36

4.1K 601 186
                                        


Alona terbaring kaku di tempat tidur yang dia tempati sore tadi saat pingsan. Aleeza tengah mandi, mereka tidur di kamar yang sama sementara ibu mereka--Anita menempati kamar lain sendiri, sebelumnya ia bersih keras agar mereka bertiga ditempatkan di satu kamar, namun Anita menolak karena ia tahu Alona tak akan bisa tidur jika bersesak-sesakkan.

Ia mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar itu saat pintu kamar mandi terbuka, Aleeza keluar dari sana dengan pakaian lengkap serta rambut yang basah, "Udah selesai?" Tanya Alona.

"Udah kak.." Aleeza menggosok handuk pada rambutnya agar basa pada rambutnya berkurang, ia kemudian melangkah mendekati Alona dan duduk di tepi tempat tidur.

"Maaf ya kak.. Gara-gara Eza kita harus terjebak di rumah ini." Ucap Aleeza sedih, Alona lantas bangkit untuk duduk dan menghadap pada adiknya.

"Ini bukan salah kamu dan kakak enggak marah atau kesal sama kamu, jadi berhenti minta maaf oke?" balas Alona, Aleeza menatapnya sayu sebelum memeluk kakaknya itu.

"Makasih ya kak selalu ngelindung Eza, makasih juga selalu ngalah buat aku. Eza enggak tau gimana hidup Eza tanpa kakak." Aleeza memeluk Alona erat dan sangat bersyukur memiliki sosok kakak yang pelindung seperti Alona.

"Itu sudah tugas kakak, kamu enggak perlu terimakasih untuk sesuatu yang sudah menjadi kewajiban kakak. Kamu pantas untuk semua hal dan kakak

akan usahakan supaya kamu hidup dalam kebahagiaan selalu, begitu juga mama." Aleeza menangis terharu, kakaknya mungkin dingin dan terlihat seperti seseorang yang tak berberasan tapi sesungguhnya dia adalah seorang yang penuh cinta, peka dan sangat perhatian. Seharusnya orang-orang sadar betapa luar biasanya kakaknya itu.

"Makasi kak.. Makasih banyak." Balas Aleeza penuh haru.

"Sekarang tidur oke, besok pasti akan sangat melelahkan dan kakak butuh tenaga untuk itu," Alona melepaskan pelukannya pada Aleeza dan bergeser untuk memberi ruang pada Aleeza.

Mereka terbaring sembari menatap langit-langit kamar itu, sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Enggak nyangka ya kak kita akhirnya masuk rumah ini. Sama sekali nggak pernah terpikirkan oleh Eza kita bakal masuk ke rumah milik keluarga Domonic," ucap Aleeza.

Alona berpaling menatap Aleeza, ia mengamati adiknya itu sebelum bersuara, "Kamu senang dek?" Tanya Alona.

Aleeza menatap kakaknya, ia ragu harus menjawab apa, "Eum.. Eza enggak tau kak."

Alona hanya dapat tersenyum dan tak berniat melanjutkan pertanyaannya, ia sudah tahu jawabannya. Adiknya hanya tak ingin ia kecewa jika menjawab jujur, ia tahu Aleeza bahagia, ia tak suka tapi ia tidak mungkin melarang adiknya untuk bahagia karena ia sudah berjanji agar adik itu bisa selalu bahagia. Apa pun alasannya.

"Kak.. Pak Andrea itu jahat ya?" Aleeza kembali bersuara dan hal itu membuat Alona kembali membuka matanya.

"Ia dia jahat. Orang yang menyebabkan kita berada di situasi ini adalah dia. Asal mula kehancuran kita berasal dari dia. Dia manusia tak berperasaan dan jahat. Kamu sebisa mungkin menjauh dari dia selama berada di rumah ini. Biar kakak yang menghadapi dia," Jawab Alona, Aleeza hanya mengangguk sebelum memutuskan menutup matanya dan mencoba untuk tidur.
***

Paginya Aleeza bangun lebih awal, rasa gelisahnya membuat gadis itu tak benar-benar bisa tertidur, saat ia berbalik untuk melihat Alona, ia tidak mendapati kakaknya itu di tempatnya, tak berapa lama ia mendengar suara air mengalir sepertinya kakaknya sudah lebih dulu bangun darinya.

Gadis itu turun dari ranjang saat melihat foto-foto kakaknya saat kecil terpajang di sudut atas meja rias. Ada beberapa foto dirinya dan Alona juga yang terpajang di dinding kamar. Aleeza berjalan mendekat untuk melihat foto itu lebih jelas, saat sampai di depan meja rias itu ia berhenti dan mencopot foto itu dari tempatnya, ia lalu tersenyum dan dengan mudah menebak kamar ini dipersiapkan oleh ayahnya untuk kakaknya.

Still The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang