28

4.7K 526 35
                                        


Aleeza berjalan masuk ke rumahnya dengan perasaan tak karuan, ia berbalik menatap pada ayahnya yang tengah berdiri menunggunya masuk sembari tersenyum, jujur saja ia takut kalau Alona melihat ayah mereka, apalagi ia pulang sangat terlambat, bisa jadi sekarang Alona tengah mencarinya dengan panik.

"Pulang yah, kalau kakak ngeliat ayah di sini kakak bisa ngamuk. Nanti aku bisa kasih alasan kenapa pulang terlambat jadi sebaiknya ayah pulang." Pinta Aleeza dengan suara nyaring agar Damian dapat  mendengarnya. Mendengar itu wajah bahagia Damian berubah masam, ia lupa kalau putri pertamanya masih sangat membecinya.

"Iya.. Kamu masuk sana. Ayah pulang Kalau kamu sudah masuk ke rumah." Ucap Damian, Aleeza lantas mengangguk sebelum ternyum pada ayahnya itu. Setelahnya ia langsung masuk ke rumah dan berlari ke jendela untuk melihat ayahnya itu.

Damian melambai pada putri bungsunya yang ia tahu tengah mengintipnya lewat kaca jendela, namun tak berlangsung lama karena ponsel pria itu berdering bertanda panggilan masuk ke ponselnya. Ia mengernyit saat melihat nama asistennya yang menelepon, padahal asistennya itu tahu kalau Damian tak suka diganggu di luar jam kerjanya. Lantas hal penting apa yang membuat asistennya itu menghubunginya.

"Halo.. Ada apa?" Tanya tanpa basa-basi.

"..."

"Langsung saja, jangan buang waktu saya. Kamu tau saya tidak suka diganggu ketika sedang tak berkerja."

"..."

"Apa?!" Damian nampak terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh asistennya itu, ia kemudian segera membuka pintu kemudinya dan mengambil tabletnya, ia membuka media sosialnya dan tercengang dengan berita yang bermunculan mengenai dirinya dan putri bungsunya.

"Sial!" Umpatnya. "bagaimana ini bisa terjadi!? Seharunya kamu hubungi saya sejak tadi!" Bentaknya.

"Temui saya segera di kantor, kumpulkan beberapa orang yang juga bisa mengurus hal ini sesegera mungkin. Dan kumpulkan beberapa jurnalis, saya mau mengklarifikasi hal ini hari ini juga." perintahnya kemudian mematikan ponselnya, sebelum ia naik ke mobil, ia kembali berbalik menatap Aleeza yang tengah menatapnya bingung dan seketika perasaan menyesal memenuhinya. Seharunya ia tak memaksakan dirinya bertemu Aleeza hari ini. Ia tidak menyangka masalahnya malah menjadi semakin runyam.

Ia akhirnya melambai kembali pada putri bungsunya sebelum segera naik ke dalam mobilnya, masalah ini harus segera ia tuntaskan. Ia tak mau karena masalah baru ini membuat hubungannya dengan anak-anak juga mantan istrinya semakin runyam.
***

Alona dan Ben sepakat untuk kembali ke rumah Alona, mereka berdua sudah sama-sama lelah dan tak tahu lagi harus mencari kemana lagi. Alona segera memasuki rumahnya dan menemukan sepatu Aleeza tepat di rak sepatu yang berada di luar teras, ia segera tahu adiknya telah pulang dan dengan segera ia masuk dan berjalan menuju kamar Aleeza, tanpa basa-basi ia segera masuk tanpa mengetuk. Aleeza yang didatangi tanpa permisi terlonjak kaget di meja belajarnya.

"Kakak kenapa ngga ket.. "

"Dari mana aja kamu!" Potong Alona dengan ekspresi dinginnya. Aleeza yang tahu bahwa kakaknya tengah emosi memilih bungkam, ia tak berani menjawab.

"Jawab kakak Aleeza! Darimana saja kamu baru balik jam sekarang!?" ulang Alona dengan suara yang meninggi, Ben yang mendengar itu lantas segera masuk dan berjalan mendekat ke kamar Aleeza.

"Eza? Kamu udah balik? Kamu dari mana? Kita nyariin kamu keliling ke teman-temanmu dan nggak menemukan kamu dimanapun." Ucap Ben saat sudah berada di dalam kamar Eza.

"Apa kamu udah nggak bisa ngomong Aleeza! Apa setelah bertemu dengan pria penghianat itu buat kamu berubah jadi gagu!?" Ujar Alona tajam, Aleeza mematung, ia terkejut karena kakaknya tahu ia baru saja bertemu ayah mereka.

"Kakak tau dari mana?" Tanya Aleeza pelan lebih pada dirinya sendiri.

"Kamu tahu muka kamu dan pria itu beredar di media sosial dengan keterangan foto yang bukan-bukan?!" Aleeza mendongak dengan wajah terkejut. "Maksud kakak?"

Alona mendekati adiknya, dan berhenti tepat di depan gadis itu, "Mulai besok kamu nggak kakak ijinkan ke sekolah sampai masalah ini mereda. Kamu introkspeksi diri dan nggak kakak ijinin keluar kamar, ponsel dan laptop kamu kaka sita sampai waktu yang nggak ditentukan." Setelahnya Alona segera mengambil semua barang-barang milik adiknya yang berpotensi menghubungkan adiknya dengan media sosial. Kalau dari sikap adiknya, nampaknya Aleeza belum tahu mengenai wajahnya yang terpampang di setiap akun gosip di media sosial.

"Tapi kak jelasin dulu maksud kakak apa? Emang apa yang terjadi?" pertanyaan Aleeza tidak digubris Alona, bahkan Ben tidak berdaya membela Aleeza dari kemarahan Alona.

Alona segera keluar dari kamar yang diikuti Ben namun sebelum ia benar-benar keluar, ia mencabut kunci kamar Aleeza dan menguncinya dari luar. Melihat itu Aleeza lantas berdiri hendak menghentikan apa yang diperbuat Alona, namun ia kalah cepat dari kakaknya itu.

"Kak! Tolong bukain pintunya! Kenapa pintu Eza dikunci? Kak Al tolong buka pintunya kak. Eza minta maaf kak!" Teriakan permohonan maaf Aleeza tidak digubris Alona, dengan perasaan tak karuan ia tetap mengunci adiknya, ia terpaksa melakukan ini guna melindungi adiknya dari apa pun yang terjadi di luar sana. Ia tidak mau adiknya mengetahui apa yang terjadi. Ia terpaksa.

Ben mematung di tempatnya, tak tega namun juga tak dapat berbuat apa-apa.

"Ayo Ben kita pergi." Ucap Alona sesaat setelah mengunci pintu kamar adiknya.

"Kemana?" Ben mengernyit bingung.

"Ke rumah pria penghianat itu." jawab Alona dingin hingga membuat Ben menurut tanpa protes.

Apapun yang terjadi setelah ini terjadilah, Ben pasrah dan tak mau memikirkannya karena dilihat dari tingkahnya, Alona tak dapat dihentikan.








Bersambung...


Jangan lupa vote dan komen.

Besok up lagi kok 💞



Miss one
🤓🤓😘🍦🤘

Still The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang