"Lo sinting?! Gue enggak mau ke rumah sial itu lagi!" pekik Alona, wajahnya memerah karena emosi sementara Anita dan Aleeza hanya bisa menatap kaget juga bingung mendengar ucapan Alona yang seakan mengatakan dia sudah pernah ke rumah itu sebelumnya.
"Ini pilihan terbaik Al, opa dan ayah kamu enggak mau kalian pergi ke tempat lain karena belum tentu aman untuk kalian. Tempat paling tepat untuk kalian tinggali sekarang adalah kediaman Domonic. Opa dan om Damian pasti akan lakukan terbaik untuk menjaga kalian," jelas Kenzo,
"No, Big no! Mending gue tinggal di sini dan dikelilingi wartawan daripada tinggal di rumah keluarga nggak tau diri itu!" Alona menarik kopernya dan melangkah menuju kamarnya namun sebelum benar-benar mencapai pintu kamarnya, langkah gadis itu berhenti. Kopernya tertarik ke belakang dan berpindah ke tangan Kenzo yang ternyata mengikutinya sejak tadi.
"Jangan egois Alona. Bukan saatnya untuk mengikuti emosi kamu saat ini. Kamu masih beruntung karena kamu tidak diketahui publik dan wartawan-wartawan itu. Tapi Eza? Apa kamu tidak lihat wajah adik kamu tersebar dimana-mana dan masih banyak yang belum percaya dia putri kandung om Damian, mereka masih mengira Eza gadis simpanan dan sekarang tidak ada yang bisa melindungi dia selain keluarga Domonic," jelas Kenzo.
Alona tercenung, ia mengalihkan tatapannya pada adiknya yang menatapnya dengan pandangan sayu dan mata bengkak, ia menghela napas perlahan dan
sadar perilakunya memang egois. Tapi ia tidak sudi harus tinggal di rumah orang-orang itu.
"Kak.. Enggak apa-apa. Kalau kakak maunya di sini, kita di sini aja. Toh juga sama aja kan, wartawannya juga enggak bakal berani masuk sampai ke dalam rumah," Aleeza berucap pelan, ia tersenyum tapi tak sampai di matanya dan hal itu membuat Alona tak tega.
Alona kembali menatap Kenzo yang tengah memandangnya marah, gadis itu akhirnya memutuskan, sekali pun ia membenci orang-orang itu tapi adiknya adalah prioritas.
"Baiklah, gue setuju."
***
"An.. Menurut lo Eza baik-baik aja enggak si? Soalnya kalau dibanding dengan Alona, Eza kayak lebih rapuh. Setiap kali gue liat Eza, dia jelas banget yang paling mudah tertekan," ucap Lia kawatir. Gadis itu masih berada di rumah sakit menemani Any, ia sedang menunggu giliran pulang sampai Ben datang untuk bergantian dengannya menjaga Any.
"Selama dia dijauhi dari TV dan apa pun yang berhubungan dengan dunia luar, gue kira dia bakal baik-baik aja. Tapi yang gue khawatirin Eza kayaknya udah tau dia jadi berita utama sekarang. Wartawan udah mulai nongol di rumah mereka tiga jam dari waktu foto-fotonya sama om Damian kesebar. Gak nyangka gue beritanya jadi sebesar ini," tutur Any. Wanita itu tengah terduduk dengan tangan memegang ponsel, ia membuka beberapa media sosialnya dan menjadi muak karena berandanya dipenuhi berita Damian dan Eza.
"Muak banget gue sama tingkah orang-orang yang suka sok tau. Bisa-bisanya mereka buat kesimpulan sendiri." ia memeriksa komentar di beberapa akun besar di instagramnya, dan merasa kesal sendiri membaca komentarnya.
Lia lantas merebut ponselnya dengan kesal dan menonaktifkan ponsel itu, "Enggak usah dibaca. Enggak sehat buat ibu hamil ngeliat ujaran kebencian yang nggak ada faedahnya sama sekali. Buat capek diri."
"Stop bahas tentang Eza karena saat ini gue butuh penjelasan lengkap mengenai hubungan lo dan Tama. Sampai sekarang gue enggak ngerti gimana lo bisa ketemu sama dia dan apa hubungan cowok berengsek itu sama Angel?" Lanjut Lia. Ia menatap menyelidik pada Any, menuntut untuk diberi penjelasan karena jujur saja otak sederhananya belum mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Any tercenung, ekspresi wajahnya berubah muram dan nampak enggan membahas masalahnya dengan Lia, namun ia tak punya pilihan karena Lia bukan tipe orang yang akan mudah menyerah, "Emang apa yang mau lo tau? Bukannya gue udah cerita semuanya ya," balas Any.
"Lo nggak sama sekali cerita An, gue enggak ngerti kenapa lo bohong sama kita kalau ternyata dia bukan cowok asing yang secara random lo tidurin. Lo ngaku ke kita kalau dia itu cowok asing tapi kenyataannya enggak. Lo udah kenal dia lama. Dia sama sekali bukan cowok asing." Any membuang wajahnya ke samping, enggan menatap Lia.
"Kenyataanya dia emang cowok asing. Kita emang udah kenal dari SMP tapi enggak pernah tatap muka sampai gue tidur sama dia, kita cuman berhubungan lewat email dan lebih mirisnya selama gue dan dia bertukar email, dia mengira gue Angel bukan Any. He was my twin sister's first love." Any menjelaskan sembari termenung, pikirannya menjelaja kembali ke masa remajanya.
"Lalu?" tanya Lia lagi.
"Lo tau kan dari lahir Angel sakit-sakitan. Jadi dia dan Tama ketemu saat Angel ke rumah sakit buat check up. Cuman pertemuan singkat yang berakhir saling bertukar alamat email. Sayangnya lagi baru sekali mereka bertukar pesan lewat email, sakit adek gue tambah parah. Dia makin lemah dan harus rawat inap di rumah sakit, dan dari saat itu lah gue diminta sama Angel untuk gantiin dia bertukar pesan sama Tama." Any tersenyum miris untuk dirinya sendiri, sementara Lia hanya dapat mematung menatap Any dengan iba.
"Awalnya gue cuman sebagai tangan pengganti buat saudari kembar gue, karena Angel suka banget sama Tama dan dia enggak mau sampai kehilangan kontak dengan cowok itu. So setiap hari gue akan bertukar pesan sama Tama, sekali pun Angel enggak sadarkan diri gue akan dengan rutin tetap kirim pesan ke cowok itu karena gue enggak mau buat Angel kecewa saat dia bangun dan tahu udah enggak pernah bertukar kabar sama cowok itu lagi." Lia bergerak menaiki tempat tidur Any dan ikut berbaring di sebelahnya sembari memeluk gadis yang terlihat sangat rapuh itu.
"Setiap hari gue ceritain hal apa pun sama Tama sembari nunggu Angel sadar, dan setiap adek gue itu sadar gue akan ceritain ulang ke dia apa aja yang udah gue obrolin sama si Tama." Any menjeda ucapannya, mengingat kembali ekspresi bahagia Angel setiap kali dia menceritakan isi obrolannya dengan Tama.
"Dia bahagia banget saat itu Li.. Walau cuman senyuman lemah yang Angel perlihatkan ke gue tapi gue tau gimana senangnya dia, matanya nggak bisa bohong, dan dia bersih keras agar Tama enggak boleh tau kalau dia sakit keras, dia mau Tama mengingat dia sebagai gadis ceria yang sehat bukan cewek sakit-sakitan yang lemah. Sampai suatu hari keadaan Angel makin parah dan hari itu datang, hari dimana dokter mengatakan dia udah enggak bisa tertolong lagi." mendengar itu mata Lia berkaca-kaca, sekuat tenaga ia menahan air matanya.
"Dia sekarat Li.. Tapi semangatnya enggak pernah luntur. Gue ingat saat itu dia manggil gue untuk duduk di dekat dia. Angel buat gue berjanji satu hal sama dia. Angel mau gue untuk gantiin dia dekat sama Tama, dia mau apa pun yang terjadi gue harus tetap kontakan sama Tama, karena dia enggak mau Tama sedih, jadi dia buat gue janji untuk jadi dia dan selamanya jadi sahabat cowok itu. Sayangnya dunia enggak sesederhana itu Li.. Angel dan gue berbeda, sekali pun kita punya rupah yang sama. Saat akhirnya Angel meninggal, gue terpukul banget dan berhubungan dengan Tama memperburuk keadaan gue, sampai akhirnya gue memutuskan untuk berhenti ngirim dan balas pesan ke Tama dan hal itu berlangsung satu tahun." Any kembali terdiam, dan hal itu membuat Lia menjadi tak sabaran untuk mendengar kelanjutannya.
"Lalu?" Tanya Lia pelan.
"Gimana pun gue udah janji sama Angel dan janji itu enggak boleh di langgar, ditambah Tama yang enggak pernah menyerah untuk ngirim pesan. Akhirnya saat gue masuk SMA gue kembali berhubungan sama Tama hingga beberapa bulan lalu kita memutuskan untuk ketemu dan semenjak itu semua hal terjadi dengan cepat. Gue jadi lupa diri. Gue udah jatuh cinta sama dia sejak lama dan semakin parah saat kita bertemu, gue berakhir tidur sama dia dan memutuskan pada akhirnya untuk jujur sama dia tentang semuanya tapi satu hal yang gue lupa. Gue lupa kalau yang dia cintai itu Angel bukan gue, cewek yang buat dia jatuh cinta pada pandangan pertama adalah Angel bukan gue dan kebohongan yang udah gue lakuin bertahun-tahun udah nyakitin dia." Any terdiam, keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat.
"Tapi kan lo enggak salah An. Angel yang minta lo untuk jadi dia, semua itu bukan keinginan lo," Seru Lia. Gadis itu merubah posisinya menjadi duduk dan berbalik menatap Any.
"Sayangnya Tama enggak mau denger penjelasan gue Li. Dia udah emosi duluan saat penjelasan gue belum kelar, yang dia tahu cuman Angel yang meninggal dan gue yang berpura-pura jadi Angel. Sisanya nggak mau dia
dengar karena setelahnya dia pergi gitu aja setelah ngamuk," Jelas Any, ia ikut duduk dan menatap pada Lia yang sudah menangis sejak tadi.
"Miris ya hidup gue Li. Gue lelah.. Tapi gue enggak bisa berbuat apa-apa, gue enggak tahu harus bagaimana apa lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Still The Same
RomanceWARNING!! Adults Only! Terdapat banyak kata-kata kasar dan adegan kekerasan! Mohon bijaklah memilih bacaan. ** Ketika kau dikhianati oleh dua orang yang kau percaya sekaligus, orang yang dipercaya sebagai cinta pertamamu dan seseorang yang kau yaki...
