33

4.6K 476 42
                                        


Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara, Kenzo terdiam dan sibuk menyesali sikapnya tadi yang tak bisa dikontrolnya, sementara Alona kembali menempeli pintu mobil dan fokus menatap jalanan.

Ia kesal karena berhasil dibungkam Kenzo, ia tak habis pikir kenapa ia masih memiliki ketakutan terhadap Kenzo padahal mereka sudah lama tidak bertemu, seharusnya ia sudah tak takut lagi saat Kenzo dalam mode serius seperti tadi. Kenapa juga dia mau-mau saja mengikuti pria ini? Sepertinya ia harus memastikan perutnya penuh sebelum berhadapan dengan Kenzo karena ternyata lapar bisa membuat pertahanannya lemah.

"Belok kiri kan?" Suara Kenzo berhasil membuyarkan lamunan Alona, gadis itu baru menyadari mereka sudah hampir sampai di rumahnya, dan tanpa menjawab dengan suara Alona memilih mengangguk tanpa menatap Kenzo. Beberapa saat kemudian Alona sadar Kenzo tahu letak rumahnya tanpa diarahkan olehnya. Ia bertanya dalam hati sejak kapan dan bagaimana Kenzo mengetahui alamat rumahnya?

Namun kebingungannya hilang begitu cepat saat melihat di depanya rumahnya dipenuhi kerumunan orang, dan ketika sadar orang-orang itu adalah wartawan, kepanikan mulai melanda Alona.

"Sial!" ia mendesis sebelum dengan cepat mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya, namun Anita tak menjawab teleponnya.

Kenzo yang melihat kerumunan itu dengan refleks menghentikan mobilnya sebelum memilih mundur dan memutar balik, akan sangat gawat jika wartawan-wartawan itu tahu Alona tengah bersama dengannya.

"Kita putar balik. Apa ada jalan lain yang terhubung dengan rumah kamu?" tanya Kenzo.

"Kembali ke jalan besar, beberapa meter dari gang masuk tadi ada gang yang lebih kecil, lo bisa turunin gue di sana." Jawab Alona sembari kembali menghubungi ibunya.

"Tidak. Kita turun bersama, kamu dan  bunda Anita serta Eza harus keluar dari rumah. Kalian enggak akan aman selama tinggal di sana." Kenzo membawa mobilnya keluar dari gang menuju jalan besar dan dengan cepat menemukan gang penghubung lain yang dimaksud Alona.

"Gue bisa atasi ini sendiri! Kami nggak butuh bantuan lo." Sentak Alona, sungguh ia tak ingin bersama pria ini lebih lama lagi dan yang paling penting ia tidak sudi menerima bantuannya.

"Jangan memancing pertengkaran Alona. Di saat seperti ini jangan keras kepala. Ikuti saja perintahku agar masalah ini tidak semakin merepotkan."

"Kalian penyebab masalah ini muncul! Jangan bertingkah seperti bukan kalian penyebabnya!"

"Lalu kalian akan ke mana hem? Kalau kamu tidak sudi aku membantu, lantas kalian akan ke mana? Informasi pribadi kalian sudah bocor, mereka akan tahu kalian ke mana, kamu pergi ke tempat teman-teman kamu pun mereka akan tahu. Kamu bawa bunda sama Eza ke hotel pun cepat atau lambat pasti akan ada yang membocorkan hotel tempat kalian berada, tidak

ada tempat yang aman. Jadi sebaiknya ikut aku dan terima bantuan ku tanpa protes, jangan hanya memikirkan dirimu sendiri Alona!" Kenzo membentak, wajahnya merah karena kesal. Sementara Alona hanya bisa diam saja karena bagaimana pun apa yang Kenzo katakan benar adanya. Entah bagaimana di saat seperti ini ia sama sekali tidak bisa berpikir.

"Dengar Al, aku mengerti kamu sangat membenci kami tapi di saat begini aku mohon untuk tenang. Jangan ikuti emosi kamu. Apa kamu tidak merasa kasihan dengan Eza? Adik kamu itu belum kuat secara mental untuk menerima semua hal berat ini." Kenzo berucap lembut, ia menyesal karena harus ikut terbawa emosi dan membentak Alona kembali.

"Jangan bicara soal mental sama gue, lo kira umur berapa gue dan Eza saat harus melihat kebejatan ayah kandung gue." Kenzo bungkam, ucapan Alona barusan membuatnya tak dapat berkata-kata lagi.

Still The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang