Setelah makan malam selesai, keluarga Bert berkumpul di ruang keluarga.
"Mom, Dad. Angel mau nanya sesuatu," ucap Angel menatap serius kedua orang tuanya.
"Tanyakan saja," ucap Daddy Angel.
Angel menundukan kepalanya, menarik napas panjang kemudian kembali menatap kedua orang tuanya.
"Kemana Angel tiga tahun yang lalu?" Pertanyaan yang di layangkan Angel membuat kedua orang tuanya diam dan saling lirik.
"Kenapa kalian diem? Mom, Dad, Angel yakin kalian pasti tau apa yang terjadi waktu itu," paksa Angel. Tapi, orang tuanya masih saja terdiam.
"Em... Maaf, sayang, tapi kami tidak tahu apa yang terjadi, kami berada di Austri waktu itu," ujar Mom Angel.
Angel hanya diam, dia mengangkat kedua alisnya, merasa tak percaya dengan yang di katakan Momnya itu.
"Oh iya, dimana Gio dan Renata?" tanya Mom celingak-celinguk mencari mereka.
"Mereka ke Italy, bukannya kak Gio udah kasih tau, Mom, yah?"
"Oh iya, Mom lupa. Ya udah, Mom ke kamar dulu yah," ujar Mom Angel kemudian langsung bergegas pergi dari sana.
"Dad, juga masih banyak kerjaan," ujar Dad lalu pergi meninggalkan Angel sendirian.
*****
"Mommy! Al mau beli mainan." Angel tersenyum sambil membelai pipi cubby Al yang membuatnya gemas.
"Okey, nanti kita beli mainan." Al menggeleng. "Al maunya sekarang, Mom, bukan 'nanti'," ujar Al. Is hanya memperhatikan, dia tak berminat untuk membeli mainan.
"Hm ... okey kita beli mainan sekarang," ujar Angel. Al bersorak gembira, sementara Is hanya diam saja. Angel yang melihat Is hanya diam saja merasa bingung.
"Tan, aku ke kamar dulu." Angel mengerutkan keningnya, kenapa Is memanggilnya dengan sebutan 'tan'?
"Al, Is kenapa?" Al menatap kepergian Is. Anak itu juga mengengkat kedua alisnya.
"Al nggak tau, Mom," ucap Al sambil menggeleng.
"Jadi kita ke toko mainannya?" tanya Angel. Al menggeleng.
"Kenapa?"
"Al nggak mau ninggalin Is," ucap Al dengan wajah sedih.
"Ya udah, kita perginya besok-besok aja, yah." Al mengangguk.
"Mom, Al mau susulin Is dulu," ujar Al. Angel mengangguk, lalu Al berlari menaiki tangga menuju lantai dua.
*****
"Is, kamu kenapa, sayang?" tanya Angel seraya duduk di samping Is yang sedang berbaring di kasurnya.
"Nggak, Is nggak pa-pa," ujar Is dengan nada acuh.
"Kalau ada masalah, cerita aja sama, Mom." Is menatap sinis ke arah Angel.
"Berhenti panggil diri tante sebagai Mom aku. Tante itu bukan siapa-siapa aku," ujar Is. Angel mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan perubahan sikap Is.
"Kenapa Is kayak gini?" tanya Angel khawatir. Is hanya memalingkan wajahnya.
"Mom adalah ibu Is, Mom juga ibunya Al. Is sama Al itu anak Mom, Mom selalu anggep kalian itu seperti anak kandung Mom sendiri." Is mengubah posisinya menjadi duduk di samping Angel.
"Mom, nggak bohong, kan?" Angel mengangguk. Tiba-tiba, anak itu memeluk Angel dengan erat. Angel membalas pelukan Is.
"Maafin Is, Mom. Kemarin tante Clara bilang kalau Mom nggak sayang sama Is," tutur Is. Angel mengembuskan napsanya, sudah menduga kalau ini adalah ulah Clara.
"Okey, Mom minta, jangan pernah berpikir kayak gitu lagi." Is mengangguk. Dia langsung memeluk Angel, lagi.
"Thank you, Mom." Angel mengangguk samar.
"Kalau ada apa-apa ngomong aja sama, Mom," ujar Angel dengan nada lembutnya. Is mengangguk.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mother is CEO
Romance𝘼𝙣𝙜𝙚𝙡 𝙇𝙖𝙡𝙞𝙨𝙖 𝘽𝙚𝙧𝙩, wanita karir paling sukses di usia 24 tahun yang lama men-jomblo karena sifatnya yang 'sangat pemilih', namun tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya soal mengelola perusahaan. Pertemuannya dengan seorang anak...
