A
lona menatap tajam pada Kenzo, gadis itu tak berbicara hanya menatap pria itu tanpa suara, ia ingin meneriaki pria itu namun ia sudah tak memiliki tenaga. Ia lelah dan sungguh ia tak ingin memulai pertengkaran kembali.
Kenzo melakukan hal yang sama, dia hanya diam dan fokus pada jalanan di depannya. Menyetir dengan tenang, ia tidak menghiraukan Alona dan pandangannya yang tajam.
Hening, sepanjang perjalanan itu Alona tak berniat mengajak Kenzo berbicara. Ia memilih bersandar pada pintu mobil dan menatap keluar jendela, sementara Kenzo terus mencuri pandang pada Alona, ia ingin mengajak bicara gadis itu namun tak tahu harus mengatakan apa. Di tambah hujan yang turun dengan deras membuat keadaan makin tak membaik.
Kenzo kembali melirik pada Alona, sejujurnya akan lebih baik jika gadis itu berteriak-teriak padanya daripada terdiam seperti ini.
"Kita mampir untuk makan. Sejak tadi kamu belum makan kan," cetus Kenzo.
Alona tak menyahutnya, ia tetap terdiam, dalam keheningan itu ia sudah memutuskan untuk mengikuti apa pun yang dilakukan Kenzo, ia lapar dan tak bertenaga jadi dalam situasi ini membantah dan bertengkar bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.
Kenzo melajukan mobilnya menuju sebuah restoran Italia karena restoran itu yang pertama ditemuinya sepanjang perjalanan mereka, ia tidak mungkin
mencari yang lebih jauh, melihat Alona yang diam saja sejak tadi dan wajahnya yang memucat membuat ia sedikit panik.
Setelah memarkirkan mobilnya di pelataran parkir, ia segera turun dan berjalan memutar menuju sisi pintu Alona, ia membukanya dan dengan sigap segera melepas sabuk pengaman gadis itu. Ketika ia hendak menggendong Alona karena berpikir gadis itu tak dapat melangkah, gadis itu dengan kasar mendorongnya dan memilih untuk turun sendiri.
Kenzo mundur dan memberikan Alona jarak agar gadis itu dapat melangkah tanpa harus kawatir disentuh olehnya, walau sejujurnya ingin sekali Kenzo menggendongnya, gadis itu berjalan seperti siput, sangat lambat dan terlihat tengah menahan sakit.
"Kamu baik-baik saja Alona?" Tanya Kenzo.
Alona tak menjawab
Kenzo terdiam di tempatnya memperhatikan gadis itu dengan gelisah, ia sungguh kawatir.
"Lo mau masuk apa enggak? Atau lo mau liat gue pingsan di sini?" Alona berbalik menatap Kenzo yang mematung di belakangnya, Kenzo yang tak menyangka akan diajak bicara lantas segera berjalan dan menghampiri Alona dan tanpa segan memegang lengan gadis itu lalu melangkah ke dalam restoran.
Restoran itu cukup luas dengan dekorasi yang didominasi warna merah gelap membuat restoran itu memiliki kesan hangat serta elegan. Terdapat beberapa lukisan wanita cantik berbaju seperti wanita-wanita bangsawan di era Victoria dan jujur saja lukisan-lukisan itu sedikit banyak membuat Alona tertarik ingin melihat lebih dekat.
Kenzo menuntunnya menuju sebuah meja yang lebih dekat dengan jendela dan satu lukisan secara bersamaan. Ia menatap Alona dan tersenyum. Namun gadis itu terlalu serius menatap pada lukisan untuk menyadari apa yang tengah dilakukan Kenzo, "Kamu mau makan apa? Pasta atau pizza? Atau mau yang lain?" tanya Kenzo.
Alona tetap pada lukisan itu, dan Kenzo mulai bingung bagaimana membuat gadis itu menjawabnya tanpa risiko membangunkan macan tidur di dalam diri gadis itu.
"Alona.. Kamu mau ma.. "
"Terserah!" jawab Alona kasar.
Kenzo kembali tersenyum sembari meringis, ia bersyukur gadis ini Sedikit mau menjinak walau sikapnya masih kasar. Setelah memesan makan, Kenzo kembali menatap gadis itu. Dulu hingga sekarang gadis itu tak pernah berubah jika menyangkut sesuatu yang disukainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still The Same
RomanceWARNING!! Adults Only! Terdapat banyak kata-kata kasar dan adegan kekerasan! Mohon bijaklah memilih bacaan. ** Ketika kau dikhianati oleh dua orang yang kau percaya sekaligus, orang yang dipercaya sebagai cinta pertamamu dan seseorang yang kau yaki...
