angel.

"Hai Uncle Reza, kita main yuk," ajak Al seraya menarik tangan Reza.

"Mommy juga, ayo main," ujar Is, dia menarik tangan Angel. Mereka mau tak mau ikut bermain dengan Al dan Is.

"Al, Is, Mommy lelah. Kalian lanjut main berdua saja," ujar Angel, lalu dia berjalan ke bangku taman dekat pohon yang rimbun.

Reza melakukan hal yang sama, dia duduk di samping Angel seraya menatap Al dan Is.

"Mereka itu lucu yah," ujar Reza tanpa mengalihkan tatapannya dari Al dan Is.

Angel mengangguk seraya tersenyum, dia juga fokus menatap Al dan Is yang sedang lari-larian.

"Kamu ingat waktu kita SMA?" tanya Reza seraya menatap Angel. Angel mengerutkan keningnya.

"Yang mana?" tanya Angel.

"Saat kita bolos waktu pelajarannya pak botak," ujar Reza. Angel menatap Reza seraya mengangkat kedua alisnya.

"Waktu kita bolos lewat gerbang belakang yah," ucap Angel. Reza mengangguk.

"Ya ampun, kamu ingat?" tanya Angel tak percaya.

"Tentu saja, aku ingat banget saat kamu nabrak steven dan dia cuman cuek gitu aja," ujar Reza. Angel terdiam.

"Steven," gumam Angel. Reza juga ikut terdiam, dia keceplosan mengucapkan nama itu.

"Iya, dia laki-laki beruntung yang berhasil mendapatkan hati kamu," ujar Reza. Angel menatap sendu ke arah Reza.

"Ya, dia beruntung. Dia sangat mencintaiku hingga dia pergi jauh dariku," ujar Angel menatap kosong taman di hadapannya.

"Kenapa? Kau masih belum bisa melupakannya?" tanya Reza. Angel menggeleng.

"Tidak, dua malaikat kecilku membuat aku melupakan kenangan buruk itu," ujar Angel seraya tersenyum tipis.

Reza terdiam, dari raut wajahnya. Dia terlihat senang namun juga sedih.

Dia seakan tak lagi memiliki harapan, harapan untuk bersama dengannya.

"Mommy, Al lelah," ujar Al seraya berjalan mendekati Angel bersama dengan Is di sampingnya.

"Istirahatya, sayang. Atau mau langsung pulang aja?" tanya Angel. Al dan Is, keduanya menggeleng.

"Al sama Is masih mau di sini," ujar Al. Is mengangguki jawaban Al.

"Hm ... Gimana kalau kita masuk, terus makan eskrim," ujar Reza.

"Yey, eskrim. Ayo uncle," teriak Al dan Is. Reza tersenyum, dia menatap ke sampingnya.

"Kau masih mau di sini?" tanya Reza seraya berdiri. Angel mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Angel lagi-lagi hanya mengangguk. Dia beberapa kali mengembuskan napasnya dengan pelan setelah Reza, Al dan Is pergi.

Angel enggan untuk beranjak dari sana, angin segar membuatnya betah berlama-lama di sana.

Dia mengingat kenangannya bersama dia. Perlahan-lahan Angel akan melupakannya. Dia tak ingin berlarut-larut dalam kenangan bersama dia.

Saat Angel hendak berdiri, seseorang datang mendekatinya.

"Kenapa kau di sini?" tanyanya. Angel terdiam. Dia mengembuskan napasnya lalu menjawab pertanyaan dari seseorang yang sangat ia kenal.

"Aku hanya sedang menikmati udara segar," ujar Angel seraya tersenyum tipis.

"Dan, kenapa kau di sini? Di mana Clara?" tanya Angel. Alex terdiam. Ya, dia adalah Alex.

"Aku hanya ingin menghirup udara segar. Dan soal Clara, dia pergi karena ada urusan," ujar Alex.

Suasana hening tercipta diantara mereka. Keduanya sama-sama diam.

"Jadi, bagaimana dengan Clara?" tanya Angel. Alex terdiam.

Dia menatap Angel yang juga sedang menatapnya.

"Kau merahasiakan sesuatu dariku. Kenapa?" tanya Angel. Alex mengembuskan napasnya. Dia duduk di samping Angel. Lalu menyandarkan kepalanya di sandaran bangku taman.

"Kau tidak harus mengetahuinya sekarang," ujar Alex. Angel menatap ke sampingnya.

"Kenapa? Apakah aku harus menunggu hingga dua minggu? Menunggu keputusan darimu yang tidak pasti?" tanya Angel bertubi. Alex kembali terdiam.

"Aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantumu, karena kau sendiri yang menolakku untuk membantumu," ujar Angel.

Alex menatap Angel. Dia tak percaya jika perempuan di sampingnya itu selalu berpikir dua langkah ke depan sebelum bertindak ataupun berbicara.

"Kau mau membagi masalahmu?" tanya Angel. Alex mengangguk.

"Aku ingin jujur padamu," ujar Alex.

Angel diam, dia ingin mendengarkan dengan jelas suatu kebenaran yang tersimpan.

"Kau tahu berapa usiaku?" tanya Alex. Angel mengerutkan keningnya.

"27?" Alex menggeleng. "Lebih kecil dari itu," ujarnya.

"26?" tanya Angel, setaunya Alex berumur 27. Walau, penampilan dan perawakan Alex lebih bisa di bilang berusia sama dengan Angel.

"Tidak, umurku adalah 24," ujar Alex. Angel mengerutkan keningnya, sangat jelas jika saat ini Angel sedang bingung dan terkejut.

"Semuda itu?" tanya Angel tak percaya. Alex mengangguk.

"Di usia berapa kau menikah?" tanya Angel, kenapa dia justru penasaran dengan kehidupan masa lalu Alex?


________________________________________________________________________
___________

Maaf ya, sengaja author gantungin. Mungkin, mulai dari part ini perlahan kenyataan terungkap.

Maaf kalau nggak sesuai ekspektasi kalian🙏🙏🙏

Kasih vote⭐sama koment💬nya jangan lupa.

Kalian pikir tadinya berapa umur Alex? Serius nanya.

My Mother is CEOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang