BAB 13

66.6K 3.5K 33
                                        

Angel pov

Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran orang tuaku. Apakah mereka bercanda ingin menjodohkanku dengan Alex? Atau mereka sudah gila.

Aku menggelengkan kepalaku, mencoba menghilangkan pemikiran buruk tentang orang tuaku. Aku mengganti pakaian kerjaku dengan baju tidur. Sekarang aku sangat lelah dan mengantuk. Aku ingin beristirahat walau hanya untuk sejenak saja.

Aku membaringkan tubuhku di kasurku yang empuk. Sudah lama aku tak tinggal di sini. Saat aku benar-benar ingin memejamkan mataku, ku dengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku kembali duduk di sisi ranjang.

"Masuk saja," kata ku.

Pintu terbuka, di balik pintu menampakan seseorang yang sangat aku kenal, Alex. Aku berjalan duduk di sofa dengan meja kecil di sana. Alex mengikutiku, dia duduk di sofa yang berlawanan denganku.

"Kenapa?" tanyaku to the point. Ku lihat wajah Alex yang sangat serius, bahkan beberapa kali dia menghembuskan napasnya dengan pelan.

"Jelasin kenapa? Jangan buat aku bingung."

Alex menatapku dengan tatapan sedih? Entahlah, aku tak bisa membacanya.

"Jawab Alex, kita akan memulai hubungan baru. Aku tak ingin kau menutupi sesuatu dari ku, mesku itu menyakitkan sekalipun," ucapku dengan berat. Karena, rasanya itulah beban yang sekarang sedang di pikul Alex.

"Jadi, sebenar aku ingin mengatakan sesuatu," kata Alex, dia berhenti berbicara sebentar.

"Ya, jadi?" Aku mulai penasaran dengan topik pembicaraan nya.

"Jadi, aku cuman mau cerita tentang seseorang yang aku cintai," ucap Alex. Aku mengangguk, meski di dalam hatiku aku bernapas dengan berat hati.

"Dia sahabatku, dia menyayangi Al sama halnya seperti kamu yang menyayanginya. Tapi, Al tak menyukai dia. Walau sebenarnya, dia adalah-" ucapan Alex menggantung. Padahal aku menunggu kelanjutan ucapannya. Dia siapa? Apakah dia kekasih Alex? Atau dia adalah mantan yang mencoba mendekati Al?

"Dia adalah?" tanyaku, karena aku melihat perubahan wajah Alex yang seperti ingin mengalihkan pembicaraan.

"Aku sudah menemuinya barusan. Dia akan menjaga Al dan menyayangi nya," ucap Alex. Aku menghembuskan napas dengan berat. Benar saja apa yang aku pikirkan, dia mengalihkan pembicaraan.

"Okey, cuman satu hal yang ingin aku perjelas. Siapa sebenarnya ibu dari Al?" tanyaku. Jujur aku belum tahu mengenai ibu kandung Al.

Alex tak kunjung menjawab, padahal aku sangat ingin tahu siapa orang itu.

"Maaf, aku tidak bisa menjawab. Tapi yang perlu kamu tahu, dia masih hidup." Setelah mengatakan itu, Alex langsung berdiri dan meninggalkan kamarku.

Aku menatap kepergian Alex, apa yang pria itu katakan? Ibu Al masih hidup? Tadinya aku pikir dia sudah tiada, karena ibu mana yang tega meninggalkan anak seimut dan setampan Al?
Aku tak habis pikir dengan orang itu.

Saat aku ingin kembali berbaring di tempat tidurku, seseorang langsung begitu saja memasuki kamarku.

"Mom?"

Aku mengerutkan keningku, kenapa tiba-tiba mom masuk ke kamarku? "Ada apa?" tanya ku. Mom langsung menyuruhku duduk di sisi ranjang.

"Maaf, mom besok harus udah pergi. Jadi, mom pengen ngenalin kamu sama temen mom. Uh, maksud mom, calon ibu mertua kamu," ucap Mom padaku.

Aku mengangguk. Jujur, apakah Alex akan menggagalkan rencana pernikahan ini? Atau justru dia akan melanjutkan?
Tapi, kalau di pikir, sepertinya ia akan lebih memilih kekasihnya itu.

"Okey mom, besok Angel mau kok ketemu mereka. Besok Angel usahain buat kosongin jadwal Angel," ucapku walau sangat berat mengucapkan.

Mom menghembuskan napas dengan lega. Lalu dia tersenyum kepadaku. Aku bahagia melihatnya, meski sebenarnya berat.

"Okey, udah malem. Kamu tidur dulu yah," ucap mom.

Tapi, sebelum mom pergi, aku memegang tangannya. Aku ingin mengatakan sesuatu.

"Mom, aku mau bilang. Kalau, Alex hanya punya Al." Mom mengerutkan keningnya.

"Lalu, anak siapa Is?" tanya mom.

"Luis Federlain. Anak yang aku temukan sendirian di taman. Sama seperti Al. Jadi, jika hubungan ini gagal. Izinkan Angel yang mengurus Is," ucapku seraya menunduk. Aku ingin menangis.

Kenapa aku sangat lemah saat berhubungan dengan anak malang itu. Entah kenapa hatiku lemah saat berhubungan dengan kata seorang anak. Mom mengelus rambutku.

"Tentu saja boleh, dia adalah cucu mom yang baik dan tampan," ucap mom. Aku menatap mata mom. Aku benar-benar terharu dengan sosok yang telah melahirkanku itu.

Aku langsung memeluknya, aku tak kuasa untuk tidak menumpahkan tangisku.

"Udah dong sayang, jangan nangis lagi. Kamu mau dengar kabar gembira nggak?" Aku langsung melepas pelukan pada mom.

"Apa?" tanyaku. Ku lihat mom tersenyum bahagia.

"Kak Gio bentar lagi mau nikah. Tiga hari lagi," ucapan mom membuatku terkejut.

"Huh?! Nikah? Kapan tunangannya?" tanyaku.

"Kak Gio belum cerita sama kamu?" tanya mom seraya memegang tanganku. Aku menggeleng.

"Kakak emang sengaja nggak cerita sama kamu biar jadi surprise," ucap Kak Gio yang sedang berdiri di pintu.

"Ya ya ya whatever. Tapi, kenapa cepet banget?" tanyaku.

"Nggak cepet, emang udah di rencanain dari dulu," ucap Gio.

"Terus siapa calon kakak ipar ku?" tanyaku antusias. Kakakku ini sangat lah sulit untuk diluluhkan oleh gadis lain selain aku. Aku penasaran dengan gadis itu.

"Renata," ujar Kak Gio. Aku mengerutkan keningku.

"Renata?"

Kak Gio mengangguk.

"Itu loh, senior kamu yang galak ples cantik itu," ucap kak Gio.

Aku sedang memikirkan seniorku yang galak. Aku menatap kak Gio sambil tersenyum.

"Kak Rere?" tanyaku. Ku lihat kak Gio mengangguk. Aku tersenyum tapi sekaligus khawatir.

"Hahaha, kakak yakin?" tanyaku sambil tersenyum smirk.Ku lihat kak Gio menghembuskan napas dengan tenang.

"Tentu saja. Dia yang buat kakak jatuh cinta dengannya. Dia yang buat kakak sadar kalau keluarga lah yang terpenting," ujar kak Gio. Aku tertawa mendengarnya.

"Haha, kak jangan pernah buat kak Rere marah loh yah. Nanti belum juga sebulan udah bonyok duluan lo," ucap ku sambil tertawa. Aku ingat dulu bagaiman kak Rere menghajar cowok kurang ajar yang menggoda dia. Padahal cuman pegang tangan.

"Awas lo dek ngejek calon istri gue lagi, gue bakar perusahaan lo," ancam kak Gio. Aku terkekeh mendengarnya.

"Silahkan aja, lagian perusahaan aku di mana-mana kok," ucapku dengan santai. Kak Gio hanya diam, dia memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang merajuk. Aku dan mom tertawa melihat wajah lucu Kak Gio.

"Udah-udah, sekarang kalian tidur, besok banyak acara," ujar mom. Aku mengangguk.

"Dek, gue tidur sama lo yah," ucap kak Gio merengek.

"Tumben lo bang, biasanya juga ogah-ogahan," ucapku menyindirnya.

Kak Gio hanya terkekeh sambil berjalan mendekatiku, dan mommy pergi dari kamarku.




My Mother is CEOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang