Selamat Ulang Tahun, Ale.
[ sugar rush - part 25 ]
Sudah seminggu lamanya Adrian Naufal selalu berakhir memarkirkan mobilnya di tanah lapang bersamaan dengan mobil-mobil lain yang lelaki itu yakini milik warga komplek setempat yang rumahnya tidak punya garasi luas. Letak komplek itu cukup jauh dari kosannya dan dia baru saja pulang setelah bertemu dengan beberapa teman untuk membahas projek kecilnya di Jakarta Barat. Adrian lelah, hampir seluruh badannya pegal-pegal dan dia ingin sekali pulang dan tidur di kasur. Namun, Adrian tidak bisa mengabaikan tugasnya yang lain. Setelah mematikan mesin, dia pun mengambil payung kecil dari jok belakang sebelum turun untuk menjemput seseorang.
Iya, Ananda Ravalean.
Tugas Adrian baru-baru ini adalah menjemput Ale setelah dia selesai bekerja. Lelaki mungil itu sedang mengisi waktu luangnya dengan mengajar seorang siswa SMP di wilayah komplek TNI-AD, Adrian menganggap itu sebagai kerja sambilan. Sebuah kegiatan yang tentunya akan membuat Ale sibuk bukan main dan lelah karena dia tidak punya jadwal istirahat sama sekali kecuali di hari Minggu.
"Ya tapi Ale mau coba. Sanggup atau nggak sanggupnya Ale ya itu urusan Ale. Biar Ale yang pusing." Katanya, waktu Adrian bilang untuk berpikir tentang tawaran mengajar itu. Ale itu keras kepala, Adrian tau jelas tentang fakta yang satu itu. Jadi, setelah mencoba yakin dengan janji si mungil untuk menjaga dirinya sendiri, Adrian kemudian mengiyakan.
"Yaudah, jangan sampe kamu lepas tanggung jawab ya, Le. Kamu gak bisa mundur kalo kamu udah mulai." Ale mengangguk antusias, dia bahagia karena Adrian mau mengerti dirinya. "I will!"
Adrian percaya Ale itu bisa menjaga dirinya sendiri. Walaupun lelaki mungil itu punya toleransi yang rendah pada kesehatan tubuhnya, tapi Ale sudah berjanji pada Adrian untuk memperlakukan dirinya dengan baik. Nggak boleh nggak makan, dan harus minum air putih yang banyak biar nggak dehidrasi.
Kedua sudut bibir Adrian melengkung ke atas begitu mendapati sosok Ale yang sedang duduk di depan warung kecil dengan satu donat di tangan. There he is, the love of his life.
Setelah berhasil menghilangkan senyumnya agar tidak terlihat aneh karena senyum-senyum sendiri di hadapan orang lain, Adrian akhirnya melangkah mendekati Ale yang sepertinya tidak sadar sama sekali dengan keberadaannya.
"Permisi saya dari go-car, ini orderan kamu udah sampe." Ale hampir tersedak saat mendengar suara berat Adrian di sebelah kanannya. "Bikin kaget aja!" omelnya lalu tersenyum saat melihat Adrian memberikan jaket miliknya yang selalu dia tinggal di mobil yang lebih tua.
"Yuk pulang, udah mau malem nih," Ale mengangguk, kemudian beranjak setelah mengucapkan terima kasih pada ibu pemilik warung karena membiarkannya berteduh disana.
Lagi-lagi Adrian selalu berhasil membuat jantung Ale bekerja lebih keras dari biasanya. Lelaki itu dengan manis memeluk Ale agar menghimpit ke tubuhnya yang besar, sehingga si mungil tidak akan terkena hujan karena payung mereka berukuran sedang. Suara air hujan yang turun dengan deras belum ada apa-apanya dibanding suara degup jantung yang lebih muda. Dan Adrian, walaupun sudah sore begini masih wangi bukan main.
One of the things that Ale loves about him; he smells so freakin' good.
"Gimana tadi meetingnya?" tanya Ale setelah dia masuk ke dalam mobil disusul Adrian yang duduk di kursi kemudi setelah menaruh payungnya di jok belakang. "Aman kok. Projeknya bakal jalan sebentar lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sugar Rush ; kookmin
Fanfictionjungkook & jimin as a college student versi lokal top!jk bot!jm boyxboy | semi-baku, KOOKMIN LOKAL au❗️a bit mature © 2019,bellybees
