Aku mengembuskan napasku perlahan. Aku sudah sampai di pemakaman. Di sebuah pusara, di sana terlihat ramai. Aku melangkahkan kakiku mendekati kerumunan itu.
Samar-samar aku bisa mendengar percakapan di antara mereka.
"Sudah satu tahun dan kau belum merelakannya?"
"Aku tahu ini sulit, tapi kamu harus bisa merelakannya."
Aku semakin mendekat. Gio menatapku dan kemudian diikuti yang lain. Mereka menatapku tak berkedip.
"Nona Sherin Lalisa, sedang apa anda di sini?" tanya Alex. Aku menatap Al yang hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Dan kenapa kalian di sini?" Semua orang mengerutkan keningnya.
"Tidak ada urusannya dengan anda." Aku terdiam. Nada bicaranya sangat dingin dan datar.
"Ini jelas urusan saya," ucapku. Alex menatapku bingung. Dia lalu mendekatiku. "Apa maksudmu?"
"Alex, kamu tahu siapa aku?" Alex mengangkat sebelah alisnya. "Kau adalah Sherin Lalisa. CEO pertama yang sangat berhasil membangun perusahaan dalam satu tahun. Itu yang aku tahu."
Aku menggeleng. "Bukan, aku bukam Sherin Lalisa. Aku Angel, Angel Lalisa Bert."
Aku menatap keluargaku yang sekarang sangat terkejut. Ya, aku ini Angel. Bukan Sherin.
"Anda bercanda, Nona Sherin?" Alex tersenyum sinis. Dia membalikkan badannya. Tapi sebelum berbalik aku memegang tangannya.
"Ini kebenaran, bukankah selama ini kamu menungguku, aku sudah kembali, lalu kenapa kamu tak menganggapku?"
"Anda sudah gila, jelas-jelas Angel sudah di makamkan. DIA SUDAH TIADA!"
"Tapi ini aku. Please percaya sama aku. Aku memang Angel."
"Huh?! Jika kamu Angel, jelaskan siapa yang di makamkan di sana?" tanya Alex sambil menunjuk pusara di sana.
"Dia bukan Angel. Dia-"
"Dia? Anda tidak bisa menjelaskannya bukan?"
Alex langsung pergi begitu saja, namun aku langsung menghentikannya.
"Aku akan memberitahu, tapi tidak dihadapan anak-anak." Aku menatap Al dan Is yang sedang menatapku dengan pandangan sendu. Lalu kak Rere membawa Al dan Is pergi.
"Katakan?" ujar Alex. Aku mengembuskan napasku. Lalu menatapnya. "Wanita itu bukan aku. Dia adalah Devira, ibunya Is. Aku bertemu dengannya ketika jatuh dari gedung Second Annual Burton. Dia yang menyelamatkanku. Dia menceritakan tentang putranya. Devira yang tidak mempu menitipkan anaknya di panti asuhan. Saat itulah Clara membawanya, lalu dia menyuruh Is agar melakukan yang dia inginkan. Devira sudah melihat putranya, waktu itu aku yang memerintahkan Devira untuk ke rumah sebagai pelayan. Saat itu aku menemuimu, satu yang perlu kamu ingat, aku sudah tahu rencana Clara saat dia menceritakannya di Second Annual Burton, maka aku membuat rencana bersama Zayen, dia adalah seorang polisi. Setelah tahu rencana kami gagal. Maka dia langsung ke sana. Dia langsung menemukanku degan alat pelacak. Wajahku rusak karena benda tajam dan kasar, jadi aku melakukan operasi. Bukankah saat itu semua pelayan sudah pergi? Kecuali Devira."
Mata Alex berkaca-kaca, aku bisa melihat itu. Dia langsung memelukku. Dan aku balas memeluknya.
"Kenapa kau tidak langsung menemuiku?" tanya Alex. "Aku belum siap menjelaskan semuanya. Aku takut nanti aku justru akan kehilangan kamu. Maafkan aku." Alex menggeleng, dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Jadi, ini kamu?" tanya Alex yang masih tak percaya. Aku mengangguk. "Ya, ini aku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Aku sudah sangat yakin kalau kamu masih hidup." Alex tersenyum sambil menghapus jejak air matanya.
"Belum terlambat, 'kan? Jika aku bilang, I love you my perfect huband," ucapku dengan lirih tepat di samping telinganya. Alex tersenyum. Dia melepaskan pelukannya lalu memegang kedua tanganku.
"I love you too my perfect wife."
Aku tersenyum. Lalu kami kembali berpelukan. Aku sangat merindukannya. Sangat.
"Bagaimana cara menjelaskannya pada anak-anak?" tanyaku masih berpelukan bersama Alex. Alex langsung melepas pelukan. Lalu menatapku.
"Aku yakin kamu bisa buat mereka percaya. You are my perfect wife."
Aku tersenyum. Lalu menatap ke arah keluargaku. Mereka menatapku dengan maca berkaca-kaca.
Aku langsung berjalan ke arah keluargaku lalu memeluk mereka satu persatu, melepas rinduku pada mereka.
_______________________________________________________________________________
Gimana kalau author bilang ini endingnya?
Udah sampe sini aja? Atau author kasih epilog dan ekstra part? Sesuai keinginan kalian aja sih.
Okey, thanks banget, kalian udah mau stay, udah mau nunggin, udah mau vote, udah mau koment. Thanks banget, auhor nggak bisa tag satu-satu😂 yang udah mau vote dan komet. Pokoknya the best buat kalian yang udah vote dan koment.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mother is CEO
Romansa𝘼𝙣𝙜𝙚𝙡 𝙇𝙖𝙡𝙞𝙨𝙖 𝘽𝙚𝙧𝙩, wanita karir paling sukses di usia 24 tahun yang lama men-jomblo karena sifatnya yang 'sangat pemilih', namun tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya soal mengelola perusahaan. Pertemuannya dengan seorang anak...
