"Terima kasih dok sudah datang kemari," ujar Angel sambil bersalaman dengan dokter itu.
"Ini sudah jadi kewajiban saya nona," ujar dokter itu.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit," ujar dokter. Angel mengangguk, lalu mempersilahkan dokter untuk pergi.
Tadi, saat Al berada di gendongan Angel, anak itu bernapas dengan kurang teratur dan di badannya terdapat bintik-bintik merah.
Kemudian dengan segera Angel memanggil dokter. Dokter keluarga Bert. Dia menyuntikan sebuah serum pada Al. Kemudian anak itu mulai sembuh.
Angel masuk kembali ke dalam rumah, saat hendak membuka pintu kamar, Angel mendengar samar-samar suara Rere dan Gio.
"Jadi, Angel yang menemukan Al waktu itu?" tanya Rere.
"Iya," jawab Gio.
"Tapi, kamu masih ingat kejadian tiga tahun yang lalu?" tanya Rere.
Gio mengangguk. Angel menatap dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Iya, aku sangat ingat," ucap Gio. Rere tiba-tiba memeluk Gio.
"Aku ingat betapa terpuruknya dia. Bagaimana sakitnya dia," ujar Gio.
Dan tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Angel beranjak ke kamarnya dengan beribu pertanyaan di dalam dirinya.
Angel berbaring di samping Al, dia menatap lembut anak kecil di hadapannya itu.
"Al, kalau nanti bukan Mommy yang jadi Momny Al, Mommy mau Al nerima Mommy baru Al, Mommy mau Al menyayangi Mommy baru Al sama kaya Al sayang sama Mommy," ujar Angel. Dia menghembuskan napasnya dengan berat.
Setelah puas menatap wajah Al, Angel bangun dari posisinya. Dia beranjak ke arah balkon kamar.
Angel menatap pemandangan kota di sore hari. Dia sangat menikmati suasana ini. Walau entah kenapa suasana ini membuat dadanya sedikit sesak.
Tapi Angel tak memperdulikannya. Dia menatap pemandangan indah sunset. Menyerap ketenangan.
"Dek, kakak mau ngomong sama kamu," ujar Gio yang berada di belakang Angel. Angel membalikan badannya.
"Katakan saja kak," ucap Angel.
"Ini tentang dia dan kejadian tiga tahun yang lalu," ucap Gio. Senyum yang tadinya mengembang kini menghilang.
"Ya, ceritakanlah," ucap Angel, dia beranjak untuk duduk di sofa.
Sementara itu Gio duduk di hadapan Angel.
Dia menundukan kepalanya, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Sebenarnya kakak nggak ingin ngungkit tentang hal ini lagi, tapi waktu memaksa kakak buat ngingetin kamu," ucap Gio.
Angel menatap kakaknya itu dengan serius.
"Maksud kakak?" tanya Angel. Gio menghembuskan napasnya dengan berat.
"Ini tentang Steven," ujar Gio seraya menatap Angel.
Angel menegang saat mendengar nama itu, seseorang yang berusaha mati-matian Angel lupakan namanya, fisiknya dan kenangannya.
Namun Angel lemah, dia lemah ketika semuanya di hubungkan pada seorang Steven.
Tiba-tiba kenangan-kenangan kebersamaan Angel dengannya menyeruak masuk ke dalam otak Angel dengan paksa, seperti sebuah kaset rusak, berputar secara acak tanpa bisa di kendalikan.
Gio menatap adiknya itu khawatir.
"Please, jangan terlalu di paksain. Ingatan itu adalah benang merah yang harus kau lupakan," ujar Gio, dia beralih tempat duduk di samping Angel.
"Hiks kenapa? Kenapa dia pergi?" tanya Angel, untuk pertama kalinya dia mengeluarkan air matanya setelah tiga tahun lalu.
Gio langsung memeluk adik kesayangannya itu.
"Kakak nggak bakal maksain lagi, biarkan semuanya terjadi sesuai kehendak waktu. Kakak takut kehilangan kamu," ucap Gio. Dia mengusap air mata yang menjejaki pipi Angel.
"Baiklah, kau beristirahatlah dulu. Kakak mau keluar," ucap Gio. Angel mengangguk.
Dia beranjak dari sana untuk ke kamarnya. Angel merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, kemudian terpejam karena rasa kantuk yang melanda.
******
"Mommy!!! Ayo bangun Mommy, Al mau main sama Mommy. Al kengen Mommy," ujar Al seraya menepuk pipi Angel dengan tangan mungilnya.
"Iya Al, Mommy bangun," ujar Angel. Dia bangun, lalu Al memintanya untuk di peluk.
Angel memeluk Al lalu menicium pipi gembul anak itu.
"Mommy, ayo kita main, Al juga mau ketemu Is," ujar Al.
Angel mengangguk. "Okey, hari ini kita main. Al mandi dulu, abis itu kita jemput Is terus main," ujar Angel.
Al mengangguk, dia turun dari kasur Angel lalu berlari keluar.
"Bibi Rica, Al mau mandi," teriak Al. Angel hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Al, Mommy sayang Al," ucap Angel dengan lirih. Lalu dia beranjak untuk ke kamar mandi.
******
Angel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberpa kali dia melihat ke arah Al yang sedang mengoceh itu.
"Mommy, Al dah lama nggak ke sekolah. Masa Is berangkat tiap hari Al cuma sehari," ujar Al. Angel mengerutkan keningnya bingung.
"Al emangnya nggak berangkat lagi?" tanya Angel.
Al menggeleng. "Daddy suruh Al buat nggak dateng ke sekolah lagi, kata Daddy Al belum cukup umur," ujar Al.
Angel menghembuskan napasnya dengan berat. "Okey, nanti kalau Al tinggal sama Mommy, Mommy anter Al ke sekolah," ujar Angel. Al mengangkat tangannya seraya tersenyum, dia terlihat sangat bahagia hingga mata bulatnya itu berubah menjadi sebuah garis dan pipi cubby nya itu sangat menggemaskan.
*******
"Mommy, Is kangen banget sama Mommy hiks Is nggak mau sendiri hiks Is cuman mau sama Mommy." Angel langsung menerima pelukan anak yang sudah Angel sayangi itu.
"Hiks Mommy tolong jangan tinggalin Is lagi hiks Is sayang Mommy sama Al hiks," ujar Is sambil terisak.
"Iya Is, Mom nggak bakal tinggalin Is lagi. Mommy bakal ajak Is buat tinggal sama Mom," ujar Angel. Is melepas pelukannya lalu menatap Angel dengan mata berbinar.
"Benarkah Mom?" tanya Is. Angel mengangguk.
"Al juga mau tinggal sama Mom," ujar Al.
Angel tersenyum. "Okey, kalian berdua anak Mom yang paling lucu. Kalian akan tinggal di rumah Mom," ujar Angel. Is dan Al bersorak gembira.
Tiba-tiba mereka langsung memeluk Angel.
"I love you Mommy," ucap Al dan Is bersamaan.
Angel tersenyum. Dia sangat-sangat menyayangi kedua anaknya itu.
________________________________________________________________________________________
Halo guys, author update lagi nih. Maaf yah dikit. Kalian pasti mikir, 'siapakah itu Steven?'
Kalau kalian penasaran stay trus di ceritaku guys, jangan berhenti.
Tunggu part selanjutnya.
Maaf kalau kurang bagus🙏🙏
Author tunggu vote⭐ sama komentnya💬
❤💞😍😍
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mother is CEO
Romance𝘼𝙣𝙜𝙚𝙡 𝙇𝙖𝙡𝙞𝙨𝙖 𝘽𝙚𝙧𝙩, wanita karir paling sukses di usia 24 tahun yang lama men-jomblo karena sifatnya yang 'sangat pemilih', namun tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya soal mengelola perusahaan. Pertemuannya dengan seorang anak...
