Mobil Kenzo memasuki pekarangan rumah milik keluarga Domonic dan bersamaan dengan itu Anita dan Aleeza mulai gelisah. Perasaan mereka campur aduk, antara takut dan cemas. Anita bahkan mulai merasa keringat di tangannya, ia terlempar kembali pada ingatan masa lalu saat ia di tolak keluarga itu. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali dan ketika ia harus kembali ke rumah ini lagi, rasanya tubuhnya melemas karena ketakutan akan penolakan itu kembali lagi.
"Ayo turun. " suara lembut Kenzo menarik Anita dari ingatan buruk itu dan mendadak jantungnya berdetak tak karuan.
Mereka turun dari mobil dan menemukan beberapa wanita berpakaian seragam sudah menunggu dan dengan sigap mengambil barang-barang mereka. Aleeza merasa kikuk dan tak nyaman, sementara Anita hanya bisa mematung. Alona tidak bersuara dan menatap pelayan-pelayan itu tanpa ekspresi.
"Ayo masuk, opa dan oma sudah menunggu. Dari tadi mereka tidak berhenti menelepon," ucap Kenzo sembari memeriksa ponselnya.
Anita melangkah perlahan sembari menarik tangan Aleeza dan Alona, sebelum benar-benar lanjut melangkah ia menatap kedua putrinya dan memberi mereka senyuman penyemangat. Ia tahu perasaan kedua putrinya lebih buruk darinya saat ini.
Alona menghembuskan napasnya perlahan, sebelum dengan pasti melangkah ke dalam rumah bersama ibu dan saudarinya.
Kenzo membuka pintu rumah itu dan mempersilakan mereka melangkah terlebih dahulu, Alona mendengus sebelum melangkah masuk ke dalam rumah dan reaksi pertama Aleeza saat akhirnya berada di dalam kediaman itu membuat Alona memutar matanya malas, Aleeza menganga takjub dan terpesona hingga mulutnya terbuka dan entah bagaimana hal itu membuat Alona tak suka. Rumah mewah dan nampak berlebihan seperti itu bukanlah tipenya, orang-orang kaya nampaknya sangat berlebihan dalam menggunakan uang mereka dan hal itu membuatnya muak.
"Mereka sudah menunggu di ruangan keluarga," ungkap Kenzo. Ia melangkah terlebih dahulu sebelum disusul Anita, Alona dan Aleeza.
Rasa gugup semakin menguasai Anita, sudah lama sekali ia tidak bertemu mantan ayah dan ibu mertuanya itu. Ia menebak-nebak apakah mereka masih sekeras dulu, terutama mantan ayah mertuanya. Saat mereka akhirnya memasuki ruangan keluarga itu, ternyata orang-orang sudah berkumpul. Damian dan istrinya serta Angel kemudian kedua orang tua Damian dan dua orang pria yang tidak dikenal Anita namun mereka tampak tak asing. Jika Anita tidak salah mereka adalah anak-anak Sarah dari pernikahan sebelumnya.
Saat mereka memasuki ruangan keluarga, orang-orang itu nampak sedang mengobrol dan tak menyadari kehadiran mereka, "Selamat malam," Kenzo mengucap salam dan perhatian orang-orang teralih pada mereka dan keterkejutan nampak di wajah orang-orang itu.
"Kalian sudah datang?!" Elis--ibu Damian melompat dari duduknya dan nada semangat di dalam suaranya membuat Anita tertegun.
Sementara Damian yang tak tahu sama sekali akan kedatangan Anita dan kedua anaknya hanya dapat mematung dengan ekspresi terkejut, ia tak tahu
sama sekali ayahnya membawa mantan istri dan anak-anaknya ke rumah mereka dan apa pun alasan ayahnya ia bersyukur untuk itu.
Andrea berdeham sebelum berdiri dari tempat duduknya, pria tua itu menatap pada putra sulungnya yang juga tengah menatap bahagia padanya, seumur- umur ia tak pernah mendapatkan senyum tulus seperti itu dari putranya tapi hari ini berbeda, "Kalian sudah datang.. Kemari dan duduk." Suara tegas dengan nada perintah itu berhasil membuat orang-orang dalam ruangan itu merasa waswas, Kenzo melangkah lebih dulu yang diikuti Anita dan Aleeza namun Alona justru melakukan hal sebaliknya. Ia tetap di tempatnya dan menatap datar pada pria tua itu.
Langkah Anita berhenti saat tahu putri sulungnya tak mengikuti mereka dan hal itu membuatnya gelisah, ia takut Alona akan melakukan sesuatu yang dapat memicu kemarahan Andrea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still The Same
RomanceWARNING!! Adults Only! Terdapat banyak kata-kata kasar dan adegan kekerasan! Mohon bijaklah memilih bacaan. ** Ketika kau dikhianati oleh dua orang yang kau percaya sekaligus, orang yang dipercaya sebagai cinta pertamamu dan seseorang yang kau yaki...
