Hening..tidak ada satu pun yang bersuara, masing-masing dari mereka terlalu terkejut dengan fakta baru mengenai kehidupan Alona serta adik dan ibunya. Rasanya mereka baru saja ditampar dengan keras dan hal itu membungkam mereka.
Damian terpaku, mulutnya keluh dan bibirnya bergetar menahan sesak di dadanya. Matanya yang sayu sudah sejak tadi mengeluarkan air mata, namun tidak ada satu kata pun yang mampu ia ucapkan. Ia tak menyangka keluarga yang dicintainya harus merasakan semua hal buruk itu karena sikap egois dan serakahnya.
"Apa sekarang Anda puas? Kalian Puas? Apa sekarang kalian bisa tinggalkan kami sendiri. Saya mohon. Karena sungguh saya sudah lelah. Saya tidak sanggup lagi menahan rasa benci saya pada kalian. Jika kalian terus muncul di hadapan saya rasa benci ini akan terus mengganggu sepanjang hidup saya. Dan saya tidak ingin itu. Jika kalian meminta saya untuk memaafkan apa yang pernah kalian perbuat dulu, saya tidak bisa. itu mustahil." Alona berucap lemah, ia kesakitan dan sudah tak punya tenaga lagi untuk bicara, bahkan jika kemarahannya belum meredah ia sudah tak sanggup untuk kembali berteriak.
Damian menatap putrinya lemah, tubuh gemetarnya ia dekatkan pada Alona dan entah bagaimana Alona tak berjalan menjauh. Ia hanya diam saat Damian berjalan mendekatinya. "Maaf.. " Ucap Damian pelan, suaranya bergetar dan dengan perlahan ia menggapai tangan Alona namun gadis itu menepisnya. "Jangan sentuh saya!"
Damian mundur, ia menunduk dalam masih dengan air mata yang mengalir menuruni wajahnya. "Ayah bodoh nak. Ayah memang tidak pantas untuk kalian. Kalian terlalu berharga untuk memiliki manusia seperti saya sebagai sosok ayah. Ayah tidak pantas mendapatkan kalian. Ayah terlau egois, picik, serakah dan tidak tau malu. Namun ijinkan ayah untuk meminta maaf sekalipun kamu tidak bisa memaafkan ayah tidak apa. Ayah memang pantas mendapatkannya, tapi.." sebelum melanjutkan ucapannya Damian tiba-tiba berlutut di bawah kaki Alona, dan hal itu membuat seisi ruangan itu terkesiap.
Alona mundur, dan menjauhkan kakinya dari tangan ayahnya. Sungguh entah bagaimana ia tak menyukai apa yang tengah ayahnya lakukan sekarang. "Biarkan ayah tebus semua kesalahan ayah. Tak apa jika Alona tak menghiraukan ayah, tidak menganggap ayah ada atau membenci ayah tapi setidaknya biarkan ayah berada di sekitar kalian sekedar untuk menebus apa yang sudah terjadi. Ayah mohon nak, ayah mohon." Damian menunduk hingga dahinya hampir menyentuh lantai, tangannya menjulur ke depan hendak menggapai kaki Alona, ia terisak dengan keras, penyesalannya benar- benar dalam. Ia hancur memikirkan bagaimana Anita dan kedua putrinya harus bertahan hidup ketika ia meninggalkan mereka.
Melihat itu Alona berpaling, air matanya ikut turun namun ia tak sanggup lagi untuk berkata-kata. Ia lelah dan entah bagaimana apa yang tengah dilakukan ayahnya kali ini membuatnya enggan kembali berucap.
"Maafkan Ayah Alona, maaf.. Tolong maaf nak." Damian masih memohon dengan posisi yang sama. Dan Alona makin tak nyaman, ia tak menyukai perasaannya kali ini, hingga akhirnya ia memilih melangkah begitu saja keluar dari kamar itu, berjalan menjauh dari ayahnya. "Alona!" Damian memanggil dengan panik, Alona menghentikan langkahnya tanpa berbalik, ia berkata dengan tenang "Tolong jangan ikuti saya, biarkan saya pergi. Saya lelah. Kali ini saja tolong ikuti permintaan saya." ucapnya, setelahnya ia kembali melangkah meninggalkan orang-orang itu tanpa berbalik lagi.
Damian hendak berdiri dan mengikuti Alona, namun Elis--ibunya dengan cepat menahan Damian, "Jangan. Biarkan dia pergi untuk kali ini. Jangan terlalu menekankannya nak. Biarkan dia." ucapnya lembut dengan senyum meyakinkan. Akhirnya Damian mengalah, ia mengangguk dan memilih mengalah.
Kenzo yang awalnya hanya diam saja, akhirnya memilih mengejar Alona. Ia tidak mungkin melepaskan gadis itu pulang sendirian.
"Alona berhenti!" pinta kenzo, namun hingga kakinya mencapai pintu depan rumah tersebut Alona tetap tak berhenti. Kenzo berlari lebih cepat dan dengan spontan menarik tangan Alona hingga gadis itu berhenti dan berbalik mengadap Kenzo.
"Lepasin gue sialan!" teriak Alona dan dengan kasar ia menepis tangan Kenzo anggar melepas pergelangan tangannya. "Jangan berani lo nyentuh gue!"
"Aku antar kamu pulang." Kenzo memilih tak menghiraukan sikap kasar Alona, ia justru bersikap tenang dan berucap dengan suara lembut.
"Gue enggak butuh. Jangan sok peduli," ucapnya.
"Ayolah Alona, sekali ini saja biarkan aku bantu kamu. Temen kamu tadi sudah aku suruh pulang. Memangnya kamu mau pulang sama siapa malam- malam begini? Biar aku antar."Alona yang baru sadar tak melihat Ben sejak tadi memaki dalam hati, teganya pria itu meninggalkannya sendirian di sini.
"Gue enggak butuh! Harus berapa kali gue bilang?" Sentaknya dingin, Kenzo menghela napas, ia tak tau lagi bagaimana harus membujuk gadis di depannya ini, hingga satu ide terlintas di benaknya.
Ia secara tiba-tiba berjalan mendekati Alona dan dengan cepat menarik pinggang gadis itu dan dengan ke dua tangannya mengangkat Alona dengan cepat digendonganya. Ia melangkah terburu-buru menuju mobilnya agar gadis itu tidak sempat memberontak.
Alona memekik kaget, namun tak sanggup melawan karena tubuhnya yang lemas. "Sialan! Apa-apaan lo?! Turunin gue bajingan! Turunin!" Alona mengangkat ke dua tangannya dan dengan sekuat yang ia bisa ia menjambak rambut Kenzo hingga pria itu berteriak kesakitan.
"Aa!! Alona lepasin rambut aku." Pekiknya, namun Alona justru semakin kuat menjabak Kenzo. "Lepas! Lepas! Lepas!" berontak Alona. Ia bahkan beralih memukul bahu Kenzo namun tak membuat Kenzo menurunkan gadis itu.
"Aku nggak akan turunin kamu Al. Kamu tau aku tidak suka dibantah dan selama ini aku udah cukup mengalah dan bersabar dengan penolakan dan sikap kasar kamu. Mulai hari ini kamu akan berhadapan dengan Kenzo yang keras kepala dan pemaksa jadi jangan harap aku akan mengalah." Ucap Kenzo dingin sebelum dengan tak berperasaan membuka pintu mobilnya dan melempar Alona ke kursi penumpang.
Kenzo terpaksa melakukan pendekatan dengan versi ini, karena sepertinya mendekati Alona tak bisa menggunakan cara lembut lagi dan fakta yang baru didengarnya hari ini semakin yakin untuk tak akan pernah melepas Alona sendiri lagi.
Hai guys!!!! long time no see. Saya memutuskan akan upload lagi cerita ini. Selamat membaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still The Same
RomanceWARNING!! Adults Only! Terdapat banyak kata-kata kasar dan adegan kekerasan! Mohon bijaklah memilih bacaan. ** Ketika kau dikhianati oleh dua orang yang kau percaya sekaligus, orang yang dipercaya sebagai cinta pertamamu dan seseorang yang kau yaki...
