12

5.7K 598 59
                                        


Bagi yang belum follow saya dan belum pernah vote ayoooo segera memfollow dan kasih vote dan komennya supaya saya semakin semangat update.

And tengkyu karena kalian sudah mau sabar menunggu, cinta dehhhh ah 😘😘💓💓💞🖤😘🌼🐻🤓

Ruangan itu mendadak sunyi, terdiam dalam keterkejutan mereka atas ucapan Alona. Sementara Damian hanya bisa menutup mulutnya, tak menyangka akan mendapat ucapan menohok dari sang putri.

"Alona.. " Anita melangkah perlahan mendekati putrinya, tapi belum sempat ia mencapai sang putri, Alona lebih dulu menghentikan langkah ibunya dengan mengangkat tangannya sebagai isyarat agar ibunya tak ikut campur yang membuat Anita akhirnya menurut.

"Anda harusnya tahu diri, bukan malah menjadi serakah dengan berpikir bisa memiliki kami sekaligus. Anda memilih tuan, mendapat yang satu dan melepas lainnya! Sejak 10 tahun lalu kita sudah tak punya hubungan apa pun, hubungan darah tak berarti apa pun! Kita orang asing jadi bersikaplah seperti orang asing berhenti mengganggu kami atau anda akan menyesal!" Lanjut Alona, mata gadis itu menatap menusuk pada ayahnya, seolah tak cukup dengan kata, matanya pun ikut menunjukan bagaimana rasa benci gadis itu pada ayahnya.

Damian pun terdiam, terlalu hancur atas ucapan putri sulungnya, apa yang dibayangkannya dan realita yang dihadapinya saat ini terlampau jauh, ia pikir putrinya masih akan memeluknya dan hanya akan marah sedikit padanya ternyata apa yang ia torehkan pada kedua putrinya terlampau menyakitkan hingga membuat mereka benar-benar membencinya bahkan tak ada pancaran kerinduan dari putrinya untuknya, sedikit pun ia tak melihatnya.

Setelah keheningan yang cukup lama, Alona berbalik mengahadap Aleeza meneliti ekspresi sang adik yang sedikit gugup. Ia berjalan mendekat dan memegang tangan Aleeza.

"Ayo pulang." Ucapnya dan beralih menatap ibunya lalu mengangguk agar ibunya berjalan mendekat.

Mereka bejalan melewati orang-orang itu dalam keheningan, namun ketika langkah mereka sedikit lagi mencapai pintu keluar, sebuah suara menghentikan mereka dengan menyebut nama Alona sedikit lantang namun penuh keraguan. Alona berbalik dengan ekspresi datarnya, menatap dingin pada si pemanggil.

Gadis itu tak berkata apa pun hanya menatap pria itu tak berminat yang membuat si pria  mendadak kehilangan kercayaan dirinya, namun hal itu tak menghentikan niatannya untuk menatap Alona lebih dekat, ia terlanjur rindu dan tak bisa menahannya.

Ia melangkah lagi hingga sampai tepat di depan gadis itu dengan jarak dekat. Ia termangu beberapa saat karena terpesona sekaligus berusaha membiasakan penglihatannya pada wujud dewasa gadis yang sudah lama tak ditemuinya itu.

"Hai.. Apa kabar?" ucap Kenzo setelah tersadar dari keterdiamannya, namun pertanyaan yang sarat akan kerinduan itu tak mendapat balasan apa pun dari Alona.

Gadis itu hanya terdiam menatap dengan ekspresi tak terbaca pada Kenzo, yang membuat pria dewasa itu sedikit merasa canggung dan kecewa. Namun ia berusaha meyakinkan dirinya untuk mengabaikan reaksi dingin Alona.

"Sudah lama nggak ketemu Al, dan rasanya sudah la.. "

"Siapa? Anda siapa? Apa saya mengenal anda?" Pertanyaan yang tak disangkah Kenzo keluar dari mulut Alona dan berhasil membungkam dan menenggelamkan apa pun kata-kata yang ingin dilontarkan pria itu. Ia menatap tak menyangka pada Alona, rasa kecewa kembali datang, dan hatinya mendadak terasa peri.

Ia termangu beberapa saat sebelum kalimat lain dari gadis itu menyadarkannya.

"Anda membuang waktu saya." Alona lalu berbalik dan kembali melangkah menuju pintu keluar namun langkahnya berhenti setelah merasakan seseorang memegang tangannya dengan sedikit menarik.

Still The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang