#14

6.2K 735 141
                                        

[ sugar rush - part 14 ]

Suara mesin mobil milik Adrian menghilang begitu terparkir di garasi kosan, digantikan dengan suara pintu bagian depan yang terbuka. Si pengendara pun turun sambil menenteng tas hitam yang berisi kamera serta peralatan lainnya di tangan kanan.

Sudah hampir seminggu penuh Adrian belum pulang ke kosan, dan lebih banyak menghabiskan malamnya di rumah rekan kerjanya. Ya, Adrian sekarang mengisi waktu luangnya dengan mengurus pameran salah satu konglomerat yang kemarin melihat hasil karnyanya bersama anak fotografi. Lelaki itu sibuk bukan main, terlebih lagi jarak antara galeri tempat pameran yang akan dia urus dengan kosannya itu cukup jauh.

"Balik juga lo akhirnya." ucap Tio tepat saat Adrian masuk ke dalam dan duduk diatas sofa ruang tv. "Jahe, mau gak?" tawar yang lebih tua, dia sedang menyeduh susu jahe saset di dapur. Adrian mengucapkan terima kasih sebelum menerima gelas yang disodorkan oleh Tio.

"Cuma lo doang di kosan? Yang lain pada kemana?" Adrian mengedarkan pandangannya, mencari-cari kehidupan dikesunyian rumah bertingkat dua itu. "Bang Nara, Bang Sam sama Bang Yanuar pergi nyari makan deh kayanya. Sekalian mau ketemu temen lama apa siapa gitu gua lupa. Bang Haikal tadi baru aja pamit mau ke rumahnya ngambil pes 4."

"Ngapain anjir?"

Tio menaikkan bahunya, "Nggak tau lah. Tadi begitu lewat ruang tv, doi bilang katanya sepi banget dah sambil ngeliatin meja tv sama speaker terus tiba-tiba pergi mau ngambil pes4." aku Tio setelah menelan sisa susu jahenya yang sudah hampir habis. Adrian hanya bisa terkekeh karena sudah hafal dengan tingkah kurang kerjaan sahabatnya itu.

"Gua mau mandi dah, gerah banget." Baru saja Adrian ingin beranjak, tapi panggilan Tio mengurungkan niatnya dan akhirnya dia kembali duduk. "Bentar Yan, ada yang mau gua omongin."

"Soal apa?"

"Bang Yanuar." Bohong kalau Adrian tidak terkejut. Wajah sahabatnya ini mendadak berubah menjadi sendu saat mengucapkan nama itu. "Kenapa, Yo?"

"Hmm, gimana ya Yan mulainya?" Tio menggaruk tengkuknya, kemudian mengusap wajahnya dengan gusar. "Gua kayanya mau serius sama Bang Yanuar."

Dahi Adrian mengerut, dia bahkan langsung menegakkan badannya yang semulanya bersandar pada sofa. "Nikah maksud lo?"

"Goblok anjir. Ya nggak lah."

"Serius maksudnya tuh, gua mau ngubah hubungan nggak jelas gua sama dia itu loh, Yan. Lo tau lah gimana akhir-akhir ini Bang Yanuar menjauh dari gua gara-gara kejadian di pub itu. Gua abis nyium dia pun nggak berani buat ngejelasin sebenernya kita berdua tuh apa." Mendengar jawaban itu, Adrian hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya, lalu menyeringai. "Do it then."

"Gampang lo ngomongnya mah. Gua takut, Yan. Ini pertama kalinya gua naksir sama... cowok? Bang Yanuar lagi orangnya." Tio menghembuskan nafas saat kepalanya memutar kejadian dimana Yanuar selalu mencoba menghindar darinya selama dua minggu terakhir ini. Kenyataan pahit yang harus Tio hadapi akibat perbuatannya sendiri.

"Lo masih ragu?"

Tio hanya bisa diam membisu, bingung harus menjawab pertanyaan ultimatum itu seperti apa. "Mungkin bisa dibilang begitu, Yan. Gua ini cuma takut perasaan gua cuma sementara, dan akhirnya malah nyakitin bang Yanuar. Gua takutnya perasaan gua ini muncul karena sekarang cuma dia doang orang yang paling ngertiin gua luar dan dalam. Tanpa gua harus ngomong sepatah kata pun, dia tau apa yang gua butuhin, Yan."

Sugar Rush ; kookminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang