Hari ini cerah, seperti hari-hari biasa. Matahari belum terlalu terik, panasnya juga belum menyengat dan membuat berkeringat. Ale suka cuacanya, sangat mendukung untuk membantu salah satu kakak tingkatnya berjualan di festival makanan. Ada banyak stand yang digelar di lapangan, mereka mengadakan festival ini untuk memenuhi nilai akhir di salah satu mata kuliah.
Ale itu memang terlalu kelewat baik orangnya, dia bahkan tidak keberatan diminta untuk berteriak menawarkan sosis telur gulung yang dijual oleh kakak tingkatnya. Padahal hari ini dia bisa saja mendekam dan bermalas-malasan di kosan setelah kemarin sibuk rapat siang dan malam.
"Le," samar-samar Ale mendengar namanya dipanggil, dia pun berbalik dan terkejut saat menemukan sosok Shellaㅡkakak wakil ketua himpunannya berdiri dengan banyak lembar kertas yang Ale yakini adalah proposal.
"Le, bisa ngomong sebentar?" tanya gadis itu pelan. Ale mengangguk, lalu meminta izin pada kak Bayu untuk meninggalkan stand sebentar.
Sampai di dekat bangku taman, keduanya duduk bersebelahan. Ale tampak telaten melipat apronnya sambil menunggu Shella membuka lembar proposalnya. "Proposal acara yang ini belum di tanda tangan sama Presma. Berhubung lo deket sama kak Nara, tolong ya, Le? Hari ini anak-anak yang lain nggak ada yang dateng, sedangkan proposalnya harus di approve sama pihak kampus besok."
"Iya kak, nanti Ale kasih ke kak Nara."
"Oke, thanks banget ya, Le. Besok taro aja di sekret ya, gue bakal dateng pagi kok." ucap gadis bersurai cokelat itu, Ale hanya membalas dengan senyuman. Selepas kakak tingkatnya pergi, Ale berniat meninggalkan taman sebelum sebuah tangan menarik lengannya. "Mau kemana?" Itu Adrian. Suaranya terdengar berbeda, Ale yakin kalau kekasihnya itu sedang flu. Suaranya jauh lebih serak, dan hal itu bukanlah sesuatu yang bagus untuk seorang Ananda Ravalean.
"Kak Adrian sakit?"
"Iya Le, ketularan Bang Yanuar kayanya. Oh ya, tadi siapa?" Adrian meneguk ludah, kemudian duduk di bangku putih dibelakangnya. "Wakil ketua himpunannya Ale, kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Hanya ada dengusan nafas setelahnya. "Cantik ya kak?" tanya Ale diiringi dengan tawaan renyah, Adrian tidak tau apa maksudnya. Kenapa Ale harus selalu bersikap begitu?
"Yang cantik itu banyak, Le." kata Adrian, Ale akhirnya ikut duduk bersamanya. "Bagi kakak mah yang cantik cuma Ananda Ravalean."
"Cantik sifatnya, cantik wajahnya, cantik tutur katanya.. duh gimana kakak gak jatuh cinta?" Adrian berujar pelan, hal itu lantas membuat Ale terkekeh sekaligus malu. Untungnya, taman kampus hari ini sepi. "Kak Adrian apa sih! Ale kan cowok. Ale ganteng, bukan cantik!"
"Ale mah dua-duanya bagi kakak." Tangan Adrian kemudian mendarat di kening Ale, dengan telaten dia membenarkan rambut-rambut Ale yang menutupi sebagian matanya. "Tau gak kenapa kakak nanya dia siapa?" Ale menggeleng.
"Justru kakak cemburu, nanti kalo dia suka sama Ale gimana? Kamu tuh banyak yang suka loh, Le. Bukan kakak doang." ujar yang lebih tua, Ale tidak menyangka Adrian akan menjawab kalau dia cemburu. Biasanya lelaki itu hanya akan menunjukkannya melalui sikap, tidak pernah berkata jujur seperti ini.
Tapi kalaupun ada banyak mahasiswi yang suka sama Ale, tentunya itu semua tidak sebanding dengan para gadis yang selalu mengirimi Adrian pesan setiap saat. Mungkin isi ponsel Adrian bisa disebut asrama perempuan.
"Temenin ke toserba depan yuk, mau kakak beliin es krim gak?" Ale menoleh, kemudian dia sedikit ragu karena ingat kalau dirinya masih harus menjaga stand kak Bayu di lapangan. Adrian paham, jadi dia hanya tersenyum. "Nanti kakak bilang ke Bayu kalo Ale-nya di pinjem dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sugar Rush ; kookmin
Fanfictionjungkook & jimin as a college student versi lokal top!jk bot!jm boyxboy | semi-baku, KOOKMIN LOKAL au❗️a bit mature © 2019,bellybees
