tw // ⚠️ mention abusive parent
Siang itu Adrian kebagian tugas untuk mengambil buku paket kimia di perpustakaan. Dengan malas, ia berjalan keluar kelas sambil memegang secarik kertas pemberian gurunya. Itu nota untuk pembelian buku pekan kemarin.
"Boleh minta Haikal temenin saya gak bu?" pinta Adrian sebelum meninggalkan kelas. "Boleh, jangan lama-lama ya kalian berdua." Setelah itu, Haikal beranjak dari kursinya dan berlari keluar menghampiri sang sahabat.
Adrian menarik nafas, entah kenapa ia merasa butuh udara segar setelah kemarin bertengkar hebat dengan Ayahnya, dan untungnya suasana balkon lantai 3 kini sedang banyak angin berhembus.
"Yan,"
"Hm?"
"Lo okay?" tanya Haikal tepat saat mereka berbelok menuju koridor kelas 12 IPS. Adrian terkekeh, "Okay-okay aja, kenapa?"
"Bohong lo ya." Ada jeda sebentar, kemudian lelaki bersurai cokelat itu lanjut bersuara. "Kemaren bokap lo nelpon bokap gue, ngajakin minum. Pas bokap gue pulang ke rumah, bokap lo kelepasan bilang kalo dia abis berantem sama lo." balas Haikal, suaranya terdengar biasa tapi ia tidak bisa menyembunyikan wajah khawatirnya.
Memang sedari kecil Adrian sering mendapat perlakuan tidak pantas dari sang Ayah. Seberapa kalipun di nasehati, Ayah Adrian tidak akan pernah bisa menghilangkan sifat kerasnya. Dan mungkin saat ini, Adrian sudah terbiasa dengan itu semua. Luka yang dia dapati di tubuh, sudah tidak begitu terasa menyakitkan seiring berjalannya waktu.
"Yan, lo berhak lapor ke pihak berwajib. Ini kekerasan Yan namanya."
"Ayah bentar lagi masa kampanye, gua gak mungkin hancurin reputasinya Ayah." Jawaban yang sama. Jawaban yang selalu membuat Haikal muak. Terkadang ia merutuki sifat Adrian yang selalu mementingkan perasaan orang dibanding perasaannya sendiri. Kenapa bisa dia masih berbaik hati bahkan pada seseorang yang tidak pernah menganggap kehadirannya di dunia.
Mereka berdua pun berhenti melangkah saat mata Adrian jatuh pada sekumpulan orang yang sedang bermain basket di lapangan. Matahari sedang terik-teriknya, Adrian selalu merasa kasihan dengan kelas yang mendapat mata pelajaran olahraga pada siang hari.
Kedua bola mata Adrian akhirnya menangkap sosok mungil yang sedang berlatih lay up bersama teman-temannya. Lelaki mungil itu tertawa hingga matanya membentuk bulan sabit jika ia melakukan kesalahan. Bibir Adrian ikut melengkung keatas karenanya.
"Bang Haikal, gua mau ngomong jujur sama lo."
"Ngomong apa?" tanya yang lebih tua. Alisnya menukikㅡbingung dengan ucapan Adrian yang begitu tiba-tiba.
"Lo tau cowok yang disana?" Tangan Adrian menunjuk lelaki mungil itu dari balkon lantai tiga. Haikal menyipitkan matanya, mencoba mencari orang yang dimaksud Adrian. "Yang pake sepatu putih?"
"Gua suka sama dia."
Haikal terlonjak, mulutnya bahkan tidak bisa menutup karena ia terlalu kaget. "Hah? Dari kapan?"
"Tiga bulan yang lalu mungkin? Seminggu lalu gua coba nembak dia, dan diterima." Haikal menggelengkan kepala, merasa kalau informasi saat ini terlalu besar untuk disimpan diotaknya. "Mendadak banget? Kaget gua."
"Apa yang dikagetin? Lo aja suka kan sama bang Nara? Keliatan. Gua juga tau lo berdua sama-sama gak bisa ngalah, gak ada yang mau coba memulai hubungan yang padahal nggak perlu lo bawa sepusing ini, bang." Haikal semakin kaget lagi, dia benar-benar tidak tau harus menyembunyikan wajahnya dimana karena terlalu malu.
Adrian terkekeh. "Makanya kalo suka tuh gak usah terlalu kentara."
"Cih, liat siapa yang ngomong." sindir Haikal. "Terus kalo lo sama dia, yang ngaku suka duluan siapa? Emang lo nggak butuh keberanian lebih ya buat nembak orang yang sama-sama cowok kaya lo?" Belum juga menjawab pertanyaan Haikal, Adrian lebih dulu turun menuruni tangga dan menjauh dari sahabatnya. Ia hanya terlalu malas untuk ribut, dan terlalu malas untuk menjawab pertanyaan yang sangat konyol. "Alah percuma lah gua ngomong sama lo, bang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sugar Rush ; kookmin
Fiksi Penggemarjungkook & jimin as a college student versi lokal top!jk bot!jm boyxboy | semi-baku, KOOKMIN LOKAL au❗️a bit mature © 2019,bellybees
