#02

11.7K 1.3K 112
                                        

[ sugar rush - part 02 ]

Adrian Naufal itu tipe lelaki yang sudah pasti dikenal seantero kampus. Kalau ada daftar mahasiswa paling terkenal, Adrian sudah pasti berada di posisi pertama. Selain karena faktor wajah, Adrian juga termasuk mahasiswa aktif yang sering ikut acara kepanitiaan dan juga rapat Himpunan. Singkatnya, Adrian itu idaman para mahasiswi dan mungkin juga beberapa mahasiswa tentunya. Bahkan mungkin para dosen karena nilai akademiknya selalu bagus.

Dia itu baik, tapi nggak bisa dibilang baik juga karena semua orang belum tentu bisa merasakan kebaikannya. Apalagi untuk tipe orang yang mengganggu macam Enita ini, dijamin nggak akan bisa Adrian nunjukkin sisi baiknya.

"Gak Nit, gua gak bisa hari ini," jawab Adrian entah sudah yang keberapa kali. Enita itu pemaksa, dari semester satu Adrian sudah kenal betul sifatnya. "Kemana sih, Yan? Palingan cuma main overwatch aja lo di kosan."

Selain pemaksa, Enita juga sok tau. Siapa bilang Adrian mau main overwatch? Orang mau nemenin Ale ke kosannya. Ya tapi gimana, dia nggak bisa bilang ke semua orang kalau mau nemenin pacar. "Ada urusan sama temen,"

"Ngapain?"

"Nit, apaan dah? Masa harus lapor, polisi juga bukan." Enita terkekeh, Adrian kesel. "Yaudah kalo gak bisa cari bahan sama gue, nanti gue minta anterin Mahesa aja."

Nah gitu dong, batin Adrian. Tiga puluh menit menuju kelas bubar dan bagi Adrian menuju jam setengah empat itu terasa begitu lama. Dia nggak betah dengerin Enita cerita tentang pengalamannya terus sejak masuk matkul terakhir.

"Ya sepertinya itu saja yang dapat saya sampaikan, tugas laporan jangan lupa dikumpul sabtu sore."

Kalimat barusan adalah kalimat paling indah yang Adrian dengar seharian ini.

Selesai kelas, Adrian langsung jemput Ale ke fakultasnya yang terletak lebih dekat dari gerbang utama. FISIP; fakultas dengan segudang para lelaki tampan dan perempuan cantik. Kalau Ale kategorinya beda, dia itu lelaki manis pencuri hati Adrian.

"Halo Ale,"

Yang dipanggil mendongak, mengalihkan atensinya dari layar ponsel. "Halo Kak Adrian,"

"Kakak lama ya, Le?"

"Nggak kok, tadi Ale baru ngasih data diri ke sekret Hima. Ini baru aja duduk di lobby," jawabnya dengan pipi penuh permen jelly. Selain mengikuti rapat terbuka, kesukaan Ale yang lain adalah memakan permen kenyal dengan rasa buah-buahan yang manis itu.

Mereka pun berjalan menuju parkiran mobil, tanpa memperdulikan tatapan beberapa mahasiswi yang menatap keduanya aneh. Mungkin yang ada dalam pikiran orang-orang itu adalah; Sejak kapan Adrian Naufal punya adik? Tampan pula.

"Le, mau makan dulu atau langsung ke kosan?"

Ale kembali memasukan permennya ke dalam mulut, "Hmm, makanannya dibawa ke kosan aja. Sekalian beliin buat temen-temen kakak."

"Gak usah lah. Keenakan mereka dibeliin."

"Gak apa-apa, anggap aja karena Ale lagi bertamu, Ale datengnya gak boleh tangan kosong." ucap Ale saat mereka sampai ke mobil putih milik Adrian. "Yaudah, kita beli makan ya,"

"Ale mau duduk di kursi penumpang atau kursi kemudi?" tanya Adrian sambil mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana. Ale bingung, "Loh? Ale yang nyetir gitu kalo di kursi kemudi?"

Adrian tersenyum kemudian mendekat dan berbisik tepat di telinga Ale. "Kalo Ale mau di kursi kemudi, Ale duduk diatas pangkuan kakak."

Demi Tuhan, Adrian itu otaknya terlalu mesum!

Sugar Rush ; kookminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang