BAB 37

51.3K 2.4K 51
                                        

Alex POV

Aku meneteskan air mataku, lalu mengambil napas dalam-dalam. Apakah yang ada dihadapan ku ini benar? Aku tidak ingin percaya. Please, adakah seseorang yang mau mengatakan hal ini tidak benar?

"Alex, aku turut berduka cita atas kehilangannya Angel."

Aku memejamkan mataku kuat-kuat. Aku sangat berharap kalau hal ini tidak benar. Ku mohon ....
"Alex, Mom benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi, hiks, seandainya hiks-"

Aku langsung memeluk Mom, aku benar-benar tidak tega melihatnya dalam keadaan seperti ini. Aku juga terpukul. Baru sesaat aku memeluk dan menciumnya. Kenapa Tuhan tidak membiarkanku untuk bahagia? Kenapa? Apa salahku? Hingga semua masalah ini harus datang bertubi.

Aku tidak bisa terus berlama-lama di sini. Aku mengajak Mom untuk pergi dari sana, tapi sebelum itu aku berpamitan pada Reza.

"Reza, gue duluan, yah."

Aku melangkah meninggalkan pemakaman. Saat aku membuka pintu untuk Mom, tiba-tiba Reza memegang tanganku. "Ada apa?" Tanyaku. Reza mengembuskan napasnya. Dia seakan berat untuk mengatakan hal yang ingin dia sampaikan.

"Gue pengen Lo tau, waktu di Second Annual Burton, Clara terlibat dalam kejadian itu, aku melihatnya meski dalam keadaan setengah sadar. Dia langsung bersembunyi waktu lo hampir sampai di lantai enam. Gue nggak tau apa yang terjadi sama Angel. Jujur, gue nggak sepenuhnya yakin kalau itu Angel. Dia nggak selemah itu, dia itu gadis kuat. Tapi, gue nggak bisa ngelakuin apapun. Gue mau ucapin, turut berduka cita." Setelah mengatakan itu Reza pergi.

Aku terdiam. Terlalu banyak luka yang dirasakan Angel.

Aku berjalan masuk ke dalam mobil lalu melajukannya menuju ke hotel, karena rumah Dad butuh perbaikan.

****
Ngomong-ngomong tentang Daddy, dia masih berada di rumah sakit, keadaannya lumayan mengkhawatirkan. Aku menelan salivaku dengan kasar. Jika aku pulang, apa yang akan aku jawab pada Al dan Is jika mereka menanyakan tentang Angel? Ini sudah tiga bulan dan aku terus berbohong pada mereka. Aku tidak akan kuat melihat Al bersedih.

Aku mengantar Mom pulang selepas berkunjung di pemakaman Angel. Setelah itu aku lebih memilih untuk pergi ke rumah sakit menemui Daddy.

Saat di perjalanan, aku melihat sebuah mobil Lamborghini melaju dengan sangat cepat. Huft ... Sepertinya dia sudah tidak sayang pada nyawanya. Aku mengembuskan napasku.

Saat aku berada di tempat parkir rumah sakit, aku kembali melihat mobil Lamborghini yang tadi melaju dengan sangat cepat. Apakah itu mobil yang sama? Entahlah, tapi hanya ada lima mobil Lamborghini seperti itu di dunia.

Lebih baik aku segera menjenguk Daddy. Aku menuju ke sebuah ruang rawat inap, namun saat aku akan membuka pintu, aku melihat seseorang dari kaca kecil yang ada di pintu. Siapa dia? Kenapa dia disini?

Aku membuka pintu. Tiba-tiba dia langsung terdiam. Tapi dia masih membelakangiku. Siapa dia?

Aku memegang bahunya. Lalu dia membalikkan badannya. Satu kata untuk dia. Cantik. Tapi, siapa dia? Aku sama sekali tidak mengenalnya. Tapi aku mengenal warna iris mata itu.

*****

Alex melamun. Dia menatap langit yang bertaburkan bintang dengan rindu. Ya, karena ia merindukan seseorang yang menyukai bintang.

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundak Alex. Alex membalikkan badannya. Ternyata Reza. Dia berdiri di samping Alex.

"Sudah satu tahun semenjak pemakamannya, lo masih merasa dia masih hidup?"

"Huh, gue rasa gue nyerah. Gue nyerah buat terus percaya kalau dia masih ada."

"Gimana keadaan Al dan Is?" tanya Reza. Alex menatap ke arah Reza. Lalu hanya mengangkat bahunya.

"Mereka berdua sudah tahu semuanya, aku tahu Al menuruni sikap Steven. Dia menjadi anak yang pendiam setelah tahu kebenarannya." Reza mengangguk. Dia sudah menduganya.

"Alex! Reza! Kenapa kalian di sini? Acaranya sudah akan dimulai. Kalian tahu tidak? CEO perusahaan yang baru di bangun satu tahun yang lalu akan segera datang kemari," ujar Denis dengan sangat antusias. Tentu saja, CEO dari perusahaan yang baru di bangun satu tahun yang lalu sudah menduduki perusahaan terkaya dan terbesar pertama di dunia. Perusahaan Angel yang di jalankan Gio menduduki posisi ketiga setelah perusahaan Risjad.

Dia CEO yang hebat. Membangun perusahaan besar hanya dalam satu tahun. Dia tidak lagi pintar namun sangat jenius.

Alex dan Reza juga merasa penasaran dengan CEO itu. Dengar-dengar dia adalah seorang wanita.

"Baiklah, ayo."

Mereka bertiga kembali masuk ke dalam ruang acara perkumpulan CEO besar di dunia. Saat mereka kembali masuk, dari arah pintu masuk terlihat seorang wanita berjalan dengan anggun. Dia tinggi, rambutnya panjang, kulitnya seputih susu. Dia di kawal oleh dua bodyguard dan seorang sekretaris.

Semua orang terpukau melihatnya. Dia sangat-sangat cantik walau masih memakai kaca mata dan ekspresinya datar.

"Siapa namanya?" tanya Reza. Denis yang berada di samping Reza langsung menjawab, "Namanya Sherin Lalisa. Umurnya 21 tahun. Dia wanita hebat, mendirikan sebuah perusahaan dalam satu tahun. Dia berhasil memecahkan rekor yang sebelumnya telah di pecahkan Angel. Tidak ada yang tahu dari keluarga mana dia berasal."

Reza mengangguk. Alex yang berada di dekat Denis juga mendengarkan. Alex mengerutkan keningnya. Dia merasa pernah bertemu dengan wanita itu.

Semua CEO mengucapkan selamat pada Sherin. Sherin hanya mengangguk, dia tidak tersenyum dan tidak melepaskan kaca matanya. Saat Alex mengucapkan selamat, Sherin tiba-tiba terdiam. Lalu dia melepas kaca matanya.

Alex terkejut, dia pernah bertemu wanita itu di rumah sakit. "Kamu yang berada di rumah sakit waktu itu, benar?" tanya Alex. Sherin tak bergeming. Dia masih memandang Alex.

Saat tersadar dia langsung mengangguk

"Ya, aku yang waktu itu ke rumah sakit," ujar Sherin. Alex mengangguk lalu pergi dari hadapan Sherin. Sementara Sherin masih memperhatikan Alex.

Gio baru saja hadir, tanpa sengaja dia menabrak Sherin. Untungnya Gio dengan sigap menangkapnya ketika dia akan jatuh. Semua orang terkejut, mereka menatap Gio dan Sherin.

"Oh, maaf. Saya tidak sengaja." Sherin lalu berdiri kemudian mengangguk. "Terima kasih sudah membantu." Gio mengangguk. Lalu pergi untuk bertemu dengan CEO lainnya.

Acara di mulai. Ini seperti acara pesta biasa. Sherin di minta untuk menyampaikan suatu hal karena sekarang dia adalah orang penting.

****

"Kau tidak ingin mengucapkan yang sesungguhnya?" tanya seorang wanita. Sherin terdiam. Dia menatap sekretarisnya.

"Aku akan langsung bertemu dengan mereka besok. Aku akan mengatakan segalanya. Mungkin mereka tidak akan percaya," ujar Sherin pasrah. Vira hanya mengangguk. Dia paham akan posisi Sherin sekarang.

"Baiklah, aku hanya berharap semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu."

Sherin mengangguk, lalu Vira meninggalkan ruangan milik Sherin.

Sherin mengembuskan napasnya dengan berat. Dia menatap foto yang terpanjang di meja kerjanya. Seseorang yang sudah sangat ia rindukan.

"Kita akan bertemu besok."

Setelah mengatakan itu Sherin pergi dari ruang kantornya.

'Besok kita akan bertemu, aku harap kamu mengenalku,' batin Sherin.

****

My Mother is CEOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang