Aku dan kak Rere sudah setengah hari berkeliling di mall. Kalian tahu berapa banyak belanjaan kak Rere? Bagasi mobilku yang luaspun tak bisa menampungnya.
"Angel, kita makan siang yuk," ajak kak Rere.
Aku mengangguk, kami berjalan ke sebuah restaurant seafood.
Aku menuju ke sebuah meja yang dekat dengan jendela.
"Angel, kakak ngerasa kalau kamu itu akhir-akhir ini berubah, kenapa? Cerita kek sama kakak," ujar kak Rere sambil melihat-lihat daftar menu.
"Waiters, saya pesan Special Udang dan jus lemon," ujar kak Rere. Pelayan itu mengangguk.
"Apa yang ingin kau pesan?" tanya kak Rere.
"Samain," ucapku.
Pelayan itu tersenyum lalu pergi untuk memesankan makanan.
"Angel, kamu belum jawab pertanyaan kakak loh." Aku menatap kak Rere.
"Pertanyaan yang mana?" tanyaku berbohong. Aku jelas tahu kalau kak Rere menanyakan hal yang belakang ini entah kenapa sangat aku khawatirkan.
"Jangan mencoba kabur dari pertanyaanku. Aku sudah kenal kamu selama satu tahun. Kita ini dekat, aku sangat tahu," ujar kak Rere.
Aku menghembuskan napasku dengan berat. Aku tersenyum untuk mencoba meyakinkan kak Rere kalau aku baik-baik saja.
"Nggak kenapa-napa. Kalau pun ada apa-apa, kaka nggak perlu khawatir," ucapku dengan wajah yang meyakinkan.
"Baiklah, tapi jika ada apa-apa, bicaralah padaku," ujar kak Rere. Aku mengangguk. Aku beruntung memiliki seorang kakak sebaik kak Rere.
Saat pesanan kami sampai, kami menikmati makanan masing-masing. Sebelum kak Rere memberitahu sesuatu. Sesuatu yang sangat penting. Bagiku.
"Eh, Angel. Lihat deh, bukankah mereka CEO dari perusahaan terkenal?" tanya Kak Rere sambil menatap ke arah pintu masuk.
Aku ikut menatap ke arah pintu. Aku terkejut menatapnya.
"Eh,eh. Tunggu. Itu benaran yah?." Aku menatap ke arah Kak Rere dengan dahi mengerut.
"Maksud kakak?" tanya ku tanpa mengalihkan pandangan dari mereka.
"Itu loh, kamu lihat anak laki-laki yang lagi merengek itu?" tanya kak Rere sambil menunjuk ke arah Al.
What?! Al?!
"Uh, sayang banget. Anak itu lucu banget kayak emaknya, udah lucu tampan lagi kayak bapaknya," ujar kak Rere.
Dahiku semakin berkerut dalam. Seseorang, bisakah ada yang bisa menjelaskan sejelas-jelasnya padaku? Apa yang terjadi?
"Kamu terlalu sibuk sih sama kuliah dan kerjaan kamu sebagai CEO sampai nggak tahu kejadian 3 tahun yang lalu yang menggemparkan dunia," ujar kak Rere.
"Kejadian apa?" tanyaku penasaran.
"Kau tahu siapa wanita cantik itu?" tanya kak Rere. Aku menatap seorang wanita yang bersama Alex dan sedang mencoba membujuk Al. Aku sangat ingin memeluk anak kesayanganku itu.
"Iya, bukankah dia model internasional. Clara Jonshon," ujarku sambil menatap wanita cantik, tinggi dan rambut bergelombang itu.
"Iya, kau benar. Dia Clara Jonshon. Saat kau melanjutkan studymu di Jerman, sebuah kejadian menggemparkan Amerika. Terlebih kota ini. Keluarga Risjad adalah keluarga paling kaya tiga tahun lalu. Sebelum posisinya kau gantikan." Aku menatap ke arah kak Rere. Aku benar-benar ingin tahu tentang sesuatu yang tak aku ketahui.
"Ya, lalu?" tanyaku penasaran. Kak Rere menatap Alex dan Clara.
"Sementara itu keluarga Jonshon adalah keluarga dengan harga diri yang tinggi. Kau pasti tahu itu, mereka tak membiarkan anggota keluarganya memiliki hubungan sebelum memiliki karier yang tinggi. Minimum adalah seorang model terkenal," ujar kak Rere. Aku tahu tentang itu.
Aku menatap ke arah mereka. Tepat di sana aku melihat Al memakan udang.
Oh tidak, Al alergi udang.
Pernah saat itu setelah makan malam, Al memakan udang dan setelah memakannya, dia mengalami sesak napas dan gatal-gatal.
Aku buru-buru berlari ke arah meja Alex yang lumayan jauh dariku.
"Al, jangan makan itu!!" teriak ku. Namun aku terlambat. Al sudah memakannya.
"Mommy," panggilan Al membuat pengunjung di restaurant menatap ke arahku.
Anak itu turun dari kursi lalu berlari ke arahku.
"Mommy, Al kangen mommy," ujar Al sambil menangis. Anak itu memelukku dengan sangat erat.
Aku membalas pelukan Al. Sementara Alex menuju ke arahku. Dan aku melihat Clara, dia menatap tak suka ke arahku. Entah apa salahku.
"Al, mommy kangen baget sama Al," ucapku.
Al melepas pelukannya, sambil terisak.
"Mommy, Al kangen mommy, jangan tinggalin Al," ujar Al sambil menangis.
Aku memeluk Al lagi, hingga dia berhenti terisak. Dia bernapas dengan teratur, aku rasa dia tertidur.
Aku menggendong Al dalam dekapanku.
"Biar Al aku yang urus," ujarku sambil menatap Alex.
Alex hanya terdiam, sebelum dia menjawab Clara lebih dulu berbicara.
"Apa hakmu untuk membawa Al? Bahkan kami tak mengenalmu," ujar Clara. Dia hendak mengambil Al dari gendonganku.
Sebelum Clara mendekat ke arahku, Alex lebih dulu menghentikannya.
"Biarkan Al pergi dengannya," ujar Alex.
Clara menatap Alex tak percaya, lalu dia menatap ke arahku.
Aku tak mau ambil pusing, aku segera menuju ke meja dimana ada kak Rere di sana.
"Kak, pulang yuk." Kak Rere hanya terbengong sambil menatap ke arah Al.
"Kak, ayo," ucapku dengan sedikit keras. Kak Rere langsung tersadar, lalu mengangguk.
***
"Kak, kakak yang bawa mobil yah." Kak Rere hanya mengangguk, aku memberikan kunci mobilnya pada kak Rere lalu duduk di kursi penumpang.
****
"Udah pulang kalian?" tanya kak Gio setelah aku dan kak Rere sampai di rumah.
"Eh, kok Al bisa sama kamu dek," ucap kak Gio sedikit terkejut. Aku hanya mengangguk.
"Eh, kamu tau?" tanya kak Rere pada kak Gio.
Kak Gio mengangguk.
"Nanti aku ceritain," ucap kak Gio.
Aku berjalan menuju ke kamarku. Aku membaringkan Al lalu keluar dari kamarku.
Aku menatap Al yang sedang terlelap sekali lagi, sebelum aku menutup pintu dengan pelan-pelan.
Angel pov end
________________________________________________
Halo guys, author up lagi. Maaf kelamaan update nya.
Vote⭐ dan komennya💬 nya jangan lupa.
Makasih udah mau baca dan nungguin🙏🙏👍❤💞😍😍😘😇
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mother is CEO
Romance𝘼𝙣𝙜𝙚𝙡 𝙇𝙖𝙡𝙞𝙨𝙖 𝘽𝙚𝙧𝙩, wanita karir paling sukses di usia 24 tahun yang lama men-jomblo karena sifatnya yang 'sangat pemilih', namun tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya soal mengelola perusahaan. Pertemuannya dengan seorang anak...
