BAB 30

49.2K 2.6K 24
                                        

Aku membuka mataku dengan perlahan. Menyesuaikan mataku dengan cahaya di sekitar. Badanku remuk semua, sudah berapa lama aku tidur? Rasanya lama sekali.

Aku haus. Aku menatap meja nakas. Air. Tangan kananku terulur untuk mengambilnya. Namun tangan masih sangat lemas hingga gelas yang sudah berada di tanganku terjatuh. Aku hanya bisa pasrah sampai ada seseorang yang mau memberiku minum.

Aku mendengar suara pintu yang terbuka. Aku tidak bisa melihatnya karena seluruh tubuhku sangat lemas.

Mereka mendekat. Alex. Wajah pertama yang aku temui saat aku bangun dari tidur panjang. Dia terlihat bahagia menatapku. Dan matanya sembab. Apakah dia habis menangis?

Lalu tak lama, aku bisa melihat seorang suster membawakan semangkuk bubur dan air putih.

"Apakah anda baik-baik saja, Nona?" Tanya suster. Aku terdiam. Sulit untuk menjawab, aku masih lemas.

"Suster, mungkin Angel masih butuh istirahat. Kau keluarlah," ujar Alex. Suster mengangguk lalu keluar.

Alex mengambil semangkuk bubur itu, aku bisa mengetahuinya dengan baunya.

"Kau mau makan?"

Tak ada respon, terlalu lemah untuk menjawab pertanyaannya. Aku tidak bisa menjawab, tapi Alex tetap menyendokkan bubur meggunakan sendok. Aku mencoba membuka mulutku saat Alex menyuapkan buburnya.

Rasanya hambar dan pahit. Aku tidak menyukainya. Saat suapan kedua, aku tak membuka mulutku.

"Kenapa?" Tanyanya dengan wajah bingung.

"A-ir." Alex mengangguk lalu membantuku meminum air.

"Alex, sudah berapa lama aku tidur?" Alex menatapku sambil tersenyum. Lalu mengelus rambutku.

"Tiga bulan."

Aku ingin mengekspresikan keterkejutanku namun saat aku bergerak sedikit saja, kepalaku langsung sakit.

"Aauu ...." Aku ingin memegang kepalaku, namun sayang tanganku juga terasa lemas.

"Kenapa? Apakah sakit?" Tanya Alex dengan cemas. Aku mengangguk, aku tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang mendera kepalaku itu.

Saat aku mulai tenang, pintu ruangan milikku tiba-tiba terbuka. Dan yang membukanya adalah Kak Gio.

Dia mendekatiku dengan ekspresi khawatirnya. "Angel, kamu baik-baik aja kan? Ada yang sakit? Biar nanti kakak panggilin dokter."

Aku memutar mataku. Dia selalu berlenihan ketika aku sakit.
"Kamu udah makan? Kalau belum kakak suapin yah. Atau mau yang lain?"

"Kak, aku udah baikan kok. Mom sama Dad mana?"

"Mom sama Dad lagi makan siang," ujar kak Gio lalu mengelus rambutku. Aku memejamkan mataku, merindukan kasih sayang dari kakak yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun.

"Kak, siapa yang urus perusahaanku?" Semua yang berada di ruangan langsung menatapku tajam, bahkan termasuk Alex. Memangnya kenapa? Apa yang salah?

"Udah tau lagi sakit gitu masih mikirin perusahaan?" Tanya Kak Rere sambil menggeleng kan kepalanya. Aku hanya menunjukan wajah polosku.

"Ish, Dek. Mau Kakak bangkrutin perusahaannya?"

"Emangnya kakak mau kalau adiknya ini kelimpungan bayar utang? Enggak kak aku cuman bercanda. Tapi serius, siapa yang urus perusahaan?" Alex membuang napasnya dengan kasar.

"Kiren yang urus perusahaan kamu," ujar Alex. Aku tersenyum.

"Kak, kapan pulang dari Paris?" Kak Gio menatap ke atas seperti sedang berpikir.

"Em ... Tiga bulan yang lalu. Sewaktu Mom ngehubungin aku, aku langsung ke sini dari Paris." Aku mengangguk lemah.

Lama sekali aku tertidur. Badanku benar-benar remuk. Aku menatap ke sekeliling ku, mereka semua melihatku dengan tatapan bahagia. Kenapa?

"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Mereka menggeleng dengan serentak. Aneh, apa yang terjadi?

Oh iya, aku hampir lupa. Terakhir kali yang aku lihat adalah Reza, dimana dia sekarang?

"Kak, Reza di mana?" Tanyaku seraya menatap kakak. Tapi kakak justru fokus menatap Alex. Aku memalingkan wajaku menatap Alex. Dia menatapku dengan tatapan datar.

"Aku izin keluar. Mau jemput Al sama Is." Setelahnya, Alex keluar dari kamarku.

"Dia kenapa?" Tanya ku.

Kak Gio tersenyum, lantas duduk di kursi yang ada di sampingku.

"Dia cemburu. Kamu tahu nggak? Selama tiga bulan, dia yang ada di sini nungguin kamu. Dia langsung ke sini waktu denger kamu jatuh dari atas balkon. Dan diantara kami semua, dialah yang paling berharap kamu bisa sembuh. Dia ngejagain kamu, dia nunggu kamu, dia selalu berdoa buat kamu. Dia harap kamu bisa cepet sembuh untuk tau kalau dia mencintaimu." Aku mengangkat sebelah alisku. Kak Gio nggak lagi bohongkan?

Dia lalu mengelus rambutku. "Lupain yang dulu, sekarang tataplah masa depanmu. Hidup kamu masih panjang. Dia menunggu kamu untuk tahu jawabannya. Sekarang kakak yakin, dialah seseorang yang terbaik yang dikirim oleh Tuhan untuk kamu. Ya udah, kakak pergi dulu yah. Inget kata-kata kakak. Kakak pengen semua yang terbaik buat kamu." Setelah itu kak Gio dan kak Rere pergi meninggalkan ku sendiri.

Aku memikirkan kembali kata-kata kak Gio. Apakah Alex memang mengatakannya? Dia mencintaiku?

_______________________________________________________________________________

Gimana menurut kalian. Next?

My Mother is CEOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang